Buntut Kalah Perang, Krisis Politik Memuncak di Armenia

by -22 views
buntut-kalah-perang,-krisis-politik-memuncak-di-armenia

Kisruh teranyar dipicu perselisihan antara PM Nikol Pashinyan dan petinggi militer. Dia mencurigai adanya niat kudeta. Buntutnya ribuan pendukungnya turun ke jalan. Aksi ini disambut demonstrasi tandingan.

Senin (1/3) sekelompok demonstran menyerbu masuk ke dalam sebuah gedung pemerintah di ibu kota Armenia, Yerevan. Mereka menuntut agar Perdana Menteri Nikol Pashinyan mengikuti imbauan militer untuk mengundurkan diri.

Tuntutan itu dilayangkan bekas Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Onik Gasparyan, usai dipecat oleh Pashinyan. Keduanya berselisih ihwal penggunaan peluru kendali Rusia, Iskander, dalam perang melawan Azerbaidjan di Nagorno-Karabakh.

Pashinyan dan kabinetnya dituduh “tidak mampu mengambil keputusan yang dibutuhkan,” tulis Gasparyan dalam sebuah petisi yang ditandatangani 40 petinggi militer, termasuk Wakil Kepala Staf, Tiran Khachatryan, pahlawan Perang Nagorno 1994, yang ikut dipecat.

Namun pada Sabtu (27/2), Presiden Armenia Armen Sarkisian, menolak menandatangani perintah perdana menteri untuk memakzulkan Gasparyan. Keputusannya itu menambah runcing situasi politik di Yerevan.

“Presiden republik, berdasarkan kewenangan yang diberikan konstitusi, mengembalikan rancangan perintah pemakzulan dengan penolakan,” tulis Kantor Kepresidenan Armenia. Krisis politik saat ini, “tidak bisa ditanggulangi lewat pergantian jabatan secara terus menerus.”

Tidak lama setelah pengumuman itu, Pashinyan menulis di Facebook dia akan mengirimkan rancangan perintah pemecatan lain kepada Presiden Sarkisian. Menurutnya penolakan presiden tidak meredakan krisis “sama sekali.”

Pashinyan dulu memimpin gerakan “Revolusi Beludru” yang menumbangkan bekas PM Serzh Sargsyan yang pro-Rusia, dan menggantungkan kelangsungan kekuasaannya pada sebuah klan politik yang berisikan bekas komandan militer pada Perang Nagorno pada 1992-94.

Demonstran anti pemerintah di ibu kota Armenia, Yerevan, 22 Februari 2021.

Pendukung oposisi turun ke jalan untuk menuntut PM Nikol Pashinyan mengundurkan diri. Mereka mendukung petisi militer yang menuntut pembubaran kabinet.

Krisis sebagai buntut kalah perang

Pashinyan menggunakan istilah kudeta ketika petinggi militer menuntut pengunduran dirinya. Pada Sabtu (27/2), ribuan pendukungnya turun ke jalan menolak intervensi tentara dalam urusan politik. 

Namun aksi solidaritas itu bersambut demonstrasi tandingan kelompok oposisi. Pada Minggu (28/2), sekitar 5.000 orang tercatat mengitari jalan-jalan protokol ibu kota demi menuntut pemakzulan perdana menteri.

“Pashinyan harus pergi demi kemaslahatan negeri. Posisinya sudah terlalu lemah. Tidak seorangpun menanggapinya secara serius,” kata Vera Simonyan, seorang demonstran berusia 28 tahun. 

Bekas Perdana Menteri Vazgen Manukyan, yang dinominasikan partai-partai oposisi buat menggantikan Pashinyan, ikut menyuarakan tekanan terhadap rival politiknya. “Hari ini Pashinyan tidak punya dukungan. Saya mengimbau aparat keamanan dan polisi untuk bergabung bersama militer dan mendukung militer.” 

Meski demikian, sejauh ini fraksi oposisi di parlemen gagal mengumpulkan jumlah kehadiran sesuai quorum untuk memakzulkan Pashinyan.

  • Bangunan hancur akibat serangan di wilayah Nagorno-Karabakh

    Korban Jiwa Akibat Konflik Nagorno-Karabakh

    Hancur berkeping-keping

    Pemerintah Armenia dan Azerbaijan saling tuding, atas aksi serangan yang dituduh dengan sengaja menyerang warga sipil dengan bom. Katedral ternama dari abad 19 di kota Shusha juga ikut hancur pada awal Oktober. Menurut pihak berwenang di wilayah Nagorno-Karabakh, pasukan Azerbaijan bersiaga tidak jauh dari pusat kota.

  • Ragiba Guliyeva di depan rumahnya yang hancur

    Korban Jiwa Akibat Konflik Nagorno-Karabakh

    Tidak ada lagi tempat tinggal

    Ragiba Guliyeva berdiri di reruntuhan rumahnya di Ganja, kota terbesar kedua di Azerbaijan, yang terkena serangan roket. “Saya berada di dapur ketika balok kayu dan batu menghujani saya secara tiba-tiba,” katanya. “Saya berteriak sekeras mungkin.” Pemerintah Azerbaijan menyalahkan pasukan Armenia atas serangan itu.

  • Berduka atas meninggalnya bocah berusia 13 tahun dalam serangan di Ganja

    Korban Jiwa Akibat Konflik Nagorno-Karabakh

    Duka bagi banyak keluarga

    Otoritas Azerbaijan melaporkan tidak sedikit korban tewas akibat serangan di Kota Ganja. Cucu Guliyeva yang berusia 13 tahun, Artur, adalah salah satu korban tewas. Pada acara kebaktian di gereja, guru dan teman sekelas Artur memberikan penghormatan terakhir. Menurut angka resmi, sedikitnya 130 warga sipil tewas di kedua sisi.

  • Beberapa pria jadi sukarelawan untuk menjaga kota

    Korban Jiwa Akibat Konflik Nagorno-Karabakh

    Menjadi relawan di garda terdepan

    Pihak berwenang di Nagorno-Karabakh mengatakan 1.200 tentara telah tewas sejak terjadinya pertempuran pada bulan September. Pemerintah Azerbaijan belum melaporkan total kerugian militernya. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan setidaknya 5.000 orang tewas di kedua sisi. Para pemuda menjadi sukarelawan di garis terdepan, seperti para pejuang di ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert.

  • Perempuan dan anak-anak berada di ruangan dengan gambar seorang tentara yang meninggal

    Korban Jiwa Akibat Konflik Nagorno-Karabakh

    Konflik puluhan tahun

    Wilayah Nagorno-Karabakh telah dikuasai oleh separatis Armenia sejak pemerintah Azerbaijan kehilangan kendali dalam perang teritorial tahun 1988 hingga 1994. Gencatan senjata telah diberlakukan sejak itu. Lukisan di sebuah sekolah di Barda dibuat untuk menghormati seorang tentara yang meninggal.

  • Bendera Turki dan Azerbaijan di depan sebuah toko yang menempelkan poster propaganda

    Korban Jiwa Akibat Konflik Nagorno-Karabakh

    Intervensi dunia internasional?

    Propaganda dan retorika perang mengatur kehidupan sehari-hari di Azerbaijan, yang diperintah oleh rezim otoriter. Pemerintah di Baku, menerima senjata dan dukungan solidaritas dari Turki. Rusia adalah kekuatan pelindung bagi pemerintah Armenia, di Yerevan. Para pengamat memperingatkan bahwa kekuatan regional dapat secara aktif campur tangan dalam konflik tersebut.

  • Seorang pria tua duduk di meja makan

    Korban Jiwa Akibat Konflik Nagorno-Karabakh

    Bertahan di pengungsian

    Otoritas regional memperkirakan bahwa setengah dari penduduk, atau 75.000 orang, dapat melarikan diri dari pertempuran tersebut. Warga yang tetap bertahan, tinggal di ruang bawah tanah dan tempat penampungan.

  • Lokasi pengungsian bagi penduduk Stepnakert

    Korban Jiwa Akibat Konflik Nagorno-Karabakh

    Pandemi COVID-19 di zona perang

    Hidup di lokasi pengungsian telah menjadi hal yang biasa bagi banyak penduduk Stepanakert. Meski kamar penuh sesak dan ventilasi buruk, orang-orang aman dari serangan bom. Tetapi dokter mengingatkan bahaya virus corona yang cepat menyebar. Tidak ada angka resmi, namun beberapa dokter memperkirakan bahwa sekitar setengah dari penghuni tempat penampungan dinyatakan positif COVID-19.

  • Sekolah yang dialihfungsikan jadi tempat penampungan

    Korban Jiwa Akibat Konflik Nagorno-Karabakh

    Ruang kelas jadi tempat penampungan darurat

    Banyak orang melarikan diri dari pertempuran di Azerbaijan, termasuk warga dari kota Terter. Beberapa dari mereka menemukan perlindungan di negara tetangga Barda, sekitar 20 kilometer dari Nagorno-Karabakh, di mana sekolah dialihfungsikan menjadi tempat penampungan darurat sejak akhir September. Tetapi mereka juga masih belum aman dari dampak konflik.

  • Mobil terbakar di depan gedung yang hancur di Barda

    Korban Jiwa Akibat Konflik Nagorno-Karabakh

    Serangan udara hancurkan kota

    Beberapa bangunan hancur dan mobil terbakar selama serangan udara berlangsung di Barda beberapa pekan lalu. Otoritas Azerbaijan melaporkan sedikitnya 21 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Pemerintah Armenia membantah serangan itu.

  • Situasi bangunan yang hancur di Nagorno-Karabakh

    Korban Jiwa Akibat Konflik Nagorno-Karabakh

    Menanti terwujudnya kedamaian

    Pemerintah Azerbaijan menuntut penarikan penuh pasukan Armenia dari Nagorno-Karabakh. Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, secara resmi meminta bantuan Rusia. (ha/pkp)

    Penulis: Julia Hahn


Popularitas sang perdana menteri anjlok setelah Armenia kalah dalam perang selama 44 hari di Nagorno Karabakh. Buntutnya Azerbaidjan kini menguasai sebagian besar wilayah pegunungan di antara kedua negara itu. 

Perjanjian damai yang disepakati Pashinyan dinilai mempermalukan Armenia. Namun sang perdana menteri bersikeras dirinya harus menyudahi pertempuran, karena Armenia dikhawatirkan akan menderita kekalahan yang lebih besar jika perang berlanjut.

“Dia harus bertanggungjawab atas kekalahan dalam perang, atas ratifikasi perjanjian yang mempermalukan Armenia,” kata seorang demonstran oposisi kepad AFP.

rzn/hp (afp, dpa)

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *