30.9 C
Jakarta
Tuesday, May 17, 2022

Cara Melakukan Investigasi Visual – GIJN Indonesia

Citizen ReportCara Melakukan Investigasi Visual - GIJN Indonesia
Investigasi visual dilakukan tim The New York Times untuk menelisik kerusuhan di gedung Capitol AS. (Gambar: Tangkapan layar)
Investigasi visual dilakukan tim The New York Times untuk menelisik kerusuhan di gedung Capitol AS. (Gambar: Tangkapan layar)

Investigasi visual adalah teknik anyar yang makin kerap digunakan dalam liputan. Jurnalis menggunakannya ketika memiliki banyak video yang bisa digunakan sebagai bukti dan dianalisis. Salah satu contoh terbaik penggunaan teknik ini adalah liputan mengenai kerusuhan di gedung US Capitol pada 6 Januari 2021.

Saat meliput peristiwa tersebut, jurnalis The New York Times (NYT) menggunakan ratusan jam rekaman video untuk menelisik kerusuhan yang terjadi pasca-Pilpres AS 2021 tersebut. Sumber video beragam. Mulai dari rekaman siaran langsung, unggahan di sosial media, rekaman kamera pengawas, hingga video yang diambil oleh orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian. Dengan menggunakan teknik ini, NYT berhasil mengungkap bahwa kerusuhan dilakukan secara terorganisir oleh para pendukung Donald Trump.

NYT memang punya tim investigasi visual khusus. Beberapa bulan sebelum memublikasikan liputan soal kerusuhan Gedung Capitol, mereka merilis investigasi mengenai penembakan Breonna Taylor, seorang perempuan Afro-Amerika, di rumahnya.

Menariknya, investigasi tersebut dilakukan di tengah keterbatasan video yang bisa dijadikan bahan liputan. Mereka menyiasatinya dengan menggunakan informasi dari ribuan halaman dokumen dan foto di tempat kejadian perkara. Hasilnya: investigasi ciamik yang dilengkapi dengan rekonstruksi tiga dimensi.

Perangkat investigasi visual

Melimpahnya video yang bisa dijadikan bahan liputan bukan berarti investigasi lebih mudah dilakukan. Adakalanya, seperti pada kerusuhan Gedung Capitol, yang terjadi adalah kekacauan visual. Perlu beberapa kemampuan dasar menggunakan perangkat analisis ketika berhadapan dengan kondisi seperti itu. Tim investigasi visual NYT misalnya, banyak memakai VideoIndexer.AI untuk mengelola ratusan jam video soal kerusuhan Gedung Capitol.

Dalam salah satu sesi di Global Investigative Journalism Conference ke-12, tiga jurnalis NYT memaparkan pengalamannya melakukan investigasi visual. Menurut mereka, teknik ini memungkinkan jurnalis untuk menunjukkan dengan tepat pelaku tindak kejahatan. 

Hal lainnya yang juga ditekankan oleh para panelis adalah masih pentingnya teknik peliputan tradisional. Malachy Browne, produser senior di tim investigasi visual NYT menyebut bahwa wawancara, penelitian, dan permintaan data tetap menjadi pendekatan inti dalam liputan.

“Langkah mengumpulkan semua jenis bukti digital — penanda waktu, klip video, citra satelit, foto — kemudian mengaturnya serta mendapatkan petunjuk dan fakta dari bukti-bukti tersebut, digabungkan dengan (teknik) pelaporan tradisional untuk menemukan kebenaran tentang suatu peristiwa,” ujarnya.

Tim investigasi visual NYT menggunakan data lalu lintas laut dan citra satelit untuk melacak penyelundupan minyak dari China ke Korea Utara. (Gambar: Tangkapan layar)
Tim investigasi visual NYT menggunakan data lalu lintas laut dan citra satelit untuk melacak penyelundupan minyak dari China ke Korea Utara. (Gambar: Tangkapan layar)

Browne menambahkan bahwa investigasi visual dapat membangun kepercayaan publik di era misinformasi dan rendahnya kepercayaan publik terhadap media. Pasalnya, teknik pelaporan ini secara transparan menunjukkan peristiwa dan proses liputan.

Transparansi tersebut ditunjukkan oleh tim NYT dalam berbagai proyek liputan yang mereka garap beberapa tahun terakhir. Dua di antaranya mengulas soal serangan mematikan pesawat tak berawak AS yang gagal di Afghanistan dan serangan udara Israel di Gaza yang menewaskan 44 orang.

Investigasi visual untuk melengkapi

Satu hal menonjol lainnya yang terungkap melalui sesi panel ini adalah kemampuan investigasi visual mengatasi hambatan investigasi tradisional. Hal ini terbukti ketika tim NYT melacak sebuah kapal yang mematikan transpondernya dan menghilang dari situs MarineTraffic.

