in ,

Cara menghadapi bias kognitif yang hadir selama pandemi COVID-19

Manusia sedang bertempur melawan SARS CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19. Dalam melawan musuh tak kasat mata ini, kita harus mengenali bias kognitif kita. Bias kognitif adalah kesalahan sistematis dalam berpikir yang mempengaruhi cara kita mengambil keputusan dan memberikan penilaian.

Pandemi COVID-19 telah mengekpos berbagai bentuk bias kognitif.

Bias kognitif seringkali mendorong kita untuk bertindak secara irasional seperti menimbun tisu kamar mandi.

Orang-orang lain bahkan dapat mengambil keputusan yang tidak logis seperti mengkonsumsi pembersih akuarium yang mengandung chloroquine sebagai upaya mencegah terinfeksi coronavirus.

Kita menyebut orang-orang yang bertindak secara irasional tersebut sebagai “covidiots”.

Namun, tahukah Anda bahwa sebagian besar dari kita rentan terhadap beberapa bentuk bias kognitif?

Terdapat tiga bias kognitif yang kita saksikan selama pandemi COVID-19:

1. Action Bias (Bias tindakan)

Orang-orang seringkali percaya bahwa suatu tindakan tertentu dapat menyelesaikan masalah saat pandemi COVID-19. Ketika berbagai pemimpin dunia menyampaikan pidato dengan tujuan mengurangi ketakutan publik terhadap “kekurangan pasokan makanan”, sebagian dari mereka justru mulai melakukan panic buying.

Meski mereka diberi kepastian bahwa suplai makanan cukup dan stabil, masyarakat mulai menimbun tisu kamar mandi dan berbagai persediaan makanan.

Kita seringkali berpikir bahwa dengan melakukan tindakan seperti menimbun persediaan rumah tangga, kita dapat mengurangi risiko yang tidak diketahui terkait COVID-19. Akan tetapi, dengan berkerumun di pasar swalayan, kita malah mungkin menghadapi risiko infeksi yang lebih tinggi.

2.Efek takut ketinggalan (fear of missing out (FOMO)) dan efek ikut-ikutan (bandwagon effect)

Selain itu, gambar yang memperlihatkan antrean panjang dan rak-rak yang kosong dapat menyebabkan rasa takut ketinggalan yang tidak diperlukan. Hal ini dapat menyebabkan efek ikut-ikutan atau bandwagon effect, yaitu kecenderungan untuk secara membabi buta mengikuti tindakan orang lain.

Jika kita merasa orang lain melakukan tindakan tertentu, kita cenderung untuk melakukannya juga, terutama saat sedang krisis.




Baca juga:
Seeing is believing: how media mythbusting can actually make false beliefs stronger


3. Bias konfirmasi

Bias konfirmasi adalah kecenderungan untuk mencari informasi yang mendukung keyakinan kita.

Kita membentuk keyakinan terhadap berbagai aspek terkait coronavirus sebelum kita memperoleh bukti tentang kebenarannya. Selanjutnya kita mencari-cari informasi yang relevan untuk memvalidasi keyakinan tersebut. Sebagai ilmuwan yang terlatih, kami harus memastikan bahwa kami menginterpretasi data secara akurat. Interpretasi data yang kami lakukan tidak boleh dipengaruhi oleh hal-hal yang kami pilih untuk percaya.

Strategi untuk berpikir jernih selama pandemi COVID-19

1. Menerapkan cara berpikir perlahan

Berpikir secara perlahan akan membantu kita mengambil keputusan secara sadar, walaupun cara berpikir ini akan membutuhkan lebih banyak energi mental. Sistem berpikir ini aktif ketika kita dihadapi dengan keputusan yang besar seperti membeli rumah atau memilih pasangan hidup.

Kita dapat menerapkan cara berpikir yang lambat jika kita berhenti sejenak dan menulis alasan-alasan yang berlawanan dan yang mendukung keput

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

indonesia-perlu-selidiki-potensi-vaksin-bcg-melindungi-tubuh-dari-covid-19

Indonesia perlu selidiki potensi vaksin BCG melindungi tubuh dari COVID-19

obat-dexamethasone-gugus-bukan-penangkal-covid-19

Obat Dexamethasone Gugus Bukan Penangkal Covid-19