Daging Kambing, Mendoan dan Secangkir Kopi Pahit untuk Gus Dur – Arrahim.ID

by -7 views
daging-kambing,-mendoan-dan-secangkir-kopi-pahit-untuk-gus-dur-–-arrahim.id

Views 8

Bulan Mei ini, saya berkesempatan untuk menghadiri peringatan Tragedi Mei 1998, melalui peletakan bunga Sedap Malam di Sinci Ita Martadinata dan merasakan rujak pare bumbu kecombrang di perkumpulan Boen Hian Tong (Rasa Dharma) Semarang. Rujak pare sambal bunga kecombrang mulai diperkenalkan pada 2018 sebagai bagian dari upaya melawan lupa.

Pare mentah diiris tipis-tipis, dicuci dan ditaburi es batu. Sedangkan sambal rujak di tambah dengan bunga kecombrang, diuleg dan siap dinikmati kepahitannya. Kepahitan pare melambangkan pahitnya tragedi Mei 1998, sementara bunga kecombrang adalah simbol perempuan Tionghoa korban perkosaan massal yang diibaratkan diulek, dianiaya dan dihancurleburkan.

Sedangkan sinci adalah papan kayu bertuliskan nama yang sudah meninggal dan diletakkan di altar penghormatan yang akan selalu didoakan pada setiap sembahyang dalam masyarakat Tionghoa. Ita Martadinata adalah seorang siswi SMU yang mendokumentasikan dan mendampingi para korban perkosaan pada kerusuhan 13-15 Mei 1998.

Sebelum keberangkatannya untuk memberikan kesaksian dan meminta perhatian internasional di PBB dan Kongres Amerika Serikat, Ita ditemukan tewas di kamarnya. Kematian Ita, menjadi pesan terhadap para saksi, korban dan pendamping akan resiko pengungkapan kekerasan seksual terhadap perempuan etnis Tionghoa.

Sinci Ita dibuat tahun lalu, diletakkan bersisian dengan sinci Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Sinci Ita berwarna putih, berukuran seperti sinci lainnya dengan tinta hitam mengukir namanya. Sinci Gus Dur berada tepat di tengah atau pusat altar. Berukuran paling besar, dengan pucuk menyerupai kubah Masjid Agung Demak, yang berarti iman Islam dan ikhsan, tinta emas mengukir nama Gus Dur dalam dua aksara.

Kedua sinci di atas menjadi bagian dari kurang lebih 25 tokoh komunitas Tionghoa Semarang yang mendapatkan kehormatan. Selain merupakan bentuk penghormatan, bagi saya sinci keduanya sebagai pejuang kemanusiaan yang menjadi pesan tidak hanya kepada etnis Tionghoa tetapi kepada yang datang untuk ziarah untuk terus memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Daging Kambing, Mendoan dan Kopi Hitam Untuk Gus Dur

Di dinding sisi sebelah kanan altar terdapat foto besar Gus Dur dengan tawanya yang khas. Dibawahnya terdapat prasasti bertuliskan demikian:

DOA UNTUK KESEHATAN GUS DUR

Malam ini, hari Sabtu Legi  tanggal 05 September 2009, di hari ke lima belas di bulan Ramadhan 1430, Jiet Gwee 17-2560, diatas replika kapal Cheng Ho, di halaman kelenteng Tay Kak Sie Semarang, kami:

Warga Nahdlatul Ulama Jawa Tengah dan Masyarakat Tionghoa Semarang

Bersama sama memanjatan doa untuk kesehatan Bapak KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Kami Masyarakat Tionghoa Indonesia, khususnya masyarakat Tionghoa Semarag sangat berterima kasih dan senantiasa mengingat jasa Gus Dur yang telah mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 melalui Kepres No.6 tahun 2000. Bagi Masyarakat Tiongho Seamarang: Gus Dur adalah Bapak Tionghoa Indonesia”.

Semoga Tuhan mengabulkan doa dan harapan kita semua. Amin

Semarang, 05 September 2009

Gus Dur memang tidak dapat kita pisahkan dari isu pluralisme, termasuk yang terkait dengan Agama Konghucu dan etnis Tionghoa di Indonesia. Melalui Keppres Nomor 6 Tahun 2000, penganut Agama Konghucu bisa merayakan Imlek secara bebas dan terbuka. Demikian halnya etnis Tionghoa mendapatkan layanan setara dalam layanan publik dan melaksanakan adat istiadatnya. Termasuk pertunjukan barongsai yang tidak dapat kita saksikan selama Orde Baru berkuasa.

“Tiga bulan setelah doa bersama ini Gus Dur mangkat”, Pak Harjanto Halim, Ketua Boen Hian Tong yang mendampingi kami menjelaskan isi dan prasasti bertintakan emas itu.

“Jika sinci Ita didoakan dan disembahyangkan pada bulan Mei, kapan sinci Gus Dur?” tanya saya

Pak Halim yang dengan sabar dan ramah menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait ritual dan tradisi Tionghoa, menjelaskan bahwa sinci Gus Dur akan didoakan dan disembahyangkan pada sembahyang arwah yang jatuh pada bulan Juli dan saat haul Gus Dur. Namun kemudian haul Gus Dur dirayakan bersamaan dengan hari raya Imlek yang tidak terpaut jauh dari bulan meninggalnya Gus Dur.

Perjuangan Pak Harjanto Halim, dalam membangun sinci Gus Dur tidaklah sebentar dan mudah, mengingat bagaimanapun Gus Dur beragama Islam dan non Tionghoa -walau Gus Dur diberbagai kesempatan mendaku bermarga Tan-. Pak Halim memulainya dengan menerima masukan dan usulan dari warga Tionghoa, berkonsultasi dengan para tokoh agama, membuatkan papan sinci dan meminta persetujuan kepada keluarga Gus Dur.

Upaya membangun pengertian-pun dilakukan dalam hal jenis penganan yang diletakkan di altar. Seperti kita ketahui makanan persembahan antara lain buah-buahan, makanan basah, kue-kue basah dan minuman anggur rendah alkohol. Mengingat Gus Dur muslim, maka sebagai bentuk toleransi tata cara sajianpun di altar pun diganti.

Sam Cong alias tiga jenis daging yang wajib berada di altar diganti. Jika sebelumnya adalah ikan, ayam dan babi, kini daging babi diganti dengan kambing. Bukan hanya itu, mendoan dan secangkir kopi pahit yang merupakan kesukaan Gus Dur turut disajikan.

Sambil menikmati rasa pahit pare dan rasa khas kecombrang, saya -juga kolega lainnya- memamah dan mencoba memahami pesan-pesan yang tersampaikan melalui ritual rujak pare dan doa kami terhadap dua sinci. Ketika pengurus perkumpulan menawarkan untuk menjadi anggota kehormatan, saya tidak perlu berpikir panjang.

Bersedia menjadi anggota kehormatan perkumpulan Boen Hian Tong (Rasa Dharma) Semarang merupakan upaya untuk terus merawat ingatan tragedi Mei 1998, teguh untuk memperjuangkan hak asasi manusia, menjaga reformasi serta demokrasi di Indonesia. Seperti yang telah dilakukan Ita dan Gus Dur. Saya berharap haul dan Imlek ke depan, dapat menyaksikan daging kambing, mendoan dan secangkir kopi disajikan untuk sinci Gus Dur, untuk toleransi dan kebhinekaan kita. Amin (mmsm)

More

Leave a Reply

Your email address will not be published.