Untuk menyiasati masalah tersebut, pertama-tama mereka mengidentifikasi fitur fisik kapal dengan melakukan penelusuran di media sosial. Selanjutnya, citra satelit resolusi rendah yang disediakan oleh SentinelHub digunakan untuk melakukan penelusuran lanjut. Hasil penelusuran kemudian dipublikasikan dalam liputan bertajuk dalam investigasi Times terhadap penyelundupan yang disebut “A Tanker and a Maze of Companies: One Way Illicit Oil Reaches North Korea.”

Langkah serupa dilakukan saat melakukan investigasi kematian Breonna Taylor. Anjali Singhvi yang terlibat dalam liputan tersebut mengatakan bahwa tim menyiasati pemblokiran akses oleh penegak hukum dengan beberapa strategi.

Untuk mengetahui tata letak apartemen misalnya, tim memeriksa unit lain di apartemen yang identik dengan tempat tinggal Taylor. Mereka juga melakukan mengambil foto dan video bagian luar apartemen di Louisville, Kentucky. Peninjauan wawancara polisi, tak lupa dilakukan. Berbagai bahan tersebut kemudian dikombinasikan dengan data penegakan hukum yang dirilis untuk umum. Tim NYT kemudian membuat pemodelan jalur proyektil berdasarkan penanda lintasan sederhana yang juga dipakai oleh tim forensik polisi untuk mengidentifikasi penembakan di tempat kejadian.

“Peluru menembus furnitur; melalui panci dan wajan — lima di antaranya melewati pintu teras; sedangkan dua lainnya sampai ke apartemen sebelah,” kata Singhvi. “Kami melacak lintasan peluru dari laporan balistik dan katalog selongsong yang dibuat Malachy. Video tim SWAT… juga membantu.”

Kiat investigasi visual

  • Gunakan VideoIndexer.AI ketika menggarap liputan yang rumit. Kegunaan perangkat ini, menurut Browne, adalah untuk mengunggah video, melakukan transkripsi secara otomatis, dan kemudian memungkinkan pengguna untuk mencari kata tertentu dalam transkrip tersebut. “Perangkat ini tidak melakukan pengenalan wajah, tetapi mampu mengenali beberapa objek – jadi, ketika perangkat ini mendeteksi adanya seseorang yang sama muncul di tempat yang berbeda, Anda dapat memeriksanya,” kata Browne.
  • Telisik klip video dengan perangkat seperti Watch Frame yang dikembangkan oleh Frame. Anda bisa menggunakannya untuk menonton klip dalam gerakan lambat atau memutar sudut video.
  • Teliti kelompok yang mungkin terlibat dalam insiden kekerasan. Browne mengatakan penelitian terhadap tiga kelompok supremasi kulit putih sebelum 6 Januari membantu tim NYT melacak wajah melalui video yang diambil dari beberapa arah.
  • Gunakan Twitter list untuk membangun cerita mengenai sebuah karakter. Telusuri Twitter list orang yang dicurigai, lalu salin dan gabungkan daftar ke dalam daftar yang Anda buat sendiri.
  • Cobalah mereka ulang adegan menggunakan perangkat 3D sumber terbuka. Salah satu perangkat gratis yang bisa digunakan adalah Blender.
  • Carilah mitra atau stringer dengan yang menguasai bahasa dan memiliki pengetahuan mengenai budaya lokal untuk menggali lebih dalam. Muyi Xiao, reporter investigasi visual di NYT misalnya, mengungkapkan bahwa reporter lokal di Asia berperan penting dalam liputan soal penyelundupan minyak Korea Utara. Salah satu peran besarnya adalah memahami lima ejaan berbeda untuk nama pendiri perusahaan yang terlibat dalam penyelundupan tersebut.
  • Lacak kapal dan pemiliknya dengan menggunakan perangkat sumber terbuka. Untuk melacak kapal gunakan MarineTraffic, VesselFinder, SentinelHub, Planet Explorer, dan Image Hunter. Untuk pencarian perusahaan yang lebih spesifik di Asia, gunakan basis data seperti Equasis, World Ship Register, dan Vessel Value.
  • Luangkan waktu untuk menelusuri dasbor berisi perangkat investigasi visual terbaru. Anda bisa mencari solusi forensik dalam kotak perangkat OSINT yang dibuat Marc Kranat. (Penyadur: Kholikul Alim)

Artikel lainnya:


Rowan Philp adalah reporter GIJN. Ia pernah bekerja untuk Sunday Times di Afrika Selatan. Sebagai koresponden luar negeri, ia meliput beragam topik seperti korupsi, politik, dan konflik di lebih dari dua lusin negara di berbagai belahan dunia.

Tulisan ini disadur dari Turning Dead-Ends Into Breakthroughs Using Visual Investigation Techniques yang dipublikasikan Global Investigative Journalism Network (GIJN). Untuk menerbitkan ulang tulisan ini, Anda bisa menghubungi alim.kholikul@gijn.org.

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles