in ,

Bangsa yang Halu

JAKARTA, KABARWARGA.COM – Saya pernah beberapa tahun lalu diundang oleh seseorang yang dianggap tetua atau sesepuh masyarakat Sunda di daerah pedalaman Bogor. Saya disambut banyak sekali orang yang memakai seragam tradisional Sunda berwarna hitam yang cukup mewah dengan berbagai atribut. Saya diajak masuk ke rumah besar yang cukup kuno. Di sana telah duduk sesepuh tersebut di atas kursi mirip singgasana. 

 Saya sempat bertanya ke beberapa anak buahnya –yang dalam kesehariannya berprofesi pedagang, akuntan, bahkan anggota DPRD– siapa sebenarnya tokoh yang duduk itu? Mereka mengatakan, “Itu bapak kita. Belum meninggal.” Jadi, yang mereka maksud itu adalah Soeharto, mantan Presiden RI yang saat itu sudah almarhum. Kata mereka, dia adalah seorang raja yang sangat dihargai masyarakatnya dan memiliki kekayaan tidak kurang dari 400 triliun. Sahamnya ada di beberapa bank seperti Swiss Bank, Citibank, dan Price Waterhouse, begitu cerita mereka. 

 Hal seperti ini sekarang kita sering jumpai. Banyak sekali muncul kerajaan dan hampir semua klaimnya sama dengan kerajaan di Bogor tersebut. Ada yang namanya Kerajaan Agung Sejagat, Kerajaan Jipang di Blora, Sunda Empire, dan Kesultanan Selaco di Tasikmalaya. Ada gerakan-gerakan lain yang klaimnya juga sama. Yaitu, mereka memiliki akses atau menjadi pewaris dari kekayaan yang dimiliki bangsa ini yang dikumpulkan sejak dahulu kala. Mereka juga mempunyai pengikut yang luar biasa. 

 Komentar dari pemimpin pusat maupun daerah menarik kita simak. Ada yang mengatakan,  masyarakat kita sedang mengalami penyakit atau hal itu dianggap sebagai gimmick pariwisata. Pemimpin pusat bahkan menganggap hal itu hanya hiburan. Ketiga-tiganya, saya kira, dangkal memahami bahwa hal itu hanya representasi dari satu realitas kultural bangsa ini yang kehilangan bukan hanya orientasi dan identitas, tapi juga kehilangan masa lalu dan masa depannya. 

 Bangsa ini begitu obsesif dan selalu membayangkan dirinya dahsyat untuk menjangkau atau mencapai hal-hal yang luar biasa, tetapi sebenarnya dia tidak mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk itu. Dalam bahasa anak muda sekarang disebut “halu”. Bangsa yang ‘halu’ melihat dunia ini dengan sebuah ilusi. Kenapa hal seperti itu terjadi? Setidaknya, ada tiga sebab. 

 Pertama, sistem politik demokrasi. Sistem ini memberikan peluang dan hak kepada siapapun untuk meraih jabatan politik setingi-tingginya. Siapapun Anda, apapun latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi, dan kulturalnya itu berhak untuk menjadi pejabat publik atau negara. Itu menciptakan obsesi dan halusinasi yang berlebihan kepada masyarakat karena ingin meraih kekayaan atau kebesaran yang luar biasa itu. Tidak semua orang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk menjadi pemimpin atau pejabat. ‘Halu’ yang seperti ini diciptakan dan direkayasa oleh elite dengan sistem demokasi. 

 Sebab kedua, sistem kapitalisme yang, secara teoritik maupun ideologis hingga regulasinya, mengizinkan semua orang untuk mendapatkan kekayaan sebesar mungkin. Kenyataannya, tidak mungkin semua orang menjadi milyarder atau trilyuner. Yang terjadi adalah hanya 1 persen yang menikmati 55 persen PDB dunia atau PDB nasional di berbagai negara. 10-15 persen itu mengusai 70-80 persen penghasilan atau kapitalisasi dari sebuah bangsa atau negara. Sisanya, 80-85 persen penduduk itu hanya kebagian 10-15 persennya. 

 Kapitalisme mengizinkan dan memberi ruang serta peluang raksasa ekonomi itu untuk menumpuk pundi, kita tidak kebagian apa-apa. Jarak antara si kaya dan miskin yang begitu lebar menjadi prasyarat bagi kapitalisme. Masyarakat ditipu dengan cara berpikir yang ‘halu’ itu. Masyarakat menjadi korban dari permainan sistemik dari kaum elite. Jadilah kita masyarakat yang ‘halu’ ini.  

 Ketiga, faktor literasi. Kapasitas kita melakukan penalaran yang cukup kuat dan sehat terhadap kenyataan itu rendah sekali. Pemerintah, elite dan sistem pendidikan serta pengajaran gagal meningkatkan literasi kita. Selama 70 tahun lebih negeri ini merdeka ternyata tidak memberikan kapasitas kepada masyarakat umum untuk bisa mencerna dengan baik kenyataan itu dan bagaimana menyikapinya dengan baik. Ini jelas sudah dibuktikan oleh badan internasional seperti PBB, bahwa di segala dimensi keliterasian kita termasuk yang paling rendah di dunia. Tak hanya dalam literasi membaca, tapi juga saintifik, digital, dan lainnya. Pemerintah gagal dalam meningkatkan penalaran yang sehat dan kuat. 

 Munculnya kerajaan-kerajaan baru itu dan banyak fenomena sejenis lainnya menunjukkan bahwa bangsa kita bangsa halu. Betapa mengerikannya ketika halusinasi, delusi, dan ilusi itu mengendap dalam diri generasi muda atau milenial yang kita bayangkan akan membawa negeri ini ke zaman emas Indonesia pada tahun 2045. Halu apalagi yang ditawarkan oleh elite atau pemerintah dengan istilah ‘emas’ itu. Seolah itu kejayaan besar bangsa Indonesia, yang kita tahu dan mungkin tidak sadar, bahwa kita tidak punya kapasitas untuk mencapai keemasan itu. (*)

Tulisan ini disalin apa adanya dari status Facebook Radhar Panca Dahana

Saksikan juga tayangan di youtube chanelnya https://www.youtube.com/channel/UCaesMQRgx_-16HRrdXBCBqg

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

What do you think?

Written by buzz your story

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Ini 5 Fakta Pemain Indonesia di Indonesia Masters 2020

Gus Sholah, Sang Minoritas Pendobrak