Definisi Manusia Menurut Muktazilah dan Kerja-Kerja Memaknai Eksistensi Manusia Dalam Ilmu Kalam

by -4 views
definisi-manusia-menurut-muktazilah-dan-kerja-kerja-memaknai-eksistensi-manusia-dalam-ilmu-kalam

Definisi Manusia Menurut Muktazilah dan Kerja-Kerja Memaknai Eksistensi Manusia Dalam Ilmu Kalam

Harakah.idDefinisi manusia menurut Muktazilah adalah definisi yang bisa kita acu untuk melihat kerja-kerja memaknai eksistensi manusia dalam studi Ilmu Kalam.

Bagaimana definisi manusia menurut Muktazilah?

Dalam pandangan Islam manusia adalah makhluk ciptaan Allah dengan kedudukan yang melebihi makhluk lainnya, karena manusia terlahir dibekali oleh akal. Dengan akal, manusia dapat berpikir dan bertindak sesuai dengan kebenaran yang ada. Manusia bereksistensi mempengaruhi lingkungan sekitarnya.

Dimana manusia mampu mengolah, menciptakan, dan merevolusi potensi alam yang ada, tetapi perbuatan manusia ini tak lepas dari cengkraman aturan dan hukum agama, khususnya keislaman. Segala perbuatan manusia diatur dalam kaidah-kaidah ilmu yang disesuaikan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Beberapa aliran menjelaskan mengenai bagaimana perbuatan manusia di muka bumi ini. Jika dilihat dalam sejarah pemikiran islam, itu telah tumbuh dan berkembangnya berbagai macam mazhab atau aliran keagamaan, baik itu dibidang politik maupun di bidang ilmu kalam.

Di bidang yang terakhir ini, tercatat dalam sejarah adanya aliran-aliran seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah  Salafiyah dan Wahabiyah. Aliran Mu’tazilah dikenal sebagai aliran yang mengagungkan kemampuan akal, sehingga pemikiran Kalam/teologi yang mereka kembangkan bercorak rasional dan liberal.

Apa itu “manusia”?

Definisi manusia menurut Muktazilah adalah “badan” yang merupakan penjara dan bencana bagi jiwa. Pekerjaan badan adalah tunduk kepada hukum keharusan (hukum alam) yang menguasai seluruh benda-benda alam. Sedangkan pekerjaan jiwa adalah berpikir dan berkemauan secara bebas.

Pekerjaan-pekerjaan jiwalah yang mengarahkan gerakan (pekerjaan) badan kepada sesuatu arah tertentu. Kebebasan jiwa disini bukanlah berarti menciptakan akan tetapi hanya semata-mata mengarahkan perbuatan itu sendiri.

Menurut muktazilah jiwa tidak akan mengalami kerusakan walaupun badan rusak. Menurut mereka tabiat jiwa tidak sama dengan tabiat badan. Sehingga akhir kejadian dari badan dan kejadian jiwa berbeda.

Akan tetapi jiwa tidak dapat merasakan kelezatan atau kesedihan tanpa badan. Dari hal ini kaum Muktazilah berpendapat bahwa akan adanya kebangkitan jasmani di akhirat, agar dengan melalui perantara badan ini jiwa dapat memperoleh balasan baik atau buruk atas perbuatannya.

Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa Allah Tuhan semesta alam yang menciptakan manusia dan menyempurnakannya dengan kekuatan dan akal. Allah juga memberikan kepada kita kepercayaan untuk mengurus semua urusan kita.

Mu’tazilah juga berkata bahwa kita berhak menciptakan perbuatan kita sendiri, baik atau buruk dan memberikan kebebasan terhadap perbuatan manusia, tetapi perbuatan manusia ini dibatasi oleh Allah dan manusia wajib bertanggung jawab atas segala perbuatannya, baik yang disengaja maupun tidak disengaja.

Kaum Mu’tazilah memiliki keyakinan bahwa Tuhan telah memberikan kebebasan bagi manusia dalam menentukan kehendak dan bertindak sesuai dengan apa yang ia yakini.

Karena kaum Mu’tazilah berpegang teguh pada prinsip “ahlu al-‘adlu wa al- Tauhid” yang berarti golongan yang mempertahankan keadilan dan keesaan Tuhan. Dimana perbuatan manusia menurut kaum ini tidak lepas dari pantauan atau penglihatan Tuhan.

Definisi Manusia Menurut Muktazilah

Dalam kajian ilmu kalam yang dimaksud dengan Mu’tazilah adalah golongan yang dipimpin oleh Washil Ibn “Atha’ (80-131 H/699-748 M), serta para penerusnya.

Namun mereka lebih suka menamakan golongannya dengan “Ahlu al ‘Adli wa al-tauhid” (golongan keadilan dan tauhid). Nama ini diambil dari dua pokok pemikiran mereka, yaitu keadilan Allah dan Keesaan-Nya.

Menurut sejarah pemikiran Islam, kaum Mu’tazilah merupakan golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi dengan lebih mendalam dan bersifat filosofis dibandingkan aliran-aliran teologi lainnya.

Di dalam membahas dan memecahkan masalah teologi, kaum Mu’tazilah lebih menggunakan akal sehingga teologi yang dikembangkan lebih bercorak rasional dan liberal. Mereka sering kali disebut dengan kaum rasionalis Islam.

Seperti yang sudah disampaikan diatas bahwa untuk mewujudkan tindakan manusia perlu ada dua daya, daya Tuhan dan daya manusia, tetapi yang berpengaruh dan yang efektif pada akhirnya dalam perwujudan perbuatan ialah daya Tuhan bukan daya manusia, daya manusia bersifat pasif dan tidak efektif dalam melakukan suatu tindakan.

Manusia dalam pandangan kaum ini merupakan makhluk paling sempurna karena manusia dibekali akal dan budi pekerti. Tentunya kesempurnaan hanya milik Tuhan, tetapi kesempurnaan bagi manusia ini komplit juga disertai dengan hawa nafsu.

Manusia diyakini mampu menjadi suri tauladan bagi kehidupan. Akal manusia sebagai alat bantu perkembangan kehidupan dunia ini. Alat pengubah, alat pengatur, alat penahanan hawa nafsu agar tidak tenggelam. Manusia ‘baik’ akan bercahaya seperti ‘nur’ yang berkilau.

Perbuatan Manusia (Dosa Besar) menurut Wasil bin Ata’

Perbuatan manusia sangat beragam, yakni bersifat inspiratif dan kreatif. Ada positif tentunya juga ada negatif. Tokoh Mu’tazilah yang bernama Wasil bin ‘Ata’ mengatakan bahwa seorang muslim yang melakukan dosa besar, maka posisinya tidak lagi berada dalam golongan mukmin murni, karena keimanannya telah tercemari dengan dosa besar, juga bukan kafir murni.

Hal ini disebabkan ia masih mempercayai Tuhan dalam hati dan pernah mengucapkannya dengan lisan, juga masih melakukan perbuatan baik lainnya. Maka posisi yang paling tepat bagi orang seperti itu menurut Wasil bin ‘Ata’ adalah posisi di antara dua posisi (al-manzilah bain al-manzilatain) yakni posisi antara mukmin dan kafir yaitu fasik.

Perbuatan manusia dalam hal ini menurut Wasil bin ‘Ata’ mempunyai paham qadariyah, sama dengan pendapat Ma’bad al-Juhani dan Ghailan al-Dimashqi. Wasil berpendapat bahwa Tuhan adalah Hakim Yang Maha Adil, tidak boleh dinisbatkan kepadaNya sifat-sifat kejahatan dan kezaliman.

Seperti yang dijelaskan dalam keadilan menurut kaum Mu’tazilah ialah “Tuhan tidak menghendaki keburukan, tidak membuat tindakan manusia, manusia bisa menjalankan perintahnya dan menjauhkan laranganya, karena qudrat yang dijadikan Tuhan pada diri manusia. 

Jadi Tuhan hanya menguasai kebaikan yang diperintahkan dan bebas dari keburukan-keburukan yang dilarangnya. Setiap makhluk diciptakan Tuhan atas dasar hikmah kebijaksanaan. Mu’tazilah berpendapat bahwa, pelaku dosa besar yang tidak bertobat dan meninggal dalam kefasikan akan dimasukkan ke neraka selama-lamanya, namun hukumannya diringankan. Nerakanya tidak sepanas neraka yang dihuni oleh orang-orang kafir.

Leave your vote

631 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *