in ,

Benarkah Menstrual Cup Bisa Bikin Haid Cepat Selesai?

Ketika belum pakai menstrual cup, Melissa harus mengenakan celana pendek dalaman supaya tidak tembus saat mens. Pembalutnya selalu bocor, padahal selalu diganti dua jam sekali. Perempuan 26 tahun asal Puerto Rico ini akhirnya ‘menambal’ dengan celana pendek supaya bekas tembusnya tidak terlalu kentara. “Hidup saya berkutat di sekitar kapan haid, karena saya tidak bisa melakukan banyak hal,” ujarnya. Setelah beralih ke menstrual cup, siklus haid Melissa berkurang dari tujuh hingga delapan hari menjadi lima atau enam hari saja. Dia juga bilang tidak sederas dulu.

Menstrual cup sebenarnya sudah ada sejak 1937, tapi baru mulai muncul ke permukaan dalam beberapa tahun terakhir. Produk berbentuk corong ini dikatakan lebih ramah lingkungan daripada pembalut karena bisa dipakai berulang kali. Terbuat dari silikon standar medis, menstrual cup cukup mudah dipakai. Kalian hanya perlu melipat dan menyisipkannya ke dalam vagina. Tampaknya ramah lingkungan bukan satu-satunya manfaat dari menstrual cup. Pada Juni, grup Facebook Put A Cup In It mengadakan survei yang melibatkan 1.400 pengguna menstrual cup. Hasilnya menunjukkan, 53 persen perempuan lebih cepat selesai haid setelah memakai produk ini. Semua narasumber yang VICE hubungi — mulai dari peneliti, ahli medis, pendidik hingga produsen menstrual cup — sudah mengetahui fenomena ini. Entah kenapa belum ada yang menelitinya secara ilmiah.

Anggota grup bernama Jen mengatakan keluhan menstruasinya bertambah parah setelah melahirkan. Perempuan 39 tahun dari Texas ini bolak-balik ganti tampon setiap 45 menit sekali. “Setelah satu tahun pakai cup, yang tadinya darah haid keluar banyak selama enam hari, sekarang jadi dua hari haid deras dan satu hari biasa saja,” bunyi pesan Facebooknya.

Kim Rosas mendirikan situs web Put a Cup In It, platform edukasi seputar menstruasi yang membantu perempuan memilih menstrual cup yang tepat. Dia sering mendengar cerita orang-orang mengalami masa haid lebih pendek, serta nyeri haidnya berkurang berkat menstrual cup. Saking seringnya, dia mengharapkan margin lebih tinggi dari survei yang diselenggarakannya di Facebook. “Menstrual cup terbukti mengurangi limbah dan hemat biaya, tapi manfaat kesehatan yang belum diteliti ini juga penting untuk diperhatikan,” tuturnya.

Menstrual cup semakin banyak digunakan, tapi belum bisa mengalahkan popularitas tampon dan pembalut. Foto: Pixabay

Uang adalah segala-galanya, terutama dalam dunia penelitian dan inovasi medis. Selain uang, ada budaya patriarki yang menghambat. Inovasi disfungsi ereksi dirasa lebih menarik daripada produk menstruasi. Di negara-negara seperti Swedia, Norwegia dan Yunani, produk kebutuhan haid masih dikenakan pajak barang mewah, berbeda dengan Selandia Baru yang Perdana Menteri-nya—Jacinda Ardern—menggratiskan produk sanitasi untuk pelajar perempuan.

Tak seperti pembalut, menstrual cup memiliki kurva belajar yang membantu pemakai memastikan bagaimana agar darahnya tidak tumpah. Kalian wajib mengenali vagina sendiri sebelum mulai menggunakannya. Grup semacam Put a Cup In It dibentuk untuk memudahkan pengalaman kalian ketika beralih ke menstrual cup. Para perempuan bisa saling bertukar saran dan cerita di sana. Begitu kalian jago memakainya, menstrual cup bisa digunakan hingga 10 tahun.

Melihat semua manfaat ini, kenapa menstrual cup kurang mendapat perhatian kalangan ilmiah?

Dr. Annemieke van Eijk, peneliti riset klinis senior dari Liverpool School of Tropical Medicine, menulis meta-analisis dalam penelitian menstrual cup pada 2019. Meski sudah mendengar soal ini, dia mengakui belum ada yang menguji manfaat menstrual cup bagi siklus haid perempuan. “Penelitiannya masih minim,” katanya lewat email, “mungkin karena ini tentang perempuan dan masih dianggap tabu.”

Menstruasi adalah bagian alami dari kehidupan perempuan, tetapi jarang dibicarakan dan dinilai “tabu”. Lelaki tidak mau atau bahkan menyepelekan menstruasi karena risi membahasnya. Tak hanya itu saja, perempuan di Nepal bahkan diusir dari rumah dan dikurung di dalam “pondok menstruasi” ketika datang bulan.

Coach menstruasi Claire Baker, yang membantu perempuan memahami siklus menstruasinya, melihat kurangnya minat dalam penelitian kesehatan perempuan sebagai masalah besar. “Perempuan secara historis jarang terwakilkan dalam studi medis,” katanya. Ini menunjukkan kesalahpahaman bahwa kesehatan perempuan “tidak menguntungkan” mendasari kurangnya riset dan inovasi dalam bidang tersebut.

Claire berujar keuntungan memakai menstrual cup tidak sebatas ramah lingkungan dan hemat biaya saja. Produk ini tidak mengandung bahan kimia, dan takkan membuat leher rahim iritasi. “Dari pengalaman pribadi dan klien, saya memperhatikan adanya persepsi darah haid tidak keluar sebanyak dulu,” dia berspekulasi soal fenomena ini. “Dengan tampon atau pembalut, kita tidak bisa mengukur volumenya secara pasti.”

Dokter obgyn Jen Gunter, yang menulis The Vagina Bible, sepakat masa menstruasi lebih pendek kemungkinan merupakan hasil dari persepsi orang tentang banyaknya darah yang dikeluarkan. “Perempuan yang memakai cup mungkin memperhatikan volume darahnya dengan cara yang berbeda daripada ketika mengenakan tampon atau pembalut,” tuturnya. Dia skeptis menstrual cup dapat menciptakan perbedaan biologis. Dr. Larisa Corda, dokter obgyn dan ahli kesuburan, mengusulkan “tekanan negatif” dari penyedot cup mungkin meningkatkan aliran darah haid yang pada akhirnya “mengurangi durasi menstruasi”. Dia juga berpandangan bahan kimia dalam tampon dan pembalut (penghilang bau, pewarna, pestisida dan pewangi) bisa saja memengaruhi aliran dan penggumpalan darah.

“Kami sering mendengar cerita orang haidnya lebih cepat selesai. Saya sendiri juga mengalaminya,” tutur Heli Kurjanen selaku CEO Lune, merek menstrual cup di Finlandia. “Orang-orang mengalami siklus menstruasi yang lebih singkat dan ringan. Secara keseluruhan, mereka berpikir haid terasa lebih mudah dengan menstrual cup.” Heli menekankan meskipun terdengar menjanjikan, respons pengguna belum terbukti secara ilmiah. Selama ini, manfaat-manfaat tersebut hanya disampaikan pengguna lewat grup dan pesan Facebook.

Dia berharap fenomena ini dapat diuji secara klinis. “Sayang sekali topik ini dianggap tidak menarik,” keluhnya. Madalena Limão dari OrganiCup, produsen menstrual cup di Denmark, sependapat dengan Heli. Penelitian semacam ini dapat membawa perubahan besar bagi kesehatan perempuan. “Jika teruji manfaatnya, menstrual cup akan sangat mengubah hidup orang-orang yang mengalami nyeri haid.”

Sandra mulai pakai menstrual cup lima bulan lalu, di usianya yang ke-40. “Nyeri haidnya langsung berkurang, dan paling cuma mens satu hari,” ujar perempuan asal South Carolina dalam pesan Facebook. “Saya juga merasa darah yang keluar tidak sederas dulu. Andai saja saya pakai menstrual cup dari dulu.”

Pandemi COVID-19 menjadi pengingat menyakitkan bahwa kesehatan kita seakan tidak ada harganya; hal-hal sepele tampak lebih penting. Saya yakin menstrual cup akan lebih cepat diteliti manfaatnya jika itu secara langsung melibatkan laki-laki, karena begitulah yang terjadi biasanya. Karena keluhan perempuan seputar kondisi kesehatannya, termasuk nyeri haid, sering disepelekan dan dianggap reaksi histeris belaka.

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

facebook-dan-instagram-bakal-rutin-ingatkan-orang-agar-tak-lupa-pakai-masker

Facebook dan Instagram Bakal Rutin Ingatkan Orang Agar Tak Lupa Pakai Masker

ngobrol-dengan-dokter-di-makassar-yang-sendirian-tangani-193-pasien-covid-tanpa-gejala

Ngobrol dengan Dokter di Makassar yang Sendirian Tangani 193 Pasien Covid Tanpa Gejala