Gejalanya Mirip, Tipes dan COVID-19 Berhubungan?

by -2 views
gejalanya-mirip,-tipes-dan-covid-19-berhubungan?

Mayoritas gejala COVID-19 memang merupakan gangguan di saluran pernapasan. Namun, ada juga yang mengalami masalah di pencernaan seperti mual muntah dan diare. Keduanya pun sama-sama menyebabkan demam tinggi.

Karena gejala-gejala tersebut, infeksi virus SARS-CoV-2 sering dianggap sebagai tipes atau sebaliknya bila tidak diketahui tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Kasus Kemiripan Diagnosis Tipes dan COVID-19

Salah satu studi yang dipublikasikan dalam BMJ Case Report (2020) pernah membahas kemiripan tipes dan infeksi virus corona.

Penelitian yang berjudul Murine Typhus Mistaken for COVID-19 in a Young Man itu melaporkan, kemiripan antara tipes dan COVID-19 bisa menyebabkan keterlambatan diagnosis dan pengobatan pasien.

Dalam studi tersebut, tipes yang dialami pasien ternyata bukanlah demam tifoid biasa (akibat Salmonella typhi). Penyakitnya adalah murine typhus dan disebabkan oleh Rickettsia typhi.

Ciri-ciri tipes (tifoid) dan murine typhus sama, yaitu demam tinggi, sakit kepala, dan myalgia (nyeri otot). Karena gejalanya juga mirip dengan COVID-19, penyakit tersebut akhirnya sering disalahartikan.

Meski murine typhus umumnya ringan dengan prognosis (tingkat kesembuhan) yang baik, tetap ada laporan efek parah dan kematian pada pasien. Karena itulah, peneliti mengharapkan agar dokter lebih waspada terhadap kasus seperti ini.

Artikel Lainnya: Waspadai, 4 Penyebab Tifus yang Sering Disepelekan

Hal tersebut terjadi pada seorang pria asal California, Amerika Serikat, yang mengalami sakit kepala selama dua minggu dan demam.

Karena ia sakit seperti itu di masa pandemi, ia pun melakukan tes PCR. Bukan hasil positif yang didapat, justru hasil negatiflah yang muncul.

Beberapa hari kemudian, gejala yang dialami pria tersebut memburuk. Tubuhnya semakin nyeri dan timbul gangguan pencernaan.

Napasnya pun pendek-pendek sehingga harus segera dilarikan ke rumah sakit. Untuk kedua kalinya, ia mendapatkan tes PCR. Hasilnya masih sama, yaitu negatif.

Hari-hari selanjutnya juga masih demikian. Bahkan, pria tersebut sampai mengalami sakit pinggang dan demamnya mencapai 39,9 derajat Celsius.

Karena gejalanya kian memburuk padahal hasil PCR-nya negatif dua kali, dokter melakukan pemeriksaan lain.

Hasilnya, ia terinfeksi Rickettsia typhi dan diobati dengan antibiotik doksisiklin selama dua minggu penuh. Bakteri tersebut biasanya dibawa oleh kutu yang sudah terinfeksi lebih dulu.

Mengingat pria tersebut berprofesi sebagai pelatih anjing, risiko terinfeksi penyakit tipes itu memang lebih tinggi.

Artikel Lainnya: Hati-hati, Penyakit Tifus Rentan Membuat Stres

Bagaimana Hubungan antara Tipes dan COVID-19?

Dokter Devia Irine Putri menegaskan, sebenarnya tidak ada hubungan antara penyakit tipes dan COVID-19. Sebab, tipes merupakan infeksi bakteri, sedangkan COVID-19 adalah infeksi virus.

Gejala COVID-19 mirip tipes karena virus corona juga bisa memperbanyak diri di saluran pencernaan manusia. Akibatnya, mual, muntah, dan diare dapat terjadi.

Selain itu, penularan virus corona terjadi lewat droplet. Sedangkan, tipes ditularkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri.

Kendati tidak berhubungan, satu orang tetap dapat terinfeksi dua penyakit tersebut secara bersamaan.

“Ya, kondisi seperti itu sangat mungkin. Daya tahan tubuh orang yang sedang sakit tipes rendah, sehingga ia lebih mudah terinfeksi virus, termasuk virus corona. Entah dari keluarganya atau teman yang jenguk, ia tertular. Akhirnya, ia kena dua penyakit sekaligus,” jelas dr. Devia.

Artikel lainnya: Wajib Tahu, Ini Organ Tubuh yang Terdampak Virus Corona

Perbedaan gejala COVID-19 dan tipes bisa dilihat dari gangguan pernapasan yang kadang menyertai. Beberapa contohnya seperti sesak napas, kehilangan kemampuan mencium dan mengecap rasa, serta batuk kering.

Meski gejala COVID-19 mirip tipes, pemeriksaan PCR dan cek sampel darah untuk melihat ada atau tidaknya bakteri tipes bisa membantu diagnosis lebih tepat.

Ketika tanda-tanda sudah muncul, ada baiknya kedua tes tersebut langsung dilakukan. Jika keduanya positif, maka dua pengobatan sekaligus bisa diberikan kepada pasien.

Saat pasien terinfeksi COVID-19, banyak makan makanan bergizi memang bisa membantu mempercepat proses penyembuhan.

Di sisi lain, jika pasien juga kena tipes, maka ada banyak pantangan makanan yang wajib dipatuhi agar saluran pencernaannya tidak semakin sakit. Lalu, bagaimana solusinya?

Dokter Devia menerangkan, “Kalau dari segi makanan, pasien bisa makan sedikit demi sedikit, apalagi kalau mual muntah masih mengganggu. Tidak harus sekali makan porsinya banyak. Yang penting, makanan yang dikonsumsi ada gizinya, terutama protein dan karbohidrat.”

“Hindari makanan berminyak, asam, dan pedas karena mengganggu saluran cerna. Makan yang lunak seperti bubur, nasi tim, tidak masalah. Lama-lama, baru pasien beralih ke makanan padat. Perhatikan asupan cairan juga selain air putih. Jus, sup, dan air kaldu boleh diberikan,” tambahnya.

Untuk menentukan diganosis penyakit yang tepat, disarankan segera berkonsultasi ke dokter. Jadi, pengobatannya bisa lebih tepat dan cepat dilakukan.

Kalau Anda ingin konsultasi ke dokter lebih cepat, gunakan layanan LiveChat di Klikdokter hanya lewat smartphone.

(FR/AYU)

Leave your vote

554 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia #RumahBlogInspirasi #KabarWarga #MenabarInformasiAntiBasi Official Kabarwarga

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *