Elan Melunasi Utang Emas

by -3 views
elan-melunasi-utang-emas

Jakarta | Liliyana Natsir secara terang-terangan mengaku sempat terbelenggu “utang emas” selama lebih kurang empat tahun. Utang emas yang dimaksud Butet –julukan Liliyana– adalah kegagalan yang dialaminya bersama Tontowi Ahmad di Olimpiade London 2012. Padahal, ganda campuran ini merupakan harapan semata wayang Indonesia untuk meneruskan tradisi medali emas.

Owi/Butet kandas di semifinal London 2012, kalah dari pasangan Tiongkok Xu Chen/Ma Jin dari Tiongkok. Mereka juga gagal merebut medali perunggu usai ditundukkan pasangan Denmark, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen. Kegagalan Owi/Butet tak hanya membuat tradisi emas Indonesia lepas, cabang bulu tangkis bahkan mesti pulang tanpa membawa medali.

Jelang Rio 2018, pelatih ganda campuran Richard Mainaky mempersiapkan program latihan maksimal. Owi/Butet menjalani karantina selama satu minggu di Kudus, Jawa Tengah. Richard menjelaskan, mereka membuat situasi di Kudus semirip mungkin dengan di Rio. (Tempo, 22 Agustus 2016) “Pagi latihan, lalu kembali ke mes, lalu siang latihan lagi, kembali ke mes, kemudian malam latihan lagi,” tuturnya.

Di Rio juga seperti itu. Pagi latihan, kemudian kembali ke wisma atlet, menjalani pertandingan, makan, lalu kembali lagi ke wisma. Di Kudus, kami menganalisis lawan dan selalu menjalani sparring. Di Rio juga begitu,” Richard, menambahkan.

Pasca-pelatihan di Kudus dan pelatnas Cipayung, Jakarta, Owi/Butet terbang ke Rio de Janeiro untuk menempati perkampungan atlet yang telah disediakan panitia. Sejak 9 Agustus 2016, ganda campuran ini meraih kemenangan berhasil meraih kemenangan demi kemenangan di Grup C. Pada laga pertama, Owi/Butet mengalahkan pasangan Australia, Robin Middleton/Leanne Choo 21-7, 21-18. Kemudian mengatasi Bodin Isara/Savitree Amitrapai (Thailand) 21-11, 21-13, dan memastikan juara grup setelah mengalahkan Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) 21-15, 21-11.

Setelah menjuarai Grup C Owi/Butet maju ke perempat final, berhadapan dengan rekan senegaranya, Praveen Jordan/Debby Susanto. Laga ini berkesudahan dengan kemenangan bagi Owi/Butet dalam dua gim langsung 21-16, 21-11.

Tantangan berat sudah menanti Owi/Butet di semifinal. Zhang Nan/Zhao Yunlei, kala itu adalah pasangan nomor satu dunia. Ini merupakan pertemuan ke-18 mereka. Owi/Butet sebelumnya tertinggal 5-13 di rekor pertemuannya. Dalam delapan pertemuan terakhir, Owi/Butet harus menelan kekalahan. Namun di luar dugaan, Owi/Butet mampu mengandaskan Zhang/Zhao 21-16, 21-15

Partai puncak, 17 Agustus 2016. Owi/Butet kembali bertemu Chan Peng Soon/Goh Liu Ying. Ini merupakan pertandingan ulangan Grup C. “Final yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Tontowi/Liliyana menjadi satu satunya wakil Indonesia yang berhasil melangkah ke final. Wajar, jika ketegangan melanda seluruh tim Indonesia karena hanya melalui Tontowi/Liliyana harapan untuk mengibarkan bendera Merah Putih di ajang Olimpiade,” tulis Daryadi melalui buku Jejak Langkah Owi-Butet.

Tekanan partai final Rio 2016 sangat dirasakan Butet, terlebih pada gim pertama. Richard bahkan menyebut anak asuhnya itu “kecolongan”. Butet, yang kala itu berusia 30 tahun, mengakui beban berat selaku satu-satunya yang diharapkan untuk meraih emas bagi Indonesia turut memengaruhi gim pertama, meski akhirnya dituntaskan dengan kemenangan 21-14. Gim kedua kembal menjadi milik Owi/Butet, keduanya menang 21-12, dan mempersembahkan keping emas buat Indonesia.

Di Rio 2018, Owi dan Butet membayar lunas utang emas London 2012. Lega rasanya bagi Butet setelah akhirnya kesampaian juga mengoleksi emas Olimpiade. “Kami berutang medali emas saat di London. Sekarang, langsung kami bayar utangnya,” kata Butet. “Saya nggak bisa berkata-kata. Luar biasa rasanya. Ini saya persembahkan untuk hari kemerdekaan Republik Indonesia,” demikian Owi.

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *