in , ,

Grasberg, Riwayatmu Kini

Tambang Terbuka Grasberg kini sudah tak berkilau. Masa keemasan akan berpindah ke tambang-tambang bawah tanah di perut bumi. Saya beruntung, bisa berkunjung ke Grasberg, tambang tertinggi di Indonesia, sebelum tambang ini benar-benar ditutup.

Saya menjepit cuping hidung dengan jari, lalu perlahan menekan napas. Pop! Sedikit udara keluar melalui telinga. Kuping ini berhenti berdengung.

Trem gantung yang saya tumpangi terus membawa saya naik. Merambat lambat di kabel yang membentang jauh ke ketinggian 3.574 meter di atas permukaan laut, melintasi Barisan Pegunungan Sudirman di Mimika, Papua.

Dari ketinggian ini, saya bisa melihat para pekerja dan alat-alat berat yang tengah beraktivitas di bawah terlihat seperti maket yang dibuat dengan sangat detail, lengkap dengan efek kabut buatan.

Trem ini lebih terlihat seperti kotak besi dan kaca berukuran raksasa yang bisa memuat puluhan orang. Saya, bersama dengan para karyawan PT Freeport Indonesia, berada di dalamnya untuk menuju salah satu tambang emas dan tembaga terbesar di dunia, Grasberg.

Semakin tinggi trem membawa saya naik, semakin tebal kabut menutup pemandangan hingga tak terlihat apa-apa dan akhirnya trem berhenti.

2019-05-01 11143512719402272966..jpg
Jalur trem berusia 30 tahun yang saya lintasi untuk menuju kawasan pertambangan tembaga dan emas Grasberg.

Udara dingin langsung menyergap masuk ketika pintu trem dibuka di Terminal EB.  Jari saya menarik resleting jaket lebih tinggi agar menutupi leher. Suasana di sini sangat berbeda dari suasana yang saya lihat selama dua pekan terakhir tinggal di Tembagapura.

Tembagapura adalah sebuah distrik (kecamatan) yang tertata dan hijau. Barak-barak karyawan PT Freeport Indonesia, bangunan perkantoran, serta sarana-sarana seakan dipagari oleh bukit-bukit hijau yang menjulang curam. Seperti habitat bangsa Na’vi di film Avatar.

Namun suasana di atas sini, ada satu frasa yang paling tepat untuk menggambarkan suasananya: sinematik industrial. Anda tahu? Seperti potongan adegan kelam di film-film perang.

Saya bersama 40 orang peserta Wisata Tambang Grasberg lainnya berjalan menanjak di jalur setapak. Bangunan dengan fasad berwarna cerah yang berderet di sepanjang jalan seakan gagal membawa kesan meriah, suasana tetap kelam dan terkesan dingin.

Salah satu bangunan yang mencolok perhatian dari jauh adalah bangunan kecil dengan simbol salib menjulang tinggi, lebih tinggi dari bangunan-bangunan seng di sekitarnya: gereja yang berselimut kabut. Lengkap sudah imajinasi saya tentang abandoned mining site.

img_20190428_083437_6387789861383146304653.jpg

Para peserta Wisata Tambang Grasberg melanjutkan perjalanan menuju moda transportasi berikutnya.

Wisata Tambang Grasberg adalah salah satu aktivitas yang rutin digelar, setidaknya sebulan sekali, oleh Departemen Quality of Life PT Freeport Indonesia.

Kegiatan ini diadakan sebagai penyegaran bagi karyawan PT Freeport Indonesia sendiri, para karyawan perusahaan yang bekerja di pegunungan terpencil di timur Indonesia. Selain karyawan, para tamu dan visitor pun diperkenankan mengikuti wisata ini setelah dinyatakan layak oleh tim medis.

Kami berhenti berjalan di ujung jalan, di sebuah area yang cukup lapang untuk kendaraan-kendaraan besar parkir. Kontainer-kontainer raksasa berwarna cerah yang telah berkarat tersusun rapi di sisi area lapang. Di belakangnya, sebuah bukit batu kelabu yang dilapisi sedikit rumput menjulang tinggi.

Sambil menunggu bus menjemput, rombongan mulai berpencar mencari titik terbaik untuk berfoto. Ketika kabut mulai menipis, saya mulai bisa melihat hal yang sebenarnya dituju oleh para pemburu foto di sini. Tambang Erstberg, tambang pertama PT Freeport Indonesia di Papua.

Sudah tak ada lagi aktivitas penambangan di Erstberg kini. Erstberg (atau Gunung Bijih) yang ditemukan oleh Jean-Jacques Dozy, seorang geolog berkebangsaan Belanda pada tahun 1936 ini sudah beristirahat.

Semua aktivitas penambangan telah beralih ke Grasberg—tempat yang akan kami tuju dalam perjalanan ini—setelah cadangan tembaga dan emas Erstberg habis pada tahun 1989.

1060453-016828813915784334292.jpeg
Erstberg tak lagi dikeruk, meninggalkan cekungan besar.

Kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus berwarna abu-abu menuju ketinggian 4.285 meter di atas permukaan laut, tambang Grasberg. Perjalanan bus kali ini lebih singkat jika dibandingkan perjalanan kami pagi tadi.

Mungkin hanya sekitar 20 menit, bus sudah berhenti menurunkan kami di tambang terbuka Grasberg. Demi apa pun juga, saya belum pernah menemukan panorama semacam ini di mana pun di Indonesia.

Pemandangan di sini agak surreal. Seperti disunting dengan VSCO! Bebatuan kelabu kelam menghampar sejauh saya memandang, berujung pada barisan gunung berpucuk putih yang terlihat menyundul langit. Angin kencang acap kali bertiup dari arah pegunungan, ikut membawa udara dingin yang menyelinap ke balik jaket saya.

Pada beberapa area di sekitar tambang, nampak bagian yang mulai menghijau. Area ini adalah wilayah reklamasi yang dilakukan untuk membantu memulihkan wilayah yang terdampak kegiatan pertambangan.

“Kalau langit lagi cerah, kita bisa lihat puncak Carstensz,” kata kawan saya, Maxmesser Rumbiak, menunjuk ke arah Puncak Jaya yang berselubung kabut. Ucapan kawan saya itu yang jadi motivasi terbesar saya berencana kembali ke Grasberg. Saya ingin melihat salah satu puncak tertinggi dunia. Cita-cita yang nanggung.

Tak banyak aktivitas yang terlihat di ceruk selebar 4 kilometer ini. Sepi. Hanya beberapa kendaraan saja yang nampak lalu lalang di bawah. Bisa dihitung dengan jari.

Pada dinding dalam tambang ini terukir jalan spiral menuju dasar ceruk di kedalaman lebih dari 1.000 meter. Dalam sekali. Jika gedung tertinggi di dunia, Burj Kalifa, ditumpuk dengan gedung tertinggi di Indonesia, Gama Tower, di dasar ceruk ini, mungkin atapnya baru akan berada sejajar dengan permukaan tanah tempat saya berdiri.

Beberapa tahun silam, tambang ini bisa dibilang pusat aktivitas pertambangan PT Freeport Indonesia. Namun kini, perusahaan yang sudah bergabung dengan MIND ID, holding perusahaan tambang milik negara, ini telah mengalihkan aktivitas pertambangannya ke perut bumi, ke tambang-tambang bawah tanah di Papua dengan kedalaman lebih dari 1.500 meter di bawah permukaan tanah.

LRM_EXPORT_117864376126279_20190428_170922765.jpeg
Tambang Terbuka Grasberg di ketinggian 4.285 meter di atas permukaan laut.

Tambang bawah tanah ini juga yang ingin sekali saya datangi di kemudian hari, tambang bawah tanah yang diklaim sebagai yang terbesar dan terkompleks di dunia. Semoga saat saya kembali ke sana, langit sedang cerah dan kondisi fisik ini sedang bugar agar saya bisa melihat Puncak Jaya dan tidak diinapkan di rumah sakit lagi setelah kembali ke Tembagapura.

Amanai!

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

geliat-“ultralight-backpacking”-di-indonesia

Geliat “Ultralight Backpacking” di Indonesia

3-rencana-perjalanan-setelah-pandemi-selesai

3 Rencana Perjalanan setelah Pandemi Selesai