Banjir di NTT: BNPB ralat info korban meninggal dunia dan hilang setelah verifikasi

by -0 views
banjir-di-ntt:-bnpb-ralat-info-korban-meninggal-dunia-dan-hilang-setelah-verifikasi

Banjir Flores Timur

Sumber gambar, EPA/Polres Adonara

Keterangan gambar,

Files BNPB menunjukkan banjir ini adalah yang terparah dalam lebih 10 tahun terakhir.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meralat info korban jiwa akibat banjir bandang NTT setelah dilakukan verifikasi. Jumlah korban meninggal dunia yang sebelumnya tercatat 128 jiwa, kini menjadi 84 jiwa.

Kepala Pusat Files Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengungkapkan dari 11 kabupaten dan kota ang terdampak banjir bandang, sebanyak 84 jiwa dinyatakan meninggal dunia.

“Kesepakatan kemarin yang dinyatakan meninggal dunia adalah yang telah ditemukan jenasahnya dan telah diverifikasi,” ujar Raditya Jati dalam konferensi pers, Selasa (06/04).

Jumlah korban meninggal terdiri dari 49 jiwa di Flores Timur, 16 jiwa di Lembata, 15 jiwa di Alor, dua korban jiwa di Malaka, masing-masing satu orang di Kupang dan Ende.

his picture taken on April 5, 2021 shows damaged homes after a flash flood in Waiwerang village, East Flores, as at least 157 people have been killed in Indonesia and neighbouring

GETTY

Dampak banjir NTT dipicu badai Seroja

  • 84orang meninggal dunia

  • 123orang luka-luka

  • 103orang hilang

  • 2.683orang terdampak

  • 1.962rumah terdampak

  • 14fasilitas umum rusak berat

Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Files per 5 April 2021)

Sebelumnya, menurut info BNPB per Senin (05/04), pukul 23.00 WIB, jumlah warga meninggal dunia sebanyak 128 jiwa, dengan rincian di Kabupaten Lembata 67 orang, Flores Timur 49, dan Alor 12.Sedangkan jumlah korban hilang mencapai 72 orang, dengan rincian Kabupaten Alor 28 orang, Flores Timur 23, dan Lembata 21.

Keterangan video,

Banjir di NTT: Pejabat salahkan warga dengan tuduhan merambah hutan

Raditya beralasan, perubahan info di Kabupaten Lembata terjadi sebab dari 67 orang yang dinyatakan meninggal dunia dalam info sebelumnya, baru 16 ditemukan jenasahnya dan identitasnya telah diverifikasi. Sementara sisanya, dikategorikan sebagai “orang yang hilang”.

Sumber gambar, ANTARA FOTO / Robert Ola Bebe

Keterangan gambar,

Warga membuat saluran air pascabanjir bandang di Desa Lamanele Kecamatan Ile Boleng, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (6/4/2021).

Raditya beralasan perubahan info ini terjadi setelah BNPB melakukan verifikasi info dengan yang ada di daerah, khususnya di Lembata.

“Terus terang ini pasti akan muncul pertanyaan di publik, masalah info, tapi kita tetap berusaha memberikan info secepat mungkin dan terverifikasi.

“Ini adalah mekanisme yang harus kami lakukan dan kami sudah lakukan verifikasi dan ini info terakhir yang kami dapatkan dan langsung sudah diverifikasi,” jelas Raditya dalam konferensi pers.

Tak lama setelah konferensi pers, BNPB memperbarui datanya dengan catatan 86 korban meninggal dunia dan 98 jiwa hilang, per Selasa (06/04) pukul 15.00 WIB.

Adapun jumlah orang dalam kondisi luka-luka bertambah menjadi 2.683 orang.

Cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi

Cuaca ekstrem dampak siklon tropis Seroja masih berpotensi terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam beberapa hari ke depan.

Raditya mengatakan, BKMKG mengimbau kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar home yang berpeluang terjadi gelombang tinggi untuk tetap waspada dan siaga.

Warga yang mengungsi tersebar di lima kabupaten di wilayah Provinsi NTT.

Pengungsian terbesar diidentifikasi berada di Kabupaten Sumba Timur dengan jumlah 7.212 jiwa (1.803 KK) , Lembata 958, Rote Ndao 672 (153 KK), Sumba Barat 284 (63 KK) dan Flores Timur 256.Siklon tropis Seroja di NTT ini berdampak di 8 wilayah administrasi kabupaten dan kota, antara lain Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Malaka, Lembata, Ngada, Sumba Barat, Sumba Timur, Rote Ndao dan Alor.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar,

Kondisi lapangan yang penuh dengan lumpur dan puing-puing menyulitkan pencarian.

Kepala Pusat Files, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, mengatakan angka-angka itu masih akan terus berkembang.

Bencana tersebut juga merusak banyak rumah warga. Kerugian total antara lain 1.962 unit rumah terdampak, 119 unit rumah rusak berat (RB), 118 unit rumah rusak sedang (RS) dan 34 unit rumah rusak ringan (RR). Sedangkan fasilitas umum (fasum) terdapat 14 unit rusak berat, 1 rusak ringan dan 84 unit lain terdampak.

Sejauh ini, setidaknya 2,600 orang terdampak bencana banjir terbesar dalam 10 tahun ini.

Files dari BNPB menunjukkan bencana besar terakhir di NTT terjadi di Timor Tengah Selatan pada November 2010 dengan korban jiwa 31 orang.

Sumber gambar, BNPB

Keterangan gambar,

Kondisi di Lembata.

Sementara itu di Timor Leste, setidaknya 21 orang meninggal akibat banjir, sebagian besar korban di ibu kota Dili.

Keterangan video,

Rumah rubuh diterjang banjir di Flores Timur.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo Senin siang menyatakan telah memerintahkan Kepala BNPB, Kepala Basarnas, Menteri Sosial, Menteri Kesehatan, Menteri PUPR, Panglima TNI dan Kapolri untuk segera melakukan evakuasi dan menangani korban bencana di lapangan.

“Selain itu, segera melaksanakan penanganan dampak bencana yang diperlukan,” kata Jokowi yang disiarkan dalam akunnya di Twitter, seraya menyatakan dukacita yang mendalam atas korban meninggal dunia dalam musibah tersebut atas nama pribadi dan rakyat Indonesia.

Sumber gambar, EPA/Polres Adonara

Keterangan gambar,

Warga di Adonara, Flores Timur. Sulitnya akses ke pulau-pulau kecil menghambat pencarian.

Proses pengiriman bantuan untuk mencari dan mengevakuasi korban akibat banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Flores Timur, NTT, masih sulit dilakukan lantaran akses ke lokasi bencana terganggu hujan deras dan gelombang tinggi, menurut BNPB. Di sisi lain, evakuasi korban yang tertimbun lumpur masih terkendala alat berat.

Banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu (04/04) dini hari, disebut seorang warga merupakan yang terparah.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar,

Kondisi pascabanjir bandang di Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT, pada Minggu (04/04).

BNPB mencatat lokasi terdampak ada di empat kecamatan dan delapan desa.

Bupati Flores Timur, Anton Hadjon, mengatakan upaya antisipasi kepada warga “sudah dilakukan dengan menyampaikan informasi cuaca ekstrem” dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Tapi titik-titik yang terjadi [bencana banjir bandang] tersebut selama ini tidak pernah terkena banjir,” kata Anton, hari Minggu (04/04).

‘Cuaca ekstrem, pengiriman logistik ke Pulau Adodara terkendala’

Kepala Pusat Files, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, mengakui pengiriman bantuan logistik kepada korban yang terdampak banjir dan longsor, terkendala kondisi geografis.

“Untuk mendapatkan aksestabilitas, terutama pulau-pulau kecil, menjadi tantangan kita di sana,” katanya.

Sumber gambar, HUMAS BNPB/ANTARA FOTO

Keterangan gambar,

Sejumlah rumah dan kendaraan rusak akibat banjir bandang di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, NTT, Minggu (04/04).

Karena cuaca ekstrem, bantuan logistik belum bisa dikirim melalui angkutan laut ke Pulau Adonara.

“Apakah nanti akan menggunakan pesawat atau heli, nanti akan kami sampaikan selanjutnya,” ungkapnya.

Apakah alat-alat berat dapat dikirim ke lokasi?

Dia menambahkan, tantangan terberat lainnya adalah mengevakuasi dengan memanfaatkan alat-alat berat.

Ditanya apakah pemerintah sudah menetapkan popularity bencana di Flores Timur, Raditya mengatakan sejauh ini belum ada informasi tentang hal itu.

“Mungkin besok akan ditetapkan [statusnya], tapi kita lihat dulu perkembangannya,” katanya.

Sumber gambar, HUMAS BNPB/ANTARA FOTO

Keterangan gambar,

Seorang warga menyaksikan banjir bandang yang merusak permukiman di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, NTT, Minggu (04/04).

Cerita warga di Kecamatan Adonara: ‘Kami semua sangat panik’

Wenchy Tokan, seorang warga di Kelurahan Waiwerang, Kecamatan Adonara Timur, mengatakan banjir bandang yang terjadi pada Minggu (04/04) dini hari membuat panik sebab warga tak sempat menyelamatkan diri.

Ia bercerita, hujan deras mulai turun pukul 23.00 WITA dan tak berselang lama banjir dari wilayah perbukitan sekitar Kecamatan Adonara Timur menghantam rumah-rumah yang berada di pesisir sungai.

Saat itu, katanya, mayoritas warga sedang tidur.

“Kami semua sangat-sangat panik. Bahkan kami temukan ada mayat ditemukan di luat masih di atas kasur, karena kebanyakan warga sedang tidur,” imbuh Wenchy Tokan kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC Files Indonesia, Minggu (04/04).

“Bangunan semua selesai (hancur) semua. Rumah permanen dan semi permanen, hanyut ke laut,” sambungnya. Perkiraan Wenchy setidaknya 50 rumah hancur.

‘Kami dalam kondisi terisolir’

Selain itu banjir bandang juga membuat dua jembatan dari beton yang menghubungan antar-desa juga terputus, ungkapnya. “Satu pembangkit listrik juga padam,” tambahnya.

Karena itulah, warga di Kelurahan Waiwerang maupun Desa Waiburak “kini dalam kondisi terisolir”, kata Wenchy.

Di wilayah ini, tim Basarnas mencatat tiga orang meninggal, empat orang luka-luka, dan lima dinyatakan hilang.

Pencarian korban meninggal maupun yang hilang, ujar Wenchy, dilakukan secara handbook dengan sekop.

Adapun puluhan warga yang terdampak, lanjut Wenchy, kini diungsikan ke satu gedung sekolah dan sangat membutuhkan selimut serta susu untuk balita.

Sementara bantuan makanan dari pemda, belum sampai. “Untuk sementara ini warga datangkan penanak nasi, masak untuk pengungsi. Besok baru diatur untuk membuat dapur umum.”

Sumber gambar, HUMAS BNPB/ANTARA FOTO

Keterangan gambar,

Sejumlah rumah tertutup lumpur pascabanjir bandang di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, NTT, Minggu (04/04).

Berharap bantuan dari pemerintah pusat

Bupati Flores Timur, Anton Hadjon, mengatakan informasi bencana banjir bandang di empat kecamatan itu baru ia dapatkan sekitar pukul 08.00 WITA karena jaringan komunikasi yang terputus.

Sejak pagi hingga sore hari, katanya, pemda belum bisa mengirim alat berat untuk membantu proses pencarian dan pengiriman makanan kepada warga yang mengungsi di pulau tersebut.

Di lokasi terparah yakni di Desa Nelelamadike, Kecamatan Ile Boleng, setidaknya ada 1.200 orang yang mengungsi di tiga lokasi yakni gedung gereja dan sekolah.

Namun karena putusnya jembatan penghubung dan akses jalan yang tertutup longsor, pendirian dapur umum masih terhambat.

Karena itulah, ia berharap ada “dukungan pemerintah pusat untuk penanganan para korban”.

Ia berharap Senin (05/04) pengiriman alat berat maupun bahan makanan sudah bisa dikirim.

Berdasarkan perkiraan BMKG pada 5 April – 6 April, popularity Nusa Tenggara Timur dalam kondisi siaga potensi hujan sedang dan lebat yang disertai petir dan angin kencang pada gai hingga siang hari.

Leave your vote

368 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Log In

Or with username:

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.