Dilarang Masuk AS di Bawah Trump, Muslim Sambut Kemenangan Biden

by -18 views
dilarang-masuk-as-di-bawah-trump,-muslim-sambut-kemenangan-biden

Puluhan ribu Muslim yang telah dilarang masuk Amerika Serikat di bawah larangan Muslim Trump menyambut kemenangan Biden.

Ketika hasil Pilpres Amerika bergulir pada 4 November, pasangan muda Sudan duduk sepanjang malam di kota kecil mereka di selatan Khartoum. Mata mereka terpaku pada televisi saat penghitungan diumumkan, menonton dengan cemas. Mereka memiliki banyak harapan untuk hasilnya, catat Declan Walsh di The New York Times.

Setahun sebelumnya, Monzir Hasyim memenangkan lotere tahunan Departemen Luar Negeri AS untuk mendapatkan green card Amerika Serikat. Namun kemudian Presiden Trump, dalam kebijakan larangan Muslimnya, melarang warga Sudan untuk berimigrasi ke Amerika Serikat.

Pilpres tersebut tampaknya menawarkan kesempatan kedua, dan ketika Trump akhirnya dinyatakan kalah suara, Hasyim dan istrinya, Alaa Jamal, berpelukan dengan gembira.

Alaa menangis gembira ketika Joseph R. Biden Jr. dilantik sebagai presiden, membatalkan seluruh perintah era Trump yang telah memblokir orang-orang di seluruh dunia, kebanyakan Muslim seperti dirinya, untuk memasuki Amerika Serikat.

Mengutip dari The New York Times, 42.000 orang telah dicegah memasuki Amerika Serikat dari 2017 hingga 2019, sebagian besar dari negara-negara mayoritas Muslim seperti Iran, Somalia, Yaman, dan Suriah. Visa imigran yang dikeluarkan untuk warga negara tersebut turun hingga 79 persen selama periode yang sama.

Namun korban jiwa dari tindakan Trump hampir tidak dapat dihitung. Keluarga terpisah selama bertahun-tahun; pernikahan dan pemakaman tidak bisa dihadiri; karir dan rencana studi berantakan; operasi penyelamatan nyawa gagal.

Selain mempercepat aplikasi yang belum selesai, Biden telah memerintahkan peninjauan segera atas semua visa yang ditolak karena tindakan Trump, dan penilaian terhadap prosedur keamanan “pemeriksaan ekstrem” yang kontroversial yang mencakup penyaringan media sosial pemohon.

Namun, para penasihat imigrasi memperingatkan, kembali sistem sebelum Trump tidak akan menjadi obat mujarab.

“Bahkan sebelumnya, sistemnya diskriminatif dan tidak ramah Muslim,” ujar Gadeir Abbas, staf pengacara Dewan Hubungan Amerika-Islam, dilansir dari The New York Times. “Di bawah pemerintahan Obama AS memiliki perluasan daftar pantauan terorisme ke lebih dari satu juta nama yang, sejauh yang kami tahu, pada dasarnya adalah daftar Muslim.”

Bahkan di antara pengagum Amerika yang paling bersemangat, pendiriannya karena larangan tersebut telah jatuh. Di Sudan, Jamal, yang suaminya memenangkan undian green card, mengatakan dia telah bermimpi untuk pindah ke Amerika sejak dia masih kecil.

“Saya ingin anak-anak saya memiliki kehidupan yang baik,” katanya kepada The New York Times. Saya ingin mereka merdeka. Namun sinisme tertentu telah merayapi pandangannya tentang para pemimpin Amerika.

“Mereka semua sama,” tuturnya. “Bagi Trump, kami adalah Muslim yang jahat. Bagi Biden, kami adalah Muslim yang baik. Pada akhirnya, bukan itu masalahnya, mereka akan menggunakan kita jika itu baik untuk mereka. Kami hanya bidak dalam permainan catur.”

Ketika politik Amerika jatuh ke dalam kekerasan baru-baru ini, yang lain melihat resonansi yang menggelegar dengan negara mereka sendiri. Diab Serrih, mantan tahanan politik dari Suriah, mengatakan massa yang menyerbu Capitol mengingatkannya pada preman yang tetap setia dengan segala cara kepada pemimpin diktator Suriah, Bashar al-Assad.

Setelah berpaling dari Amerika pada 2017, Serrih, yang sekarang tinggal di Belanda, mengatakan dia ingin mencoba lagi. Tetap saja, dia gugup. “Gagasan untuk pindah itu menakutkan,” katanya. “Bagaimana jika dalam beberapa tahun ada Trump lagi?”

Aktivis mendesak Kongres untuk mengesahkan No Ban Act, proposal yang didukung oleh Biden untuk mencegah presiden masa depan memberlakukan pembatasan perjalanan.

Namun, penilaian kerusakan dari larangan Trump kemungkinan besar akan bertahan mengingat niat yang terus terang dan penerapannya yang sembarangan meninggalkan dampak yang berbeda-beda di negara-negara yang terkena dampak.

Larangan Perjalanan Trump

Para demonstran berkumpul di sebuah demonstrasi di Washington pada bulan Oktober. Mahkamah Agung mengizinkan pemerintahan Trump untuk sepenuhnya memberlakukan larangan bepergian ke Amerika Serikat oleh penduduk enam negara Muslim. Hakim mengatakan dalam sebuah perintah Senin bahwa kebijakan tersebut dapat diterapkan sepenuhnya meskipun tantangan hukum terhadapnya dilakukan melalui pengadilan. (Foto: AP)

Di Myanmar, misalnya, yang baru ditambahkan ke daftar tahun lalu, larangan Trump hampir tidak memengaruhi siapa pun, kata kelompok hak asasi manusia. Hanya visa imigran yang terpengaruh dan, segera setelah larangan diberlakukan, Myanmar menutup perbatasannya untuk membendung pandemi.

“Saya masih belum menemukan jawaban mengapa Myanmar ada dalam daftar,” kata U Ye Myint Win dari Fortify Rights, kelompok advokasi hak asasi manusia regional, dikutip dari The New York Times.

Orang Iran, sebaliknya, sangat menderita.

Selama beberapa dekade, mereka menjadi kelompok terbesar pemohon visa ke Amerika Serikat, menurut pengacara visa dan organisasi advokasi Iran-Amerika. Sebelum revolusi 1979, pemuda Iran berbondong-bondong ke universitas Amerika dan pulang dengan membawa gelar mereka, di antaranya menteri luar negeri Iran, Javad Zarif, dan kepala Organisasi Energi Atom, Ali Akbar Salehi.

Setelah 1979, dan runtuhnya hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat, trennya bergeser: Orang Iran yang datang ke Amerika cenderung tinggal, dan mendorong kerabat mereka untuk ikut. Pembatasan Trump, yang diterapkan mulai 2017, jumlah pendatang dari Iran anjlok.

Dari 45.000 warga Iran yang mengajukan keringanan visa antara Januari 2017 dan Juli 2020, hanya 7.000 yang diberikan visa, menurut Departemen Luar Negeri. “Dampaknya sangat luas, secara finansial, emosional, pendidikan, profesional,” kata Reza Mazaheri, pengacara imigrasi yang berbasis di New York yang mewakili banyak orang Iran, dikutip dari The New York Times.

Bagi yang lain, larangan itu adalah bab yang tertutup dan tragis.

Mohamed Abdelrahman, pengusaha Libia, mengira dia mendapatkan jackpot pada 2017 ketika dia memenangkan lotre green card, menawarkan jalan keluar dari negara yang sedang jatuh ke dalam kekacauan, kata keponakannya, Mohamed Al-Sheikh.

Namun larangan Trump memaksa Abdelrahman untuk menunda dan, sebelum dia bisa meninggalkan Libia, dia menderita stroke dan meninggal.

Jika tidak ada larangan, “hidupnya mungkin benar-benar berbeda,” kata Al-Sheikh (34) berbicara melalui telepon dari Tripoli kepada The New York Time. “Dia hanya membutuhkan tempat tinggal yang stabil selama sisa hidupnya.”

Penerjemah: Nur Hidayati

Editor: Purnama Ayu Rizky

Keterangan foto utama: Protes larangan anti-Muslim di Washington, pada Oktober 2017. (Foto: AFP/Jim Watson)

Dilarang Masuk AS di Bawah Trump, Muslim Sambut Kemenangan Biden

, , , ,

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *