Ciri-ciri Ustadz dan Ustadzah Abal-abal yang Mesti Diketahui Agar Tak Bimbang

by -13 views
ciri-ciri-ustadz-dan-ustadzah-abal-abal-yang-mesti-diketahui-agar-tak-bimbang

Banjirembun.com – Fenomena menjamurnya Ustadz dan Ustadzah gadungan masih saja ada. Hal tersebut berakibat membuat masyarakat bingung. Timbul educated-kontra di tengah mereka. Ada yang terhanyut, ada pula yang berpegang kuat pada ilmu.

Kunjungi situs terbaik 2021 yaitu www.banjirembun.com

Harus diakui bahwa mayoritas manusia lebih mendahulukan tampilan, tulisan, dan lisan ketika menilai individu. Tatkala tiga hal itu dianggap bagus, secara sembrono menyimpulkan bahwa akhlak dan keahliannya juga dianggap bagus.

Apa yang dianggap bagus seperti di atas, boleh jadi perilaku sehari-hari secara apa adanya dan kemampuan agama yang dimiliki teramat minim. Akibatnya, citra Ustadz mengalami penurunan nilai. Ustadz bukan lagi gelar yang sulit didapat.

Inilah ciri-ciri Ustadz dan Ustadzah abal-bal.

1. Tidak Fasih Membaca al Quran

Ustadz secara harfiah berarti guru. Umumnya ditujukan guru agama. Untuk mendapat gelar tersebut tentu tidaklah mudah. Mana mungkin seorang pengajar dalam bidang hiburan semata, kemaksiatan, dan kesesatan pantas disebut Ustadz.

Seorang Ustadz dan Ustadzah itu wajib fasih membaca al Quran. Kalau ada orang yang mau dan senang dirinya disebut Ustadz silakan minta dia untuk membaca al Quran dengan fasih. Seandainya tidak bisa mintalah ia belajar ngaji dulu.

2. Tidak Hafal 20 Surat Pendek dan Hadits Populer

Dua puluh surat terpendek dalam al Quran seharusnya dihafalkan di luar kepala oleh Ustadz. Bukan cuma untuk menjadi imam Salat. Melainkan pula menunjukkan bukti bahwa ia peduli pada al Quran karena menghafalnya.

Paling tidak saat menyampaikan ajaran agama secara lisan, ia mesti menyisipkan ayat-ayat atau hadits di dalamnya. Sangat tabu seorang Ustadz saat memaparkan perintah agama menghindari bacaan berbahasa arab tersebut. 

3. Tidak Mampu Berbahasa Arab Lisan Maupun Tulisan

Menghafal surat pendek, ayat-ayat, dan hadits populer tidaklah cukup. Seorang ingin menjadi sebenar-benarnya Ustadz dituntut untuk mahir berbahasa arab. Paling tidak secara pasif. Baik dari segi lisan serta tulisan.

Sungguh teramat lucu ketika disuruh menulis arab ternyata hurufnya jelek. Serta lama sekali dalam proses menulisnya. Penguasaan bahasa arab ini sangat penting lantaran sumber hukum Islam tekstual menggunakan bahasa arab.

4. Ilmu Agama yang Didapat Tidak Mendalam

Baru saja menonton video ceramah, bacaan buku agama berbahasa Indonesia, ikut kajian agama, atau yang semacamnya sudah merasa paling tahu tentang Islam. Menganggap orang lain perlu dicerahkan supaya berhijrah.

Walau tidak bermaksud menonjolkan diri maupun ingin dipanggil ustadz, nyatanya bersikap layaknya ustadz. Niatnya mungkin baik guna dakwah dan syiar Islam. Namun, mengandalkan semangat tanpa dibekali ilmu cukup itu sebuah kesalahan fatal.

5. Selalu Memunculkan Kontroversi

Tampilan pakaian sangat Islami dan disebut ustadz tapi selalu memunculkan kontroversi. Bukan maksud melarang atau mengolok pihak yang sering mengenakan busana muslim dan berpeci. Akan tetapi menyayangkan saja menyalahgunakan simbol umat Islam.

(sumber gambar pixabay)

Permasalahannya bukan pada tampilan fisik. Polisi yang baik dapat berpakaian sipil layaknya preman. Tujuannya menyamar. Begitu pula sebaliknya koruptor, preman, teroris, atau semacamnya dapat berbaju agamis untuk mengelabui.

6. Terlalu Cinta pada Dunia

Orang yang haus popularitas, selalu cari perhatian, dan gemar dapat pujian sungguh tidaklah pantas disebut ustadz maupun ustadzah. Apalagi bagi mereka yang hangat-hangat tai ayam. Kadang perilakunya baik tapi tetap melakukan hal bejat.

Bila pun berperilaku islami maka itu tujuannya untuk meraih simpati publik. Tentu ujung-ujungnya supaya penghasilan uangnya makin meningkat. Karir menjadi melejit. Kontrak kerja diperpanjang. Serta penghasilan dari YouTube meledak.

7. Gelar Ustadz Diberikan oleh Media

Gelar ustadz disandangkan pada individu yang memberikan ialah masyarakat. Bukan dari hasil mempromosikan diri, memplokamirkan diri, maupun hasil pemberian dari media massa. Jelas kalau itu yang terjadi layak disebut ustadz palsu.

Pihak yang mempromosikan seseorang menjadi ustadz tentu faktor utamanya ialah komersil. Ingin menarik minat pembaca atau penonton supaya menikmati kontennya. Padahal sosok yang disebut ustadz itu tidak jelas asal-usulnya. Belum teruji keandalannya di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *