in

Foto Kenangan Madrasah Pancasila NU di Tambakberas Jombang

Selama ini sering beredar foto sejumlah pelajar berpose dengan latar belakang gedung madrasah menggunakan papan nama bertuliskan “Madrasah Panjta Sila Nahdlatu Ulama.” Apakah foto itu benar demikian adanya atau hasil suntingan belaka? Kalau memang benar, lantas di mana lokasi madrasah tersebut? Berikut ini kabarwarga.com akan mengurainya lebih lanjut.

Melalui postingan di laman Facebook-nya Dr KH Ainur Rofiq Al Amin (Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang) mengunggah foto tersebut yang dilengkapi dengan keterangan serta foto aslinya, pada Senin, 1 Juni 2020 yang bertepatàn dengan Peringatan Hari Lahir Pancasila. Menurut dia, gedung madrasah dalam foto itu berlokasi di Pondok Peaantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Denga judul artikel “Foto Kenangan Madrasah Pancasila NU di Tambakberas Jombang,” Ainur Rofiq lalu menyampaikan uraian sebagai berikut:

“Berdasar cerita dari Gus Maimun Mutho (cucu Mbah Kiai Hamid Chasbullah yang saat ini menjadi salah satu pengasuh PP. Mambaul Ulum Paiton) bahwa foto paling kanan itu adalah almarhum KH. Irsyad Thohir Mindoan abahnya Gus Maimun (KH. Abdulloh Abu Hasan). Rumah KH. Irsyad Thohir yang wafat di Makkah ini berada di Sukodadi, Paiton, Probolinggo, (Jawa Timur).”

Diungkapkan pula, bahwa KH Irsyad Thohir adalah alumni Pondok Pesantren Tambakberas pada sekitar tahun 1955 – 1957. Adapun lokasi pengambilan gambar foto tersebut di sebelah barat kediaman KH Abdul Wahab Chasbullah pemrakarsa dan pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

“KH. Irsyad Thohir alumni Tambakberas sekitar tahun 1955-1957. Setelah Mbah Hamid Chasbullah wafat, beliau boyong. Kata KH. Irsyad Thohir kepada Gus Maimun, foto itu lokasinya di barat ndalemnya (rumah) Mbah Kiai Wahab,” lanjut Ainur Rofiq di laman Facebook-nya.

Keterangan dalam Facebook tersebut kemudian dipublikasikan di situs berita Bangkitmedia.com (1/6/2020).

Di dalam situs media itu setelah mengurai keterangan seperti diungkap di atas Ainur Rofiq manambahi kalimat:

“Saya tidak perlu menjelaskan bagaimana ikatan pikiran dan batin antara santri, Pancasila dan Nahdlatul Ulama. Silakan lihat foto itu saja.”

Masih di media yang sama, dia lalu memberi sub judul: MADRASAH PANTJASILA NU TAMBAKBERAS (2).

Di bawah sub judul ini, diterangkan adanya foto asli dari foto yang telah umum berdear tersebut serta satu foto lagi di lokasi yang sama. Menurut Ainur Rofiq foto asli itu kiriman dari Gus Maimun.

“Masih dari kiriman Gus Maimun, dua foto ini asli dan disimpan di rumah Gus Maimun,” terangnya lalu menampiikan dua foto yang dimaksud.

“Foto pertama, yang sebelah kanan adalah KH. Khoiri (alumni Tambakberas), kakaknya KH. Abdulloh Abu Hasan. Lokasi juga di depan Madrasah Pantja Sila,” tulis Ainur Rofiq.

Foto tersebut adalah koleksi dari KH. Maimun Mutho, pengasuh Pesantren Mambaul Ulum, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Ia tak lain adalah cucu dari KH. Abdul Hamid Chasbullah yang tak lain adalah adik kandung KH. Abdul Wahab Chasbullah.

Kiai Maimun mendapatkan foto tersebut dari keluarganya. Foto yang paling kanan (lihat foto di atas) masih familinya yang bernama KH. Irsyad Thohir dari Desa Sukodadi, Paiton, Kabupaten Probolinggo. Kiai Irsyad sendiri merupakan mindoan (duapupu/kakek atau nenek keduanya memiliki hubungan adik kakak) dari ayahanda Kiai Maimun yang bernama KH. Abdullah Abu Hasan.

Kiai Thohir sendiri pernah mondok di Pesantren Tambakberas yang kala itu dipimpin oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah. Ia nyantri pada tahun 1955-1957. Di pesantren tersebut, kiai yang wafat di Mekkah kala menunaikan ibadah haji tersebut, juga bersekolah di “Madrasah Pantja Sila Nahdlatul ‘Ulama” yang fotonya sedang kita bicarakan ini. Madrasah yang didirikan Kiai Wahab itu berada di sisi barat kediaman sang pendiri NU itu.

Sebenarnya, selain foto yang tersebar luas itu, ada foto lain yang dikoleksi oleh Kiai Maimun. Setting tempatnya sama. Sayangnya, papan nama madrasah tersebut hanya terlihat sedikit. Ada tiga orang santri yang berpose di bawahnya.

Yang berdiri di sebelah kanan adalah Kiai Khoiri, alumnus Pesantren Tambakberas. Kiai Khoiri sendiri tak lain adalah kakak kandung dari KH. Abdullah Abu Hasan, ayahanda Kiai Maimun.

Menurut Nyai Khoiriyah –istri mendiang Kiai Khoiri– suaminya tersebut mondok di Tambakberas sedari 1948 hingga lulus Mualimin. Jika foto tersebut diambil semasa Kiai Khoiri nyantri, bisa jadi madrasah tersebut telah berdiri sejak sebelum 1955.

Sebagaimana diketahui pada 1956-1959, NU sempat menolak Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dalam perdebatan di sidang Konstituante. Hal tersebut dilakukan demi mengamankan Pancasila dari monopoli penafsiran sebagaimana yang dikehendaki oleh PKI. PKI kala itu, berkoalisi dengan PNI untuk menggolkan Pancasila sebagai dasar negara. Sedangkan NU sendiri mengusulkan Islam sebagai dasar negara, meskipun secara prinsipal berbeda dengan usulan Masyumi yang juga sama-sama mengusulkan Islam sebagai dasar negara Republik Indonesia.

Perdebatan di sidang Konstituante itu, memang berakhir nihil. Karena tak kunjung menghasilkan keputusan, akhirnya oleh Presiden Soekarno, majelis tersebut dibubarkan. UUD 1945 yang di dalamnya terdapat butir-butir Pancasila kembali ditetapkan sebagai dasar negara. Dengan keputusan tersebut, NU berhasil menjalankan dua misinya sekaligus. Menggagalkan upaya PKI menunggangi Pancasila, sekaligus menganulir gagasan negara Islam yang theokratis ala Masyumi. Indonesia tetap berasaskan Pancasila yang kompatibel dengan nilai-nilai Islam sebagaimana keyakinan NU.

Jadi, bisa dipastikan madrasah tersebut, berdiri jauh sebelum 1955 itu. Perlu penelusuran lebih lanjut.

“Foto kedua, adalah sama dengan foto yang telah saya unggah tadi,” terangnya yang dipungkas dengan kalimat, “Demikian Foto Kenangan Madrasah Pancasila NU di Tambakberas Jombang.”————

Dari bukti foto bersejarah tersebut di atas menunjukkan betapa NU dan para kiainya adalah para tokoh yang setia dalam mencintai dan mengamalkan Pancasila sebagai dasar Nengara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan hanya isapan jempol atau sekedar basa-basi semata, bahkan lembaga pendidikannya pun diberi nama “Madrasah Pancasila Nahdlatul Ulama.”

Lantas, bagaimana dengan sikap sebagian orang yang tidak pernah ikut berjuang tetapi di hari ini malah mengacuhkannya bahkan anti terhadap Pancasila?

Demikian Foto Kenangan Madrasah Pancasila NU di Tambakberas Jombang.

Penulis: Dr KH Ainur Rofiq Al Amin, Pesantren Tambakberas Jombang.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0
dihina-jadi-sopir-raffi-ahmad,-dorce-gamalama-siap-lapor-polisi

Dihina Jadi Sopir Raffi Ahmad, Dorce Gamalama Siap Lapor Polisi

rossa-bicara-soal-lagu-hati-yang-kau-sakiti-versi-korea,-simak-liriknya

Rossa Bicara Soal Lagu Hati Yang Kau Sakiti Versi Korea, Simak Liriknya