Cerita Nenek Murip: Naik Haji dari Pemulung dan Pemijat

by -25 views
cerita-nenek-murip:-naik-haji-dari-pemulung-dan-pemijat

Sejumlah ikhtiar dilakukan asal bisa mengumpulkan dana dari hasil yang halal
untuk berangkat ke Tanah Suci. Dari mulai tukang pijat hingga pengumpul barang bekas.
“Profesi” itu dilakoni hingga ke Malaysia sebagai TKI. Berikut kisahnya
sebagaimana ditulis Tribunnews.

Sudah lama cita-cita Murip mengenakan pakaian ihram, menjadi tamu Allah
untuk menunaikan ibadah haji. Meski hidupnya miskin, nenek berusia 61 tahun itu
pantang mengendurkan niatnya yang sudah ia pupuk sejak lama.

Aku kepingin haji, nek mati dosaku cik disepuro karo gusti Allah (saya
mau naik haji, kelak mati dosa saya Allah maafkan),” Murip menceritakan
keinginannya saat ditemui wartawan Surya, Hanif Manshuri, di rumahnya.

Seperti kebanyakan tetangga desanya di Bulubrangsi, Solokuro, mulai
berkecukupan sekian tahun usai memburu ringgit ke Malaysia. Begitulah Murip
melanglang ke negeri jiran, mencari pengharapan sebagai modal untuk menunaikan
rukun Islam kelima.

Bersama para lelaki asal desanya, sekira 2005 ia berangkat ke Malaysia.
Nasib mereka sama: warga miskin. Urusan paspor Murip percayakan kepada
tetangganya yang sama–sama mengadu untung ke Malaysia.

Tanpa modal pendidikan dan kemampuan, mau apa Murip di Malaysia apalagi usia
sudah menua? Sederhana saja, memulung dan menjadi tukang pijat selama di
kampung halamannya di Lamongan, begitulah yang Murip andalkan di Malaysia.

Berbilang hari, bulan dan tahun, Murip selalu berusaha sesuai kebiasaannya
secara tekun. Idamannya melihat Kakbah menjadi penguat Murip mencari botol
bekas dan barang apapun yang bisa didaur ulang dan dijual, asalkan halal.

Di atas semua ikhtiar itu, tak pernah Murip menanggalkan shalat sunah,
apalagi yang wajib. Ia tak peduli orang memandangnya hina. Selagi badan dan
tenaganya masih bisa untuk berkerja, apapun ia lakukan siang malam.

“Aku di Malaysia ya tetap jadi pemulung. Aku tidak bisa kerja apa selain
itu. Aku juga menjadi tukang pijat kepada siapa pun yang memintanya bantuan,”
cerita Murip.

Praktis ketika buruh migran asal Indonesia, apalagi tak berdokumen, selalu
dipandang miris oleh Polis Diraja Malaysia, tak demikian Murip. Keluguan dan
kejujuran Murip membuatnya selalu mendapat perlakuan baik.

“Katanya pak kiai, uang untuk berangkat haji itu harus benar–benar halal.
Jadi saya juga tidak mau sampai meminta–minta,” kata Murip.

Bukan persoalan mudah memulung barang yang dapat dijual lalu menghasilkan
uang. Kadang dua hari sekali Murip baru mendapatkan barang rongsokan. Satu kali
ia mendapat mendapat sampai satu pick up. Setelah terkumpul, barang itu
diangkut ke pengepul.

”Alhamdulilah, saya tidak perlu menyewa angkutan. Karena ada orang Cina di
Malaysia yang selalu memberikan pinjaman mobil dan sopirnya untuk mengangkut
barang saya secara gratis,” kata dia.

Semua yang diperbuatnya Murip percaya berkat sikap jujur dan juga selalu
ingat kepada Allah dan menjalankan semua perintah-Nya. Di setiap shalat, dan di
sepertiga malam, selalu Murip mendaraskan doa agar bisa menunaikan haji sebelum
berkalang tanah.

Saban menyetorkan barang rongsokan ke pengepul, Murip rutin membawa satu
tundun pisang matang dan air mineral kemasan gelas satu dus untuk ke masjid.
Kedatangannya selalu menjadi kabar gembira bagi anak-anak yang tergiur pisang
bawaannya.

“Alhamdulillah setelah itu selalu banyak barang (mulung, red) yang saya
dapatkan,” kenangn Murip.

Sedikit demi sedikit uang yang terkumpul ia kirimkan ke Ghozali, tetangganya
di Lamongan yang membantunya untuk mendaftarkan sebagai jemaah calon haji. Saat
itu masih ada dana talangan haji. Ia juga masih menyisihkan kiriman uang anak
dan cucunya di rumah.

Suami sudah meninggalkan keempat anak-anak Murip sejak kecil. Selama itulah
ia harus menjadi tulang punggung terdepan keluarga seorang diri. Ia terbantu
oleh program dana talangan haji. Uang yang sudah terkumpul Rp 20 juta, Ghozali
langsung daftarkan atas nama Murip ke BNI pada 18 Januari 2010.

Begitu uang yang dititipkan Ghozali sudah terkumpul, Murip langsung pulang
dari Malaysia kebetulan paspornya yang berusia lima tahun sudah habis. Ia
mendapat nomor porsi 1300399082 usai terdaftar sebagai peserta haji.

Kembali ke kampungnya di Lamongan ia tetap mencari tambahan agar bisa ke
Tanah Suci, dengan memulung dan memijit.

Tak sia-sia ikhtiar dan doanya selama ini. Saat ada pemberitahuan pelunasan
dana haji 2016, Murip mampu membayar tambahan Rp 15, 5 juta. Seluruh biaya itu
ia usahakan sendiri lewat tenaga dan keringatnya, tanpa perlu berharap pada
pemberian orang, apalagi meminta-minta.

Murip sudah terdaftar untuk menunaikan ibadah haji, tapi tak punya rumah.
Kepala Desa Bulubrangsi yang peduli lalu memberikan bantuan bedah rumah,
akhirnya Murip menempati tanah GG desa. Listrik rumah pun menumpang dari
tetangga.

“Alhamdulillah Pak Kadesnya baik, rumah saya ini juga dibantu Pak Kades
lewat program bedah rumah. Tanahnya juga milik negara,” tanpa ragu Murip
bersyukur atas kebaikan tersebut. Ia serumah dengan cucunya, Nadia.

Perihal Murip segera berangkat haji begitu cepat tersiar. Semua warga
Bulubrangsi jadi tahu, tahapan manasik pun sudah Murip laksankaan di salah satu
kelompok bimbingan ibadah haji di Lamongan.

Menjelang waktu keberangkatan, Murip masih mengisi hari-harinya memulung dan
menjadi tukang pijat. Uang hasil menjual barang rongsokan semisal botol plastik
bekas, kardus, kertas dan potongan besi ia pakai untuk kebutuhan sehari–hari
dan uang saku cucunya yang duduk di bangku kelas lima madrasah itu.

“Saya tidak malu, yang penting tidak mencuri. Saya percaya kok, kalau saya
baik dengan orang, rezeki pasti akan gampang didapatkan,” begitu prinsip hidup
Murip yang ia pegang teguh.

Lumrahnya orang yang bakal naik haji sibuk mempersiapkan barang-barang,
Murip hanya berdoa, berharap Allah memberikan kesehatan sampai mempurnakan
segala rukun haji seperti yang Nabi Muhammad SAW dulu lakukan.

Murip sungguh murah hati, selagi diajak mengobrol ia menyempatkan
memijat-mijat pundak dan bahu wartawan Surya sambil menyelipkan doa agar bisa
melaksanakan umrah dan haji.

“Ayo, ayo nak, ke rumah Pak Kades. Nanti biar saya tidak disalahkan, ada
tamu kok tidak memberi tahu Kades,” kata Murip mengajak Surya.

Ia tak ingin disalahkan karena tak melapor jika ada tamu ke rumahnya.
Setibanya di rumah pak kades, hanya ada istrinya, Vivi. Ia membenarkan Murip
akan naik haji. Orang-orang sampai ada yang sudah memanggilnya kaji (haji).

Hati Murip sekarang sudah plong, harta wadag memang tak banyak. Keinginannya
melihat Kakbah sambil mengucap Labbaik Allah Humma Labbaik, Labbaik Laa
Syarika laka Labbaik
segera terwujud.

Sumber: Surya


Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *