Dr. Soetomo, Jati Diri Pesantren dan Daulat Pendidikan Sebagai Trajektori Hari Kebangkitan Nasional

by -2 views
dr.-soetomo,-jati-diri-pesantren-dan-daulat-pendidikan-sebagai-trajektori-hari-kebangkitan-nasional

Dr. Soetomo, Jati Diri Pesantren dan Daulat Pendidikan Sebagai Trajektori Hari Kebangkitan Nasional

Harakah.id Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei harusnya menjadi media untuk kembali dan menapaktilasi Budi Utomo dan gagasan Dr. Soetomo, bukan hanya soal politik, tapi juga arah pendidikan kita.

Satu hal yang sering diabaikan dalam perbincangan kita soal dan di Hari Kebangkitan Nasional adalah gagasan Dr. Soetomo mengenai arah dan jati diri pendidikan nasional. Diakui atau tidak, trajektori kebangkitan nasional akan dipengaruhi oleh arah pendidikan nasional yang dicanangkan.

Perdebatan soal konsep, format dan prinsip pendidikan semacam ini disadari oleh para founding fathers kita, termasuk Dr. Soetomo. Perdebatan mun tak pelak terjadi dan tidak bisa lagi dihindari. Polemik menyeruak dan silang argumentasi digulirkan.

Pada momentum Hari Kebangkitan Nasional hari ini, ijinkan saya untuk membawa anda ke sebuah tahun yang jauh di 1930-an. Tahun di mana Dr. Soetomo dan Sutan Takdir tengah berdiskusi dan berpolemik seru soal identitas, prinsip dan karakter pendidikan di Nusantara. Tengokan bermanfaat yang akan mengingatkan kita semua soal karakter pendidikan nasional.

Persoalan utama yang tengah diperdebatkan saat itu adalah, apakah pendidikan Indonesia kudu ngikut model pendidikan Barat yang individualistik atau setia dengan model pendidikan bangsa yang berbasis sosial-komunal?

Dr. Soetomo memikirkan dan menyimpulkan dengan yakin, bahwa sistem pendidikan di Indonesia adalah “Pondok Systeem”. Di tahun 1930-an beliau menulis,

Pesantren itoe adalah pergoeroean kepoenja’an bangsa kita jang asali, serta beberapa riboe bilangannja sebeloem pengaroe Barat mempengaroehi djoega atas pengadjaan dan pendidikan kita… Njatalah bahwa pergoeroean asli pada waktoe itoe masih hidoep dengan soeboer dans ehat, kaloe dibandingkan dengan keadaannja jang sekarang ini, dimana pesantren tidak mempoenjai pengaoreh jang berat lagi seperti sedia kala. Sebeloem gopermen Hindia Belanda memboeka sekolahnja, ada waktoe itoe, pesantrenlah jang mendjadi soember pengetahoean, mendjadi mata air ilmoe, bagi bangsa kita seboelat-boleatnja.

Dr. Soetomo tidak sendiri, ada juga Ki Hadjar Dewantara yang sosoknya menjadi simbol bagi pendidikan nasional kita hari ini. Dan seperti yang kita tahu, tanggal lahirnya dirayakan gegap gempita setiap tahunnya sebagai Hari Pendidikan Nasional. Sosok Bapak Pendidikan Nasional ini pernah menulis artikel berjudul “Systeem Pondok dan Asrama Itulah Systeem Nasional” di tahun 1928. Mari saya ajak untuk mengamati, apa maksud dan makna yang bisa kita ambil dari uraian Ki Hajar,

Mulai jaman dahulu hingga sekarang rakyat kita mempunyai rumah pengajaran yang juga menjadi rumah pendidikan, yaitu kalau sekarang “pondok pesantren”, kalau di jaman kabudan dinamakan “pawiyatan” atau “asrama”. Adapun sifatnya pesantren atau pondok atau asrama yaitu rumahnya kiai guru yang dipakai buat pondokan santri-santri (cantrik-cantrik) dan buat pengajaran juga. Di karena guru dan murid tiap tiap hari, siang malam berkumpul jadi satu, maka pengajaran dengan sendirinya selalu berhubungan dengan pendidikan.

Kalau kita memperhatikan, sejak dulu Ki Hajar sudah menekankan kalau pendidikan dan mendidik bukan hanya proses transfer pengetahuan. Mendidik adalah proses rumit yang membutuhkan intensitas dan waktu yang lama antara guru-murid. Produk pendidikan, dengan demikian, tidak bisa diukur hanya berdasarkan indikator kuantitatif berbasis angka, tapi juga indikator kualitas dan penempaan yang memastikan satu proses perkembangan, bukan hanya dalam tataran kognitif, tapi juga mentalitas, spiritualitas dan ketahanan identitas.

Capaian pendidikan dengan standart mutu semacam itu hanya dimungkinkan jika murid dan guru berada dalam satu area. Murid tidak hanya belajar di dalam kelas, tapi juga di luar kelas. Seorang muris belajar langsung secara visual bagaimana cara kiainya makan, berjalan, menyapa dan memperlakukan orang. Seorang murid belajar cara hidup menjadi manusia dan memanusiakan manusia dari gurunya. Bukankah begitu seharusnya pendidikan diterapkan? Bukankah dari dulu orang tua dan leluhur kita mengatakan, percuma banyak ilmu kalau pada akhirnya tak ada etika?

Tapi percayakah anda pada fakta kalau banyak sekali masyarakat adat hari ini yang tidak percaya pada pendidikan sekolah? Mereka yakin kalau bangunan bernama sekolah hanya akan mencetak orang pintar yang kelak akan “minteri wong” (menipu dan memanipulasi orang lain, bahkan orang tuanya sendiri dengan kepintarannya). Dengan kata lain, ada yang bergeser dari orientasi berikut sistem pendidikan nasional, berikut juga kebijakan pendidikan nasional yang menjadi payung naungnya.

Dr. Soetomo sepakat dengan prinsip dan identitas pendidikan semacam itu. Dan bukan tanpa alasan juga beliau dengan yakin meletakkan sistem pesantren sebagai karakter pendidikan yang seharusnya menjadi ruh pendidikan nasional. Kata Dr. Soetomo,

Di dalam pergoeroean jang termasyhoer namanja, di sitoe dapatlah orang mempeladjari beberapa matjam pengetahoean lahir dan batin, sedang adat kelakoean sang goeroe di dalam hidoepnja sehari-hari jang penoeh dengan kedjoedjoeran dan kesoetjian itoe, mempengaroehi djuga atas sikap kehidupan, levenshouding-nja moerid-moeridnja…

Tapi harus diakui, sistem pendidikan yang meniscayakan intensitas interaksi antara guru dan murid mulai disadari oleh sekolah-sekolah hari ini. Begitupun juga dengan kesadaran bahwa kegiatan ekstrakulikuler dan di luar kelas, memegang peranan yang tidak kecil dalam pembentukan karakter murid. Banyak sekolah juga mulai memberikan perhatian yang besar pada spesifikasi keahlian dan kecenderungan masing-masing murid dan tidak mengeneralisirnya hanya pada satu standart kompetensi saja.

Finlandia kemudian banyak diacu ketika diklaim sebagai negara dengan standart kualitas pendidikan nomer wahid di dunia. Jam masuk kelas tidak terlalu banyak dan guru tidak memberikan PR. Murid lebih punya banyak waktu bermain, bersosialisasi dan berinteraksi di luar kelas. Murid dihadapkan pada guru yang dipercaya lebih bisa memberikan pelajaran, yakni kehidupan itu sendiri.

Tapi kenyataannya, sekolah yang menerapkan sistem Finlandia semacam itu mahal-mahal. Lembaga pendidikan lalu bekerja bukan sebagai lembaga sosial, tapi lebih nampak seperti perusahaan dan koorporasi. Dalih “pendidikan modern”, argumentasi eksklusifitas dan jaminan masuk perguruan tinggi mentereng di Eropa berikut jaminan pekerjaan dengan gaji yang digitnya bisa bikin merinding, dijadikan kail untuk menjual sistem pendidikan yang sebenarnya sejak dulu sudah diterapkan oleh pesantren dan lembaga pendidikan asali kita.

Ini sama saja dengan membeli air yang diambil dari sumur di depan rumah kita, namun dalam bungkus yang lebih modern, milenial dan kekinian. Isinya? Ya air sumur, tak ada beda!

Dengan kata lain, meskipun sistem dan prinsip pendidikannya benar, namun orientasi keberpihakannya melenceng sangat jauh. Pendidikan bukan hanya mempertegas bias kelas, tapi juga menjadi simbol diferensiasi kelas itu sendiri.

Setelah babak belur dihajar Kolonialisme, Saya, anda dan masyarakat Indonesia hari ini harusnya bersyukur kala Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah lahir. Keduanya tidak hanya menjadi penjaga gawang yang dengan konsisten mengawal ruh dan prinsip pendidikan nasional, tapi juga dengan istiqomah menjaga orientasi dan keberpihakannya, sebagaimana yang diimpikan Dr. Soetomo maupun Ki Hajar Dewantara. Nahdlatul Ulama dengan sabar mengawal prosesi pendidikan di pelosok-pelosok desa, menyediakan pendidikan murah dan ramah bagi para petani, peternak bahkan tukang becak sekalipun. Muhammadiyah juga dengan sangat terorganisir mampu menyediakan pendidikan inovatif bagi masyarakat di kota.

Ambisi untuk mencetak murid-murid “pekerja” juga sudah selayaknya dipertimbangkan ulang. Dalih “inovator”, “enterpreneur” dan “pebisnis” yang berujung pada kalkulasi untung-rugi tidak akan menyelesaikan krisis identitas dan karakter manusia Indonesia. Kita ingat, dulu leluhur kita menggarap sawah dan menanam padi hanya untuk makan, bukan meraup kapital.

Belum lagi masalah lahirnya satu stigma dan mitologi tentang pekerjaan apa yang dinilai layak maupun tidak layak sebagai jaminan penghidupan. Pemuda desa kabur ke kota hanya untuk bekerja di kantoran, padahal di samping gubuknya sawah hektaran siap untuk digarap. Kalau desa sepi, tanah gersang tak tergarap, saya, anda dan masyarakat Indonesia mau makan apa? Menjadi petani bagi anak petani, nelayan bagi anak nelayan dan peternak bagi anak peternak jadi tidak keren dan kurang menyakinkan. Logika pasar yang selalu mengandaikan kenyamanan pada satu bentuk kerja tertentu harus dihilangkan mas.

Orientasi kerja dalam setiap proses pendidikan sudah waktunya dikurangi – kalau mungkin ya dihilangkan. Belajar ya niat mencari ilmu, bukan niat untuk mencari hal-hal materi. Dengan keluhuran niat, keahlian yang muncul dari proses belajar dengan otomatis akan membentuk passion, mengarahkan dan menempatkan seorang murid pada ruang “bekerja” sesuai minatnya selama ini. Yang kayak-kayak ini, diajarkan di pesantren lho.

Di masa pandemi seperti hari ini, dan di tengah trend sekolah mahal berikut aplikator pendidikan yang dengan santai buang-buang uang di televisi, tentu saja kabar keluarnya dua organisasi masyarakat yang selama ini berjuang dan memiliki keberpihakan yang jelas, menambah masalah dan membuat masyarakat kita makin susah menelan nasi berlauk garam sisa bantuan Covid kemarin. Kita tentu juga sadar bahwa hal itu akan berakibat pada lahirnya kesan bahwa pendidikan nasional kita hari ini pro kapital, pro-koorporat dan orang-orang kaya saja.

Belum lagi, keputusan untuk menggabungkan Kementerikan Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kementerian Riset dan Teknologi [Kemendikbudristek] sudah terlanjur final. Belum selesai soal genjetan aspek “kebudayaan” dalam persoalan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kali ini persoalannya bertambah runyam, bertumpuk-tumpuk dan berkali lipat makin susah diurai. Lagi-lagi, orientasi kerja dan menciptakan manusia 4.0 yang jadi ambisinya.

Di Hari Kebangkitan Nasional hari ini, mungkin kita layak bertanya [lagi];

Di mana rakyat kecil dalam politik serta filsafat kebijakan pendidikan nasional kita? Model pendidikan apa yang layak untuk mereka? Dan apakah negara akan membantu? Pertanyaan-pertanyaan ini akan saya biarkan ternganga begitu saja. Ketiganya memang tidak untuk dijawab, tapi jadi bahan renungan, bukan hanya untuk para pemangku kebijakan, tapi juga saya dan para pembaca dengan kapasitas perannya masing-masing.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2021!

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *