“Gitu Aja Kok Repot” ala Einstein

by -8 views
“gitu-aja-kok-repot”-ala-einstein

Dalam menyikapi kritik, Albert Einstein pernah memberikan satu contoh yang sangat baik: Pasca Einstein mempublikasikan teori relativitas khusus di tahun 1905 dan umum di tahun 1916, ia menerima banyak kritik dalam sebuah buku berjudul “Hundert Autoren Gegen Einstein” (Seratus Penulis Melawan Einstein) yang diterbitkan tahun 1931.

Judulnya memang mencantumkan angka 100, namun buku ini ternyata berisi koleksi tulisan pendek dan berbagai arsip publikasi dari hanya 47 penulis. Tentu saja jumlah 53 orang sisanya terbilang banyak untuk menggenapi angka 100. Muncul masalah pertama.

Tidak tanggung-tanggung, mayoritas penulis ini memiliki berbagai gelar akademis seperti doktor bahkan profesor. Tapi hanya satu yang ahli dalam bidang fisika dan tiga lainnya ahli matematika. Sisanya, yang justru mayoritas, entah berlatar belakang apa.

Keempat ahli fisika dan matematika inipun memberi kritik semata-mata karena tidak mengetahui kegunaan teori ini – sama sekali bukan hal yang substantif, apalagi membicarakan sebuah teori baru di dunia sains. Jadilah ini masalah kedua.

Goenner lebih galak. Ia mengatakan bila para kritisi Einstein itu justru dengan gamblangnya sedang mempertontonkan ketidaktahuan (kalau tidak boleh dibilang kebodohan) para mereka tentang fisika dan matematika. Dua bidang yang jelas-jelas dibutuhkan untuk memahami teori tersebut. Sampailah kita di masalah ketiga.

Ketidakpahaman tersebut menjadikan puluhan kritik itu sebagai sebuah tontonan komedi bagi banyak pihak. Meski sepertinya tidak ada satu pun dari ke-47 penulis itu berniat demikian.

Uniknya, Einstein justru tak memandang ketiga masalah itu sebagai masalah. Buktinya, sebagaimana ditulis Stephen Hawking dalam A Brief History of Time, ia menanggapinya dengan enteng saja:

“(Lho), kalau memang (teori) saya salah, (tak perlu repot-repot mengumpulkan seratus orang), satu orang saja cukup.”

Tentu satu orang yang dimaksud Einstein adalah seorang yang otoritatif dalam menghasilkan hasil eksperimen atau observasi yang tidak sesuai dengan prediksi teorinya.

Dan otoritas ini tentu sulit dibayangkan (meski kemungkinan itu tetap ada walaupun kecil) datang dari seorang komedian yang tak paham fisika dan matematika.

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *