Dari Imam al-Syairazi Sampai Amin Abdullah, Silang Perdebatan Soal Batas Ilmu Agama Dan Ilmu Sains

by -3 views
dari-imam-al-syairazi-sampai-amin-abdullah,-silang-perdebatan-soal-batas-ilmu-agama-dan-ilmu-sains

Harakah.idBatas ilmu agama dan ilmu sains masih kerap jadi perdebatan sampai hari ini. Sebuah perbincangan yang sudah dilakukan oleh ulama di masa lalu sampai cendekiawan hari ini.

Salah satu diskursus hangat dalam dunia filsafat adalah pembahasan mengenai pengetahuan dan batas ilmu agama dan ilmu sains. Karena dirasa pembahasan ini penting untuk diangkat ke ranah akademik, maka dunia perkuliahan menjadi salah satu “medan” yang pas untuk menampung kajian ini. Dari sekian banyak definisi yang diajukan para filosof, satu kajian yang dalam hemat penulis wajib untuk di elaborasi lebih lanjut.

Kajian tersebut berupa pertanyaan yang berbunyi “pengetahuan itu terbatas atau tidak”? Merujuk pada gagasan yang dicetuskan oleh mantan rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Amin Abdullah dikatakan bahwa pengetahuan itu bersifat integratif (melebur) dan interkonektif (berkaitan). Dalam riwayat yang lain, Amin Abdullah juga menyatakan bahwa pengetahuan kealaman (science) dan agama harusnya tidak terhalang oleh tembok yang besar yang tidak memungkinkan untuk berkomunikasi.

Jika melihat pernyataan Amin Abdullah di atas, seolah-olah beliau terobsesi dengan apa yang terjadi pada abad pertengahan (middle age). Yang mana, pada saat itu, umat Islam sedang berada di puncak kejayaan dengan kemajuan peradaban yang dilandasi dengan keilmuan keagamaan dan pengetahuan kealaman (science) yang berpadu secara harmonis. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya cendekiawan muslim yang Agamawan cum Saintis, seperti Fakhruddin al-Razi (Razes). Seorang yang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan, seperti teologi, tafsir, ushul fiqh dan lain-lain.

Selain itu, dalam mukadimah tafsirnya, menurut pandangan ulama semasanya ia juga merupakan seorang tabib (dokter). Kemudian, ada juga Ibn Sina (Avicenna). Seorang yang digadang-gadang sebagai bapak kedokteran modern dengan karyanya yang berjudul al-Qanun fi al-Thibb yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris “Canon of medicine“. Selain itu, ia juga merupakan seorang yang ahli dalam bidang ilmu filsafat, hal ini dibuktikan dengan karya-karyanya, seperti al-Isyarat wa al-Tanbihat, al-Syifa dan lain-lain.

Dua cendekiawan diatas adalah bentuk riil dari perpaduan yang harmonis antara pengetahuan kealaman (science) dan agama.

Namun, pernyataan Amin Abdullah  kontradiktif dengan apa yang dicetuskan oleh Ibrahim As-Syairazi. Dalam kitabnya yang berjudul al-Luma’ fi Ushul al-Fiqh, ia memberikan pandangan yang berbeda dengan Amin Abdullah. Manakala ia membahas definisi ilmu (pengetahuan), ia memulainya dengan mencoba menjelaskan hadd (batasan). Ia mengatakan, bahwa hadd adalah term dari sesuatu yang dikehendaki dengan menampakkan batasan dan cakupannya yang berfungsi mencegah masuknya unsur-unsur yang berada di luar (sesuatu yang dikehendaki).

Sederhananya, ia ingin mengatakan bahwa pengetahuan mestinya harus dibatasi dari hal-hal yang tidak tercakup dari pengetahuan tersebut, termasuk dalam konteks batas ilmu agama dan ilmu sains. Misal, pengetahuan tentang tuhan. Maka pembahasannya harus dalam kacamata teologi (ilmu ketuhanan). Hal-hal yang tidak termasuk dalam keilmuan teologi tidak diperkenankan untuk “ikut campur” pembahasan tentang tuhan. 

Seperti yang penulis katakan di muka, bahwa gagasan pengetahuan yang bersifat integratif-interkonektif membuka gerbang bagi pengetahuan lain, seperti ilmu-ilmu tentang alam dan ilmu-ilmu tentang humaniora untuk bisa berdialektika dengan teks-teks yang menjadi sumber pokok epistemologis ajaran Islam, yakni Al-Quran dan As-Sunnah.

Namun, penulis juga memandang ada sebuah celah yang terdapat dalam teori ini. Celah tersebut adalah adanya potensi tumpang tindih antar satu ilmu kepada ilmu lain. Contoh riilnya adalah salah satu universitas swasta di Yogyakarta, UII (Universitas Islam Indonesia). Meski dari namanya menunjukkan orientasi keislaman. Namun, faktanya justru dalam universitas tersebut, kajian keislaman justru menjadi kajian minoritas dan menggemuk pada kajian-kajian keilmuan kelaman dan sosial. 

Adapun kelebihan dari pendapat yang dinyatakan oleh Ibrahim As-Syairazi dalam al-Luma’ nya, mengindikasikan bahwa pengetahuan memang harus dibatasi oleh batas-batas pengetahuan itu sendiri. Dalam artian, supaya pengetahuan yang sedang dikaji tidak merembet terlalu jauh kepada hal-hal yang berada di luar pengetahuan tersebut. Namun, pendapat ini juga mempunyai kekurangan. Kekurangan tersebut terletak pada ketidakterbukaan pengetahuan ini terhadap pengetahuan lain. Penulis mengumpamakan gagasan yang dicetuskan oleh Ibrahim As-Syairazi ini seperti orang yang introvert (mengurung diri). Karena pengetahuan tersebut terlalu membatasi diri, maka pengetahuan yang lahir dari anggapan ini lebih cenderung bersifat rigid (kaku) dan kurang komprehensif.

Wallahu a’lam 

Leave your vote

333 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *