Empat Aliran Orientalisme dalam Kajian Hadis di Barat

by -1 views
empat-aliran-orientalisme-dalam-kajian-hadis-di-barat

Harakah.idMuncul sejumlah teori yang bisa dikatakan saling berseberangan satu sama lain. Brown mencatat, setidaknya terdapat empat aliran orientalisme dalam studi hadis. Yaitu; (1) Pendekatan orientalis, (2) pendekatan filologis-apologis-islamis, (3) pendekatan revisionis, (4) pendekatan revaluasi Barat.

Orientalisme dalam kajian hadis di Barat. Beberapa orang sarjana dari Barat; Eropa dan Amerika, memiliki sejumlah penelitian tentang hadis Nabi Muhammad SAW. Menurut Jonathan Brown, pada umumnya mereka membicarakan hadis terkait dengan sejarah Islam awal.

Dalam buku Hadith Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern World hlm. 189 Brown mencatat bahwa kesarjanaan orientalis dalam bidang hadis tumbuh dan berdinamika. Muncul sejumlah teori yang bisa dikatakan saling berseberangan satu sama lain. Brown mencatat, setidaknya terdapat empat aliran orientalisme dalam studi hadis. Yaitu; (1) Pendekatan orientalis, (2) pendekatan filologis-apologis-islamis, (3) pendekatan revisionis, (4) pendekatan revaluasi Barat.

Aliran pertama disebut orientalis approach (pendekatan orientalist). Terkait aliran ini, Brown menjelaskan bahwa ia adalah kelompok sarjana Barat pertama yang mencoba menggunakan teori kritik sejarah untuk memahami lebih dekat sejarah Islam awal. Sekalipun mereka menyampaikan banyak kritik, tetapi mereka menerima secara umum narasi historis yang dikembangkan Muslim. Brown mengatakan, “The Orientalist Approach: the initial application of the Historical Critical Method to early Islamic history, which challenges many features of the traditional Islamic legal and historical narratives but accepts its general structure.” (Pendekatan Orientalis: penerapan awal Metode Kritis Historis pada sejarah Islam awal, yang menantang banyak fitur dari narasi hukum dan sejarah Islam tradisional tetapi menerima struktur umumnya).

Kedua, aliran dengan pendekatan filologis-apologis-islamis. Kelompok ini bekerja dalam kerangka akademik Barat, baik metode maupun argumen. Posisi akademis mereka adalah menanggapi kritik para orientalis. Brown mengatakan, “The Philo-Islamic Apology: the arguments of some non-Muslim and Muslim scholars trained in the West responding to Orientalist critiques of hadiths.” (The Philo-Islamic Apology: argumen dari beberapa sarjana non-Muslim dan Muslim terlatih di Barat menanggapi kritik Orientalis terhadap hadits.)

Ketiga, aliran pendekatan revisionist. Sebuah aliran orientalisme yang muncul sejak tahun 1970-an. Ia menggunakan asumsi kritis yang dikembangkan orientalis generasi awal. Selain itu, aliran ini bergerak lebih radikal dengan menyasar tingkat yang lebih mendasar dan mempertanyakan narasi yang lebih besar dari sejarah Islam awal, asal-usul Al-Quran dan hukum Islam. Brown menulis, “The Revisionist Approach: beginning in the late 1970s, this approach applied the critical assumptions of the Orientalist Approach at a more basic level and questioned the greater narrative of early Islamic history, the origins of the Quran and of Islamic law.” (Pendekatan Revisionis: dimulai pada akhir 1970-an, pendekatan ini menerapkan asumsi kritis Pendekatan Orientalis pada tingkat yang lebih mendasar dan mempertanyakan narasi yang lebih besar dari sejarah Islam awal, asal-usul Al-Qur’an dan hukum Islam).

Keempat, aliran sarjana Barat yang mencoba melakukan telaah ulang terhadap aliran yang timbul sebelumnya (revaluasi). Aliran ini mulai muncul di Barat pada tahun 1980-an. Aliran ini dicirikan dengan upaya menolak skeptisisme radikal kaum orientalis revisionis. Kaum revaluasi tetap menggunakan metode kritik sejarah dan berkesimpulan bahwa kritik hadis yang dikembangkan sarjana Muslim jauh lebih canggih dibandingkan yang dikembangkan para orientalis dan revisionis. Brown menulis, “The Western Revaluation: since the 1980s, this approach has rejected the extremes of the Revisionist Approach while continuing criticism of the early Islamic period according to the Historical Critical Method. Rejecting the radical skepticism of the Revisionists, however, has led some Western scholars to recognize both that the Orientalist method involves some questionable assumptions and also that the Muslim hadith tradition is much more sophisticated than previously believed.” (Revaluasi Barat: sejak 1980-an, pendekatan ini telah menolak ekstrem Pendekatan Revisionis sambil melanjutkan kritik terhadap periode awal Islam menurut Metode Kritis Sejarah. Menolak skeptisisme radikal kaum Revisionis, bagaimanapun, telah menyebabkan beberapa sarjana Barat mengakui bahwa metode Orientalis melibatkan beberapa asumsi yang dipertanyakan dan juga bahwa tradisi hadits Muslim jauh lebih canggih daripada yang diyakini sebelumnya).

Demikian empat aliran orientalisme dalam kajian hadis di Barat. Semoga Empat Aliran Orientalisme dalam Kajian Hadis di Barat ini menambah wawasan kita bersama.

Leave your vote

712 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *