[DATA] Walau Tak Kalahkan IHSG, UNVR Masih Bisa Kalahkan Indeks Barang Konsumsi

by -12 views
[data]-walau-tak-kalahkan-ihsg,-unvr-masih-bisa-kalahkan-indeks-barang-konsumsi

Sebagai saham defensif, saham-saham industri barang konsumsi digolongkan menjadi lima kategori sub sektor. Selain makanan dan minuman (FMCG), maka ada pula sub sektor kosmetik dan keperluan rumah tangga.

Dalam Survei yang berjudul Indonesian Consumer Sentiment during the Coronavirus Crisis yang dipublikasikan McKinsey and Company pada Juli 2020, konsumsi masyarakat akan barang keperluan rumah tangga dan personal care sama-sama meningkat. Barang rumah tangga 26% sementara itu personal care adalah 17%. 

Namun apakah performa saham-saham mereka cukup baik dalam jangka pendek maupun panjang?

Emiten-emiten yang bergerak di sektor home and personal care adalah perusahaan produsen sabun, kosmetik, dan barang konsumsi lain yang ditujukan untuk menjaga kebersihan pribadi, kebersihan rumah atau hunian. 

Riset Lifepal.co.id menunjukkan bahwa, hanya ada satu emiten di sub sektor ini yang memiliki performa baik selama lima tahun. Performa saham tersebut memang sanggup mengalahkan Indeks Barang Konsumsi Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak September 2015, akan tetapi kinerjanya masih kalah dengan IHSG.

Sementara itu, performa saham lain di sektor ini jeblok, anjlok drastis hingga lebih dari 30%. 

Tak ada yang mengalahkan UNVR

Tak dipungkiri bahwa, performa saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menjadi yang terbaik di antara yang lain di sub sektor kosmetik dan keperluan rumah tangga.

Jika dihitung dari performa 5 tahunan yang sebesar 3,95%, UNVR sanggup mengalahkan Indeks Barang Konsumsi namun tidak dapat mengalahkan IHSG. Saham blue chip yang satu ini bukan hanya menjadi jawara performa di sub sektor ini melainkan juga sebagai jawara kapitalisasi pasar. 

Perusahaan raksasa barang konsumsi ini memiliki nilai kapitalisasi pasar (market cap) sebesar Rp 302 triliun di tanggal 25 September 2020. Sementara itu, KINO, emiten dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 4,07 triliun per 25 September 2020, adalah saham dengan market cap terbesar kedua. 

Bisa dikatakan bahwa, selisih market cap antara UNVR dan KINO berbanding sangat jauh. 

Pergerakan UNVR memang cukup identik dengan IHSG. Namun bicara soal performa, terhitung sejak 1 September 2015 hingga 1 September 2020, performa saham ini hanya 3,95%. 

Sejak Desember 2017, terjadi proses downtrend yang cukup signifikan terhadap UNVR. Performa saham yang melakukan stock split di awal 2020 ini juga rontok dihantam Pandemi Covid-19, dan sampai September 2020 performanya cenderung mirip seperti di akhir tahun 2016. 

Secara year on year dari Semester I tahun 2020, penghasilan komprehensif UNVR tergerus 2,2% dari sebelumnya Rp 3,6 triliun di Semester I tahun 2019 jadi Rp 3,5 triliun di periode ini. Namun jika dihitung secara lima tahunan sejak Semester I tahun 2015, kenaikan pendapatan komprehensif UNVR mencapai 20,3%.

Untuk performa 5 tahunan, saham produsen Gatsby catat kinerja terburuk

Saham PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) menjadi satu-satunya saham kosmetik dengan kinerja yang paling buruk. Terhitung sejak 1 September 2015 hingga September 2020, saham produsen Gatsby, Pucelle, dan bedak Spalding ini adalah -63,43%. 

Sejak Juli 2017, saham TCID terus mengalami penurunan. TCID juga menjadi satu-satunya saham di sub sektor ini yang tidak kunjung pulih seiring berlarut-larutnya pandemi Covid-19 di Indonesia.

Diketahui bahwa pada Semester I tahun 2020, TCID membukukan kerugian. Kerugian komprehensif TCID di semester I 2020 adalah Rp 56,7 miliar. Sedangkan pada periode yang sama di tahun sebelumnya, TCID justru membukukan pendapatan komprehensif sebesar Rp 84,9 miliar. 

Cuma Mustika Ratu yang laba komprehensifnya meningkat

PT Mustika Ratu Tbk (MRAT) mencatatkan kenaikan laba komprehensif sebesar 1,7% dari Semester I tahun 2019 yaitu Rp 1,59 miliar jadi Rp 1,61 miliar di Semester I 2020. Namun, jika dilihat dari performa sahamnya, kinerja saham MRAT dari 1 September 2015 hingga 28 September 2020, justru -28,42%.

Sementara itu produsen Sariayu Martha Tilaar yaitu PT Martina Berto Tbk (MBTO) justru mencatatkan kenaikan kerugian komprehensif. Di semester I 2019, kerugian MBTO mencapai Rp 17 miliar. Namun di Semester I 2020, kerugian itu meningkat jadi Rp 43,9 miliar. 

Dari sisi kinerjanya, kinerja harga saham MBTO dalam lima tahun terakhir adalah -46,31%. 

Dari awal IPO hingga 1 September 2020, performa KINO sudah -24,47%

Sebagai saham dengan market cap kedua terbesar di sub sektor kosmetik dan keperluan rumah tangga, KINO baru saja melantai di bursa saham pada Desember 2015. Oleh karena itulah, perhitungan performa KINO dilakukan secara terpisah karena belum bisa diukur lima tahunan.

Performa saham produsen produk Ristra dan Ovale, parfum Master cologne, Eskulin, popok Sleek Baby, serta Instance Hand Sanitizer ini justru -24,47% dari awal saat mereka melantai di bursa hingga 1 September 2020. Pergerakan saham KINO juga berbanding terbalik dengan IHSG maupun indeks barang konsumsi BEI.

Hanya enam bulan usai IPO sajalah KINO mencatatkan performa yang yang cukup kuat hingga menyentuh 73,83%. Namun setelah itu, saham ini mengalami downtrend hingga di titik terendahnya yaitu pada September 2018.

Walau akhirnya rebound, sampai saat ini performa KINO masih berada di bawah saat mereka IPO. 

Dari semester I 2019 ke semester I 2020, KINO mencatatkan penurunan pendapatan komprehensif yang cukup signnifikan yaitu sebesar 65,8%. 

PER dan PBV saham industri kosmetik 

Melihat valuasi saham-saham industri kosmetik saat ini, berikut adalah nilai price earning ratio (PER) dan price to book value (PBV) dari saham-saham ini berdasarkan informasi dari RTI per 28 September 2020:

Saham PER PBV
UNVR 41,58 34,2
KINO 17,47 1,58
TCID -12,17 0,69
MBTO -0,98 0,45
MRAT 19,43 0,16

Jika dihitung dengan analisa PER, maka UNVR adalah saham termahal yang saat ini dijual di harga premium. Namun hal itu tentu tidak bisa dibandingkan jika melihat kapitalisasi pasar dari emiten-emiten sektor ini. 

UNVR juga merupakan satu-satunya blue chip di sub sektor kosmetik dan keperluan rumah tangga yang sahamnya paling sering ditransaksikan di antara yang lain. 

Catatan penulis

Untuk membuat riset data ini, Lifepal.co.id menganalisis pergerakan saham lima emiten di sub sektor kosmetik dan keperluan rumah tangga yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Lifepal juga membandingkan pergerakan saham mereka dengan pergerakan IHSG maupun Indeks Barang Konsumsi Bursa Efek Indonesia di BEI.

Adapun alasan kami tidak memasukkan saham PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) adalah karena KPAS baru saja melantai di tahun 2018. 

Olah data dapat dipertanggungjawabkan oleh penulis. Siapapun dapat memanfaatkan data ini dan memuatnya ke media massa online, tanpa biaya apapun alias GRATIS.

Ketika mengambil, menyadur, atau mengutip informasi dalam rilis ini diharapkan memberikan link ke artikel sumber agar memudahkan pembaca mendapatkan informasi selengkapnya.

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *