Urban Sufism dan Komersialisasi Dakwah

by -5 views
urban-sufism-dan-komersialisasi-dakwah

tebuireng.co Urban sufism berangkat dari antusias masyarakat dalam mempelajari agama yang semakin meningkat dewasa ini. Agama tidak hanya menjadi lilin penerang di lorong gelap, tetapi telah menjelma sebagai pelipur lara dalam arus modernitas yang penuh dengan logika rasionalistik. Agama, dengan demikian, (masih) diyakini menjadi yang, oleh Peter L. Berger (1969) disebut kanopi suci (the secret canopy); ibarat langit yang teduh dan melindungi kehidupan, penyiram panasnya kehidupan yang dapat menumbuhsuburkan tanaman.

Pembelajaran yang intim terhadap ajaran agama menjadi fenomena aktual bukan semata-mata karena ia lazim dilakukan oleh masyarakat di pinggir dan pelosok desa, tetapi justru kini tampak diamalkan pula oleh masyarakat kota. Banyak kalangan kemudian heran dan bertanya-tanya, mengapa masyarakat kota kini minat melirik agama—sebagaimana bisa diamati dalam publikasi di media cetak, elektronik, maupun online, antusias itu terlihat kompak, rutin, dan bersemangat. Apa sebenarnya yang dicari dari agama oleh masyarakat kota di tengah genangan materi harta kekayaan, kecanggihan teknologi, dan budaya hedonisme?

Spirit religiositas masyarakat kota tentu saja berbeda dengan model spiritualitas yang telah tumbuh berkembang secara intensif, formal, dan lebih komprehensif seperti yang umumnya diselenggarakan lewat lembaga pendidikan agama (pesantren) di “pinggir kota”. Pembelajaran agama yang berkembang di kota, biasanya dikemas dalam bentuk-bentuk praktis berupa pengajian, majlis dzikir dan shalawat, training spiritual, dan lain-lain. Itulah sebabnya, fenomena ini dikenal dengan istilah urban sufism (praktik tasawuf masyarakat perkotaan).

Sebagian kalangan berpendapat bahwa urban sufism merupakan evolusi dari tasawuf akhlaqi, yang menekankan pada pengamalan serta pembinaan akhlak seperti pentingnya sabar, dzikir, taubat, tawakkal, dan lain-lain. Tasawuf akhlaqi, yang dalam studi tasawuf seringkali diperlawankan dengan model tasawuf falsafi, memagari dirinya dengan Al-Quran dan Hadis secara ketat.

Lantas apakah tasawuf falsafi tidak berdasarkan pada Al-Quran dan hadis? Butuh penjelasan panjang untuk menjawab pertanyaan ini. Klasifikasi tersebut lebih kepada kepentingan akademik, sekadar untuk memudahkan dalam membedakan karakter keduanya. Sebab, penerjemahan terhadap makna tasawuf akhlaqi cenderung bias, misalnya Hamka menyebutnya sebagai “tasawuf modern” atau “tasawuf positif”. Sedangkan Fazlur Rahman mengistilahkan dengan “neo-sufisme”, dan apakah itu berarti tasawuf falsafi identik dengan hal-hal “negatif” dan “tradisional”?

Urban Sufism, Bukan Tarekat

Istilah urban sufism mengacu kepada praktik-praktik keagamaan yang lazim diamalkan oleh pengamal tasawuf atau lebih tepatnya kalangan tarekat, seperti lantunan dzikir, shalawat, dan doa. Praktik keagamaan ini menjadi menarik karena diamalkan oleh masyarakat kota yang tidak punya keterikatan formal dengan tarekat tertentu.

Para mentor atau penceramah dalam konteks urban sufism, mengemas acara lewat ceramah, shalawat, zikir, dan doa yang turut membawa peserta larut dalam keheningan dan kekhusyuan batin. Namun urban sufism bukanlah representasi dari kelompok tasawuf dan tarekat sebagaimana selama ini kita tahu ada tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah, Syadziliyah, Syattariyah, dan lain-lain. Urban sufism merupakan fenomena yang niscaya ada di kota-kota besar, namun keberadaannya tidak bisa dikatakan menggeser peran tarekat yang sudah berdiri kokoh, tetapi mungkin bisa saling melengkapi.

Praktik-praktik dzikir, shalawat, dan doa yang diajarkan oleh kelompok-kelompok keagamaan di masyarakat kota tidak mempunyai orientasi mencapai kedekatan yang sangat intim level fana’ dengan Sang Khalik. Inilah pangkal perbedaanya, antara urban sufism dengan tarekat. Jadi meskipun keduanya mungkin sama-sama mengamalkan tasawuf secara berjamaah (keorganisasian), tetap memiliki akar perbedaan yang sangat mendasar.

Makna dan pengamalan fana’ bukan hanya pada aspek lahiriah (kesadaran spiritual bahwa tiada Tuhan selain Allah), tetapi umumnya dalam tarekat juga pada aspek batiniah, yaitu meleburnya kesadaran manusia dengan Allah, wujud yang berdzikir bersatu dengan-Nya, sehingga yang mengucapkan dzikir adalah Dia. Dalam kondisi inilah, seorang salik oleh Syaikh al-Akbar Muhyidin Ibn ‘Arabi disebut huwa la huwa (Dia bukan Dia).

Apresiasi dan Nilai Bisnis

Lepas dari perbedaan pendapat terhadap fenomena urban sufism dalam hubungannya dengan narasi besar tasawuf, terdapat beberapa hal yang perlu direfleksikan. Pertama, praktik-praktik keagamaan yang diusung oleh urban sufism ternyata telah diapresiasi dan diterima oleh semua lintas golongan di negeri ini. Di antara mereka yang ikut bergabung dalam riuh spiritual itu dari berbagai kelompok masyarakat, mulai dari apa yang oleh Clifford Geertz disebut santri, abangan, dan priyayi maupun klasifikasi yang dibuat Deliar Noer, yaitu tradisionalis dan modernis.

Di sejumlah daerah, banyak ditemui para aktivis, peserta, dan inisiator urban sufism justru dari kalangan yang pada era-era sebelumnya alergi mendekati tasawuf. Misalnya, masyarakat yang punya afiliasi ke dalam ormas Islam Muhammadiyah. Sejarah perkembangan organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan ini tampak “alergi” kepada praktik tasawuf, sebab dicurigai akan menggiring seseorang pada perilaku TBC (takhayul, bid’ah, dan churafat).

Wajar kalau sampai sekarang Muhammadiyah tidak membahas secara eksplisit tentang tasawuf dalam lembaga fatwa Majelis Tarjih. Hal ini diperkuat oleh penelitian Arbiyah Lubis (1993) bahwa landasan pemikiran Muhammadiyah tegak berdiri di atas tiga fondasi, yaitu teologi, syariah dan pendidikan. Tasawuf, sebagai dimensi esoterisme Islam, tidak membuat tertarik Muhammadiyah untuk dijadikan sebagai landasan pemikirannya, tetapi mencukupkan diri pada aspek teologi, syariah, dan pendidikan.

Kedua, kepopuleran urban Sufism tidak bisa dilepaskan dari peran media massa dalam meliput dan sekaligus mengkampanyekan setiap acara. Bahkan dalam batas-batas tertentu, urban sufism telah dikomoditaskan sebagai sesuatu yang bisa menyedot perhatian pemirsa yang bernilai bisnis. Praktik-praktik keagamaan model begini pada akhirnya dikondisikan selalu sadar kamera; peserta/jamaahnya tampak berseragam rapi, tokoh agamanya disulap layaknya artis, pakaian atributnya merek tertentu yang sekaligus promosi alias iklan sehingga bernilai ekonomis.

Agama, jika demikian, meminjam istilah Greg Fealy dan Sally White dalam Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia (2008) telah “dikomersialkan”, yaitu ketika praktik agama dan atribut-atributnya telah menjadi semacam “barang dagangan” yang diperjualbelikan. Ini belum lagi bicara pada kualitas wawasan pengetahuan agama seorang ustadz/kiai, yang jauh berbeda dengan generasi-generasi ulama terdahulu. Ustadz modern dibesarkan secara singkat oleh teknologi internet dalam mengakses pengetahuan agama melalui laman-laman website islami tertentu. Sementara di masa lalu, untuk menjadi ustad perlu riyadhah, ngaji, dan belajar langsung hingga bertahun-tahun kepada seorang guru.

Tidakkah kita sadar dan menggelisahkannya? Wallahu a’alam.

Oleh: Ali Usman, dosen tasawuf dan filsafat di Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA) Yogyakarta

Baca juga: Bertasawuf Versi Syaikh Hisyam Kabbani

Leave your vote

About Author: RSSfeed Rss Feeds

Gravatar Image
Bukan penulis. Kami hanya sekumpulan baris-baris kode yang mengumpulkan berita terbaik yang berserakan. Kami sejenis bot yang baik hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *