Biografi Ibnu Mujahid, Penghimpun Tujuh Imam Qira’at (II)

by -1 views

Sebagaimana telah dijelaskan pada artikel yang pertama bahwa hasil penelitian Ibnu Mujahid terangkum dalam sebuah karya yang monumental, yaitu Kitab as-Sab’ah fi al-Qira’at”.

Karya ini merupakan kitab babon dalam bidang ilmu qira’at, sebab karya-karya qira’at yang lahir setelah kitab ini, mayoritas merujuk kepada kitab ini.

Kitab as-Sab’ah Kitab as-Sab’ah yang merupakan hasil penelitian Ibnu Mujahid tentang qira’at Al-Qur’an ini menghimpun tujuh imam qira’at sebagai representasi dari setiap negeri Islam.

Pada dasarnya, Ibnu Mujahid bukanlah orang pertama yang menghimpun dan menulis tentang para imam qira’at. Sebelumnya terdapat beberapa imam yang menulis tentang qira’at al-Qur’an, yaitu: Pertama, Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam (w. 224 H), beliau menulis sebuah karya yang terhimpun di dalamnya 25 imam qira’at. (Ibnu al-Jazari, al-Nasyr fi al-Qira’at al-Asyr/1/33-34).Kedua,Ismail bin Ishaq al-Qadhi (w. 282 H), menulis sebuah karya yangberisi tentang 20 imam qira’at. (Ibnu al-Jazari, Ghayat al-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra’/1/162). Ketiga, Abu Hatim Sahal bin Muhammad as-Sijistani (w. 255 H), beliau banyak memiliki karya termasuk dalam bidang qira’at.(Ibnu al-Jazari, Ghayat al-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra’/1/320), dan lain-lain.

Penulisan karya ini bertujuan untuk menjaga bacaan atau qira’at al-Qur’an dan mempermudah pelajar atau penggiat ilmu qira’at dalam mempelajarinya. Dalam kitab ini, Ibnu Mujahid menyederhanakan periwayatan qira’at, sebab pada saat itu dijumpai banyak masyakarat yang kesulitan mempelajari qira’at al-Qur’an karena banyaknya cabang dan jalur bacaan.Di samping itu, disinyalir terdapat beberapa qira’at yang tidak mutawatir. Oleh karena itu, beliau berupaya menghimpun bacaan yang shahih dan mutawatir demi tujuan mulia tersebut.

 

Baca juga: Biografi para Imam Qira’at Al-Qur’an

Suatu ketika ditanyakan kepada Ibnu Mujahid: “Kenapa kamu tidak menghimpun dan mendokumentasi bacaanmu sendiri?”

Beliau menjawab: “Menjaga bacaan imam-imam terdahulu lebih dibutuhkan daripada memilih salah satu bacaan mereka” (adz-Dzahabi, Siyar A’lam an Nubala’/11/488).

 Negara dan para Imam Pilihan Ibnu Mujahid

Di Madinah, Ibnu Mujahid memilih Imam Nafi’ (w. 169 H) Di Makkah, ia memilih Ibnu Katsir (w. 120 H) Di Bashrah, ia memilih Abu Amr al-Bashri (w. 154 H) Di Syam, ia memilih Ibnu Amir (w. 118 H) Di Kufah, ia memilih tiga imam; Ashim bin Abi Najud (w. 128 H) Hamzah al-Zayyat (w. 156 H) Ali al-Kisa’I (w. 189 H) Urutan Imam Qira’at antara Ibnu Mujahid dan Ulama Setelahnya

Pada periode selanjutnya, penetapan urutan imam qira’at mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Posisi urutan imam qira’at yang ditetapkan oleh Ibnu Mujahid berbeda dengan yang dilakukan oleh ulama setelahnya. Perubahan penetapan posisi ini bertujuan untuk memudahkan para generasi berikutnya.

Selain itu, ditetapkan pula dua perawi yang paling masyhur dari setiap imam qira’at. Perawi yang dipilih merupakan murid langsung dari imam qira’at, seperti Imam Qalun dan Warsy dari Imam Nafi’ dan Imam Hafs dan Syu’bah dari Imam Ashim, atau murid tidak langsung, seperti Imam Qunbul dan al-Bazzi dari Imam Ibnu Katsir atau Hisyam dan Ibnu Dzakwan dari Imam Ibnu Amir.

Berikut tabel urutan imam qira’at dan para perawinya:

No

Urutan Ibnu Mujahid

No

Ulama Setelahnya

1

Nafi’ al-Madani

1

Nafi’ al-Madani

2

Ibnu Katsir

2

Ibnu Katsir

3

Ashim al-Kufi

3

Abu Amr al-Bashri

4

Hamzah al-Zayyat

4

Ibnu Amir asy-Syami

5

Ali al-Kisa’i

5

Ashim al-Kufi

6

Abu Amr al-Bashri

6

Hamzah al-Zayyat

7

Ibnu Amir asy-Syami

7

Ali al-Kisa’i

No

Imam Qira’at

Perawi 1

Perawi 2

1

Nafi’ al-Madani

Qalun

Warsy

2

Ibnu Katsir

Qunbul

Al Bazzi

3

Abu Amr al-Bashri

Al Duri

Al Susi

4

Ibnu Amir asy-Syami

Hisyam

Ibnu Dzakwan

5

Ashim al-Kufi

Syu’bah

Hafs

6

Hamzah al-Zayyat

Khalaf

Khallad

7

Ali al-Kisa’i

Abu al-Harits

Al Duri

Pengaruh Ibnu Mujahid

Karya Ibnu Mujahid yang fenomenal dan monumental dalam bidang ilmu qira’at ini merupakan penelitian yang dilakukan dalam rangka menghimpun bacaan yang shahih dan bersambung kepada Nabi Muhammad saw. Penelitian dan penulisan karya ini memiliki pengaruh yang sangat dahsyat, baik pada masa itu maupun setelahnya.

Dalam hal ini pengaruh Ibnu Mujahid terbagi menjadi dua kategori: positif dan negatif.

Pengaruh Positif Hasil penelitian Ibnu Mujahid ini mendapatkan sambutan yang luar biasa dari para ulama. Banyak ulama setelahnya yang mendukung dan menulis karya serupa dengan mengikuti metode yang dilakukan oleh Ibnu Mujahid, termasuk diantaranya adalah Abu: Amr al-Dani (w. 444 H).

Abu Amr al-Dani menulis sebuah karya tentang bacaan tujuh imam qira’at hasil penelitian Ibnu Mujahid, yaitu “At-Taisir fi al-Qira’at as-Sab’i”.

Selain al-Dani, Imam Makki bin Abi Thalib (w. 437 H) juga menulis “al Tabshirah fi al-Qira’at as-Sab’i” yang berisi tentang bacaan qira’at tujuh, selain itu ia juga menulis tentang hujjah qira’at sab’ah, yaitu “al Kasyfu ‘An Wujuh al-Qira’at wa Ilaliha wa hujajiha”. Ibnu Syuraih (w. 476 H) juga menyusun kitab “Al Kafi fi al-Qira’at as-Sab’i”, dan lain-lain.

Pada periode berikutnya, penulisan karya tentang qira’at sab’ah (tujuh bacaan) ditindaklanjuti oleh imam As-Syathibi (w. 590 H). Beliau menulis sebuah karya yang sangat fenomenal dan monumental dalam bidang tujuh qira’at, yaitu: “Hirz al-Amani wa Wajh al-Tahani fi al-Qira’at as-Sab’i”. Karya ini berbentuk nadham yang indah dan mudah dihafal.

Karya as-Syathibi ini merupakan perasan atau intisari dari karya imam al-Dani, yang sudah dihafal sebelumnya. Di tangan as-Syatibi inilah barangkali bisa dikatakan sebagai puncak ketenaran qira’at sab’ah. Tidak kurang dari 50 kitab yang memberikan syarah (mengulas) kitab ini. Bahkan sampai sekarang di madrasah, ribath dan kampus-kampus Islam, kitab ini dikaji dan menjadi diktat khusus untuk mendalami qira’at sab’ah.

Baca juga: Ilmu Qira’at dan Tajwid: Persamaan dan Perbedaannya

Pengaruh Negatif Hasil penelitian Ibnu Mujahid yang hanya memilih 7 imam qira’at berdampak negatif kepada sebagian masyarakat. Tidak sedikit yang menganggap bahwa tujuh bacaan imam qira’at pilihan Ibnu Mujahid merupakan representasi dari ahruf sab’ah. Padahal faktanya tidak demikian. Sehingga untuk menghilangkan anggapan tersebut, para ulama menulis karya yang menghimpun lebih dari tujuh imam qira’at; sebagian ada yang menulis qira’at ats-tsaman (delapan), dan sebagian ada yang menulis qira’at asyrah (sepuluh) sebagaimana yang dilakukan oleh al-Jazari (w. 833 H) dalam kitabnya “al-Nasyr fi al-Qira’at al-Asyr”.

Imam al-Jazari mengatakan bahwa sebagian ulama menulis qira’at delapan, sebagian yang lain menulis qira’at asyrah, menambahi jumlah yang disusun oleh Ibnu Mujahid dengan tujuan untuk meredam anggapan yang salah di atas. (Ibnu al-Jazari, al-Nasyr fi Qira’at al-Asyr/43).

Teknik Talaqqi dalam Majelis Ibnu Mujahid Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa Ibnu Mujahid memilih 7 imam qira’at dari beberapa negara Islam. Setelah kepulangannya dari perjalanan ilmiah, beliau membuka pengajian di kampung halaman. Banyak para penuntut ilmu darisegala penjuru yang datang untuk belajar kepadanya.

Dalam majelis pengajiannya, Ibnu Mujahid mengajarkan bacaan tujuh imam qira’at kepada murid-muridnya dan menerapkan sistem “khalifah” (asisten). Murid-murid yang berkompeten diangkat oleh Ibnu Mujahid sebagai “khalifah”. Jadi apabila terdapat murid-murid yang baru, maka sebelum belajar secara langsung kepada beliau, harus terlebih dahulu belajar kepada khalifah. Jumlah murid yang kompeten dalam mengajar (khalifah) kala itu kurang lebih berjumlah 48 orang dan murid yang belajar sekitar 300 an.(al Jazari, al-Nasyr fi al-Qira’at al-Asyr/1/122) lihat pula: (al Jazari, Ghayat al-Nihayat/1/139).

Dari sini dapat diketahui bahwa Ibnu Mujahid merupakan salah seorang ulama ahli qira’at pada abad ke empatyang pertama kali menghimpun 7 imam qira’at dengan menyederhanakan jalur dan cabang periwayatannya. Tujuan beliau adalah menjaga bacaan atau qira’at al-Qur’an serta mempermudah para penuntut ilmu dalam mempelajari dan menghafalkannya. Ibnu Mujahid sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu qira’at di era setelahnya.Kendati menyulut kontroversi antara dampak positif dan negatif, namun kiprah beliau tidak disangsikan. Jerih payah beliau tidaklah sia-sia.

Ustadz Moh. Fathurrozi, penulis buku “Mengarungi Samudra kemuliaan 10 Imam Qira’at”

Leave your vote

401 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *