32.8 C
Jakarta
Thursday, May 19, 2022

Fatimah an-Naisaburiyah; Guru Tasawuf Wanita Imam Dzun Nun al-Mishri dari Khurasan | Bincang Syariah

IslamiFatimah an-Naisaburiyah; Guru Tasawuf Wanita Imam Dzun Nun al-Mishri dari Khurasan | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– Artikel ini akan membahas sosok Fatimah an-Naisaburiyah. Seorang sufi perempuan. Yang juga guru tasawuf wanita imam Dzun Nun al-Mishri dari Khurasan. Sosok ini melengkapi khazanah pengetahuan kita terhadap ulama sufi, selain Rabi’ah Al Adawiyah.

Sebagaimana beberapa tulisan sebelumnya, bahwa dalam hal keilmuan, sosok laki-laki keluar sebagai garda terdepan dalam urusan intelektualitasnya. Mereka laksana pasukan pemanah dalam perang yang sudah siap ada di barisan terdepan untuk menyerang dan menghabiskan musuh-musuh di depannya.

Sebagaimana para ulama laki-laki yang juga sudah siap untuk menghabiskan segala persoalan tentang agama yang dihaturkan kepadanya.

Namun, yang memiliki peran dalam ajaran Islam tidak hanya seorang laki-laki. Banyak wanita salehah yang tumbuh sebagai sosok ahli ilmu yang menguasai banyak ilmu, hingga darinya mampu melahirkan murid-murid hebat yang sangat berkualitas. Di antaranya adalah Fatimah an-Naisaburiyah.

Dalam catatan Imam Abdul Karim at-Tamimi, Fatimah an-Naisaburiyah merupakan sosok wanita yang salehah, menjaga diri akan kehormatannya, menjaga aurat dan segala kewajibannya, ahli ilmu, banyak melakukan kebaikan, sekaligus wanita ahli tasawuf. (at-Tamimi, at-Tahbiru fi Mu’jami al-Kabir, [Baghdad, Diwanul Auqaf: 1975], juz II, halaman 429).

Sejak kecil, Fatimah an-Naisaburiyah ada di bawah bimbingan kedua orang tuanya. Ia dikenal sebagai sosok wanita pemalu yang tidak banyak berkata, apalagi berkaya. Namun jika perihal pengetahuan, ia adalah sosok paling pemberani untuk bertanya dan belajar kepada siapa saja yang bisa mengajarinya.

Ia sangat sadar betapa pentingnya ilmu pengetahuan sebagai bekal beribadah dan bekal hidup selama  di dunia. Dengan berilmu, ia akan tahu antara yang benar dan salah, antara yang boleh dengan yang dilarang. Sebaliknya, tanpa pengetahuan justru akan menerobos dan melanggar semua aturan-aturan dalam ajaran Islam.

Tidak ada catatan secara khusus perihal kelahirannya, namuna yang pasti, sebagaimana yang ditulis oleh Imam Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya, Shifatu as-Shafwah mengatakan, bahwa Fatimah an-Naisaburiyah memiliki kebangsaan Khurasan. Ia lahi sebelum masa Imam Dzun Nun al-Mishri dan Imam Abu Yazid al-Busthami.

Sebagai wanita salehah, tentu ia tidak banyak keluar dan tampil di ruang publik secara umum, baik sebagai dai, atau penceramah sekali pun. Sebab, ia menyadari bahwa orang yang berilmu harus di datangi, bukan mendatangi.

Oleh karenanya, para ulama tidak banyak mencatat perihal rihlah intelektualitas dan kehidupan dalam kesehariannya. Sebab, selain menjauh dari keramaian manusia, ia fokus perihal urusan spiritual dengan mendekatkan diri kepada Allah. Hanya saja, ia juga tidak menolak manakala ada orang-orang yang hendak belajar kepadanya.

Pujian Para Ulama Kepadanya

Imam Abdurrahman bin Khalid al-Azdi as-Sulami, dalam salah satu kitabnya sangat memuji Fatimah an-Naisaburiyah. Bahkan menurutnya, tidak ada satu orang wanita pun yang bisa menandinginya, baik dalam pengetahuan, spiritualitas dan lainnya;

لَمْ يَكُنْ فِي زَمَانِهَا فِي النِّسَاءِ مِثْلَهَا

Artinya, “Tidak ada pada masanya (Fatimah an-Naisaburiyah) perempuan yang sepertinya.” (Imam Abdurrahman al-Sulami, Thabaqat as-Shufiyyah wa yalihi Dzikr an-Niswah al-Muta’abbidat al-Shufiyyat, [Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah: 2003], juz I, halaman 400).

Selain pujian di atas, Imam Abu Yazid al-Busthami juga pernah ikut berkomentar tentangnya. Bahkan, ia sangat menghormati keilmuan dan spiritualitas Fatimah al-Naisaburiyyah. Ia mengatakan:

مَا رَأَيْتُ فِي عُمْرِي إِلَّا رَجُلًا وَامْرَأَةً، فَالْمَرْأَةُ كَانَتْ فَاطِمَةَ النَّيْسَابُوْرِيَّةِ، مَا أَخْبَرْتُهَا عَنْ مَقَامٍ مِنَ الْمَقَامَاتِ إِلَّا وَكَانَ الْخَبَرُ لَهَا عَيَانًا

Artinya, “Aku tidak melihat (atau mengagumi seorang pun) di (sepanjang) umurku kecuali (untuk) seorang laki-laki dan wanita. Wanita (itu) adalah Fatimah an-Naisaburiyah. Tidak ada maqam dari banyaknya maqam yang telah kusampaikan kepadanya melainkan ia telah mengalaminya (sendiri)” (as-Sulami, Thabaqat as-Shufiyyah, 2003, h. 400).

Selain dua ulama tasawuf tersohor di atas, ada juga ulama tasawuf yang sangat memuliakannya, bahkan menjadikannya sebagai guru, yaitu Imam Dzun Nun al-Mishri. Ia menganggapnya sebagai guru. Namun, hubungan Fatimah an-Naisaburiyah dengannya bisa dikatakan sangat unik. Dalam suatu riwayat diceritakan:

ذُكِرَ أَنَّهَا بَعَثتْ مَرَّةً إِلَي ذِي النُّوْنِ بِرِفْقٍ فَرَدَّهُ وَقَالَ فِي قَبُوْلِ أَرْفَاقِ النِّسْوَانِ مُذِلَّةٌ وَنُقْصَانٌ فَقَالَتْ فَاطِمَةُ لَيْسَ فِي الدُّنْيَا صُوْفِيٌ أَخَسَّ مِمَّنْ يَرَى السَّبَبَ

Artinya, “Diceritakan bahwa dia (Fatimah) suatu saat mengirimkan sebuah hadiah (pemberian) kepada Dzun Nun al-Mishri, kemudian ia mengembalikannya sembari berkata, “Menerima pemberian (hadiah) dari wanita merupakan bentuk kehinaan dan kekurangan (kelemahan).”

Kemudian Fatimah berkata, “Tidak ada di dunia ini seorang sufi yang lebih rendah dari orang yang (hanya) melihat sebab (alasan)” (as-Sulami, Thabaqat as-Shufiyyah, 2003, h. 401).

Yang dimaksud dengan sebab pada ucapan Fatimah di atas tidak lain, bahwa sebagai ulama tasawuf sudah seharusnya menerima pemberian apa saja dari orang lain tanpa membedakannya. Sebab, semua pemberian pada hakikatnya murni sebagai bentuk nikmat dari Allah SWT.

Hanya saja, saat itu Dzun Nun al-Mishri merasa bahwa dirinya akan menjadi hina jika menerima pemberian dari wanita. Sebab, ia sadar bahwa dirinya sudah menjadi tokoh masyarakat dengan ratusan santri yang belajar kepadanya. Ia khawatir akan ada anggapan negatif dari orang lain jika menerima pemberian tersebut.

Kendati demikian, pada akhirnya teguran Fatimah membuatnya sadar, bahwa sudah seharusnya semua manusia itu diratakan. Tidak ada istilah baik dan buruk antara laki-laki dan perempuan, semuanya sama.

Dzun Nun al-Mishri kemudian menganggap Fatimah an-Naisaburiyah sebagai gurunya. Ia sering bertanya soal-soal spiritual dan ilmu agama kepadanya. Bahkan, suatu ketika ada seorang ulama sepuh (syaikhan kabiran) bertemu dengan Dzun Nun al-Mishri. Ia bertanya kepada Dzun Nun,

“Siapakah orang paling mulia yang pernah Anda temui?” tanya Syekh tersebut. Kemudian ia menjawab,

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَجَلَ مِنْ اِمْرَأَةٍ رَأَيْتُهَا بِمَكَّةَ يُقُالُ لَهَا فَاطِمَةَ النَّيْسَابُوْرِيَّةِ كَانَتْ تَتَكَلَّمُ فِي فَهْمِ الْقُرْآنِ فِي تَعْجِيْبٍ مِنْهَا: هِيَ وَلِيَةٌ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ وَهِيَ أُسْتَاذِي

Artinya, “Tidak pernah aku temukan seorang pun yang lebih mulia dari wanita yang aku pernah melihatnya di Makkah, ia bernama Fatimah an-Naisaburiyah. Ia berbicara perihal pemahaman Al-Qur’an dengan sangat luas dan mengherankan. Dia adalah wali (kekasih) dari beberapa kekasih Allah. Dia adalah guruku.” (as-Sulami, Thabaqat as-Shufiyyah, 2003, h. 401).

Tepat pada tahun 223 Hijriah, sosok wanita yang sangat istimewa dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang mendalam, ahli ibadah yang sangat taat pergi meninggalkan manusia dengan segala ilmu dan teladan yang ada dalam dirinya, tepatnya ketika ia dalam perjalanan umrah menuju Makkah.

Demikian biografi singkat ulama wanita Fatimah an-Naisaburiyah. Dengan mengetahuinya, semoga bisa menambah semangat untuk belajar dan beribadah, khususnya bagi wanita.

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles