30.9 C
Jakarta
Tuesday, May 17, 2022

Biografi Sayyidah Nafisah, Keturunan Rasulullah yang Hafal Al-Qur’an di Usia 7 Tahun  | Bincang Syariah

IslamiBiografi Sayyidah Nafisah, Keturunan Rasulullah yang Hafal Al-Qur’an di Usia 7 Tahun  | Bincang Syariah

BincangSyariah.Com– “Jika hendak mencari wanita ahli ibadah yang sangat taat, akademisi murni tanpa banyak berdikari, zuhud pada dunia dan isinya, sangat berhati-hati, mempunyai karamah yang banyak, sangat tangkas dan lebih unggul dari wanita lainnya, serta memiliki garis keturunan yang mulia, maka figurnya adalah Sayyidah Nafisah.

Ia adalah seorang wanita salehah yang lahir pada hari Rabu, tanggal 11 Rabi’ul Awal, tahun 145 H di kota Makkah, pada masa kekhilafahan sultan Abu Ja’far Abdullah bin Muhammad bin ‘Ali bin Abdullah bin ‘Abbas.”

Hari kelahirannya bertepatan dengan hari kelahiran kakeknya yang mulia, Nabi Muhammad SAW, nabi penutup bagi para nabi dan rasul, utusan paling mulia dan paling sempurna.

Seolah, hari kelihrannya memberikan isyarat yang sangat jelas, bahwa kelak akan tumbuh menjadi wanita mulia, suci dari berbagai kekurangan, dan memiliki derajat yang tinggi nan luhur, kemuliannya masyhur bagi penduduk bumi dan penduduk langit.

Nama Lengkap dan Kisah Kelahirannya

Wanita yang sangat tekun menjalankan kewajiban itu bernama lengkap Sayyidah Nafisah binti Sayyid Hasan al-Anwar ibn Sayyid Zaid al-Ablaj ibn Sayyid Hasan ibn Sayyidina Ali, dan Sayyidah Fatimah az-Zahra binti Rasulullah saw.

Sayyidah Nafisah lahir ketika ayahnya, Sayyid Hasan sedang duduk dalam suatu majlis di Baitullah al-Haram di kota Makkah al-Mukarramah, saat itu ia mengajarkan manusia tentang ilmu dan memberikan pemahaman-pemahaman tentang agama, serta mengajak umat Islam untuk selalu menyempurnakan iman.

Ayahnya selain sebagai keturunan (dzurriyah) Rasulullah, ia juga menjadi sosok yang sangat taat dalam beribadah, bahkan ia juga sangat dalam keilmuannya.

Kegiatannya dalam setiap malam tidak lain selain setiap sesuatu yang manfaat. Setelah shalat Isya mengajar dan memberikan nasihat-nasihat kepada umat manusia, di tengah malam ia bermunajat kepada Allah dengan beribadah, sembari berdoa agar diberikan anak yang saleh/salehah. Demikian kegiatannya dalam setiap malam.

Di tengah-tengah pengajiannya, datanglah kepadanya seorang budak, dengan membawa kabar bahagia, yaitu lahirnya anak perempuan. Budak itu berkata kepadanya:

يَا سَيِّدِي أَبْشِرْ فَقَدْ وَلَدَتْ لَكَ اللَيْلَة مَوْلِدَةٌ جَمِيْلَةٌ لَمْ نَرَ أَحْسَنَ مِنْهَا وَجْهًا يَتَلَأْلَأُ النُّوْرُ مِنْ جَنْبَيْهَا.

Artinya, “Wahai Tuhan! Berbahagialah. Sungguh telah lahir kepadamu malam ini, anak perempuan yang cantik, tidak pernah kami jumpai yang lebih baik darinya, terpancar cahaya dari wajahnya.”

Ketika Sayyid Hasan mendengar berita bahagia itu, ia langsung melakukan sujud syukur kepada Allah sebagai ungkapan terimakasih atas doa yang ia panjatkan, tentang keinginannya untuk dikaruniai anak perempuan, sekaligus ungkapan syukur atas pemberian Allah yang sangat mulia nan agung itu. (Syekh Jabbar Siraj, Qisshatu Sayyidah Nafisah, [Maktabah Taufiqiyah, Yaman], halaman 10).

Didikan Sayyidah Nafisah

Sayyidah Nafisah mendapatkan tarbiyah (didikan) langsung dari ayahnya sejak masih kecil. Sejak saat itu, ketakwaan dan spiritualitasnya mulai muncul. Ia sangat senang melakukan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT sejak masih belia. Ia tumbuh besar di kota Madinah Nabawiyah, dan selalu bersama dengan wanita-wanita salehah.

Namun, perbedaannya dengan wanita-wanita biasa pada umumnya sangat tampak dalam dirinya, ia lebih senang menghabiskan waktunya untuk beribadah, membaca Al-Qur’an dan menuntut ilmu. Bahkan, ia berhasil menghafal Al-Qur’an sejak umurnya masih sangat belia, yaitu umur tujuh tahun.

Semua tindak langkahnya sejak kecil yang selalu fokus pada ibadah tidak bisa dipungkiri. Sebab, sejak Sayyidah Nafisah lahir, ia mendapatkan keridhaan langsung dari Allah dan Rasulullah.

Dalam kitab Mursyiduz Zuwar ila Quburil Abrar, Syekh ‘arif billah Muwaffiquddin bin Utsman (wafat 615 H) menceritakan, bahwa ketika Sayyidah Nafisah lahir, Sayyid Hasan (ayahnya) membawanya ke makam Rasulullah di Madinah, kemudian ia membawanya ke dalam makam Rasulullah dan berkata:

يَا رَسُوْلَ الله اِنِّي رَاضٍ عَنْ اِبْنَتِي نَفِيْسَةً

Artinya, “Wahai Rasulullah! Sungguh saya ridha pada anak perempuanku, Nafisah.”

Hal itu dilakukan oleh sang sayah tidak dengan tujuan apa-apa kecuali untuk mendapatkan keridhaan dan keberkahan dari kakeknya, Rasulullah. Setelah ziarah itu selesai, Sayyid Hasan pulang bersama dengannya. Sesampainya di rumah, pada malam hari, Sayyid Hasan bermimpi didatangi Rasulullah saat tidur. Rasulullah bersabda kepadanya:

يَا حَسَنُ اِنِّي رَاضٍ عَنْ اِبْنَتِكَ نَفِيْسَة بِرِضَاكَ عَنْهَا. وَالْحَقُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى رَاضٍ عَنْهَا بِرِضَاي

Artinya, “Wahai Hasan! Saya ridha kepada putri perempuanmu, Nafisah, sebagaimana keridhaanmu kepadanya, dan Allah SWT ridha kepadanya, sebagaimana keridhaanku.” (Muwaffiquddin bin Utsman, Mursyiduz Zuwar ila Quburil Abrar, [Darul Mishriyah, Lebanon: 1995], halaman 196).

Begitulah sejarah singkat lahirnya Sayyidah Nafisah. Ia lahir di kota Makkah al-Mukarramah, dan tumbuh besar di kota Madinah al-Munawwarah. Ia tumbuh sebagai wanita yang sangat taat dalam melaksanakan kewajiban, selalu melakukan ibadah dengan tulus dan ikhlas, serta jarang keluar dari masjid Nabawi dalam rangka menuntut ilmu.

Tidak hanya itu, kemuliaan dan keluhurannya juga dipengaruhi oleh garis keturunannya yang mulia. Ia memiliki nasab yang bersambung pada Rasulullah, nabi paling mulia yang Allah utus kepada umat akhir zaman.

(Baca: Mengenal Nyai Makkiyah As’ad: Ulama Perempuan Pengasuh Tiga Pondok Pesantren di Jawa Timur)

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles