Bambu Runcing, Sebuah Simbol Perlawanan Ulama-Santri

by -0 views
bambu-runcing,-sebuah-simbol-perlawanan-ulama-santri

Harakah.idSelain dapat melumpuhkan musuh. Bambu runcing juga merupakan simbol semangat juang ulama-santri. Bambu yang digunakan pun dibumbui suwuk (do’a) terlebih dahulu.

Sejak lahirnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 bahwa membela dan mempertahankan tanah air hukumnya fardhu ‘ain, menjadi landasan utama perlawanan. Semangat juang bergelora, pekikan merdeka dan takbir berkumandang. Meski dengan menggunakan persenjataan ala kadarnya. Para pejuang terus menggempur hingga mati dalam pertempuran adalah suatu hal yang indah. “Lebih baik gugur sebagai syuhada daripada hidup terjajah.” tulis Ahmad Mansyur Suryanegara dalam Api Sejarah 2 (2012).

Inilah yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 November 1945. Momen krusial yang sampai saat ini tidak luput dari ingatan. Pertempuran maha dahsyat kala itu memang merupakan sebuah perlawanan terbesar dalam sejarah revolusi Indonesia. Para tokoh nasional, elemen rakyat hingga ulama-kiai-santri pun turut serta. Mereka berduyun-duyun datang menginisiasi perlawanan dan terlibat langsung dalam pertempuran adalah suatu keputusan mutlak dalam rangka mempertahankan negeri dari ancaman new kolonialisasi.

Begitulah fakta sejarah menyebutkan. Namun, dari segala gejolak pertempuran yang terjadi. Bahkan pasca Surabaya dikuasai sekutu. Perlawanan ulama-kiai-santri tetap diteruskan dengan cara perang gerilya. Sehingga perang di berbagai daerah pun tidak terhindarkan. Seperti di Semarang, Ambarawa, Batavia, Bogor hingga merambat di tanah Pasundan (Sukabumi, Cianjur, Bandung). Tulis Bizawie dalam Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad (2014).

Peran sentral ulama-kiai-santri tentu tidak diragukan. Namun, dari berbagai peristiwa itu ternyata meninggalkan banyak kisah di dalamnya. Seperti kisah karomah kedigdiyaan para kiai.

Sebagian kalangan mungkin menolak jika suatu peristiwa kemudian dibumbui kisah mistis. Sebab secara akal sehat memang sulit dipercaya. Namun, secara umum hal semacam itu acapkali sering terjadi dan lazim terdengar khususnya pada masa perang kemerdekaan. Sebut saja kisah para pejuang yang dapat melumpuhkan pasukan sekutu hanya dengan sebuah bambu runcing. Konon memiliki kekuatan magis setelah diberi tiupan do’a (suwuk) oleh para kiai. Salah satu kiai yang paling masyhur kala itu adalah Kiai Subchi Parakan, Temanggung Jawa Tengah.

Sejak pertempuran Surabaya pecah dan pasca pertempuran itu, para pejuang hanya berbekal senjata ala kadarnya hingga bambu runcing pun menjadi senjata khas pada masa itu. Namun, bambu runcing bukan sekedar bambu biasa. Meski terbuat dari bahan bambu sekisar 2 meter yang ujungnya diruncingkan. Tapi mempunyai sifat dapat melukai musuh, membahayakan dan sukar disembuhkan.

Selain dapat melumpuhkan musuh. Bambu runcing juga merupakan simbol semangat juang ulama-santri. Bambu yang digunakan pun dibumbui suwuk (do’a) terlebih dahulu. Sehingga dipercaya dapat membangkitkan semangat dan memberikan kepercayaan diri serta mendapat keberkahan keselamatan semasa pertempuran.

Dikisahkan dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren (2012). Saifuddin Zuhri menuturkan bahwa sejak kedatangan Sekutu Inggris yang mencurigai. Tentu sebuah ancaman bagi kedaulatan negeri. Saat itu, para laskar Hizbullah-Sabilillah, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) mewaspadai kedatangan Sekutu. Kemudian mereka berduyun-duyun datang ke Parakan untuk menemui Kiai Subchi. Mereka berjalan kaki, ada yang menggunakan truk dan ada juga yang datang dengan kereta api. Dari mulai Surabaya di sebelah timur, Cirebon di sebelah barat, dan Djokdjakarta di sebalah selatan. 

Lebih lanjut ia mengatakan, saat itu ramai sekali dipenuhi para pejuang yang berada di kota Kawedanan, Parakan, Jawa Tengah. Sebelum bertempur di Medan perang. Para laskar itu berbaris dengan tujuan meminta keberkahan dan do’a dari Kiai Subchi.

Menurut Laporan Penelitian Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada berjudul Sejarah Bambu Runcing (1987-1988). Menyebutkan bahwa amalan do’a yang dilafalkan yaitu: “bismillah bi aunillah 3x, Allahu yaa khafidzu 3x, Allahu Akbar 3x, Illahanna wa syahidana anta maulana wanshurna ‘alan kaumil kaafiriin 1x, La tudrikuhul abshoru wa huwa yudriul abshoru wa huwal latiful khabiir 1x”.

“Memang benar ternyata bambu runcing bukan sekedar bambu biasa. Entah bagaimana sebuah bambu dapat membangkitkan semangat tanpa batas, kebulatan hati para pejuang saat itu tak tergoyahkan saat menuju di medan pertempuran”. tulis Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren (2012).

Ternyata bukan hanya kisah Kiai Subchi saja yang masyhur dikalangan tradisional ala nahdliyin. Beberapa kisah dari Kiai Mansyur Kalipuncang Blitar, Mbah Makruf Kedunglo Kediri pun demikian. 

“Mereka memberi perlawanan lewat simbol bambu runcing yang dipersiapkan oleh para santri, laskar hizbullah dan sabilillah. Sebelum berangkat, bambu itu di suwuk atau di do’akan terlebih dahulu.” tulis Rohmad Arkam dalam Hari Pahlawan dan Suwuk Para Kiai (2018).

Kisah demikan juga santer terdengar ketika sebelum pertempuran Surabaya pecah. Konon, sosok Kiai Abbas Buntet Cirebon pun pernah melakukan hal itu. Dikisahkan, saat itu Kiai Abbas menyuruh agar bambu runcing yang sudah dipersiapkan akan dibekali dengan do’a. Bahkan dikisahkan bahwa Kiai Abbas memerintahkan Kiai Bisri Syansuri Rembang agar para pemuda laskar hizbullah-sabilillah mengambil air wudhu kemudian meminum air kolam yang sudah diberikan do’a. Tulis Erik SB dalam Peran Kiai Abbas Buntet Cirebon dalam Pertempuran Surabaya 1945 (2018).

Pasca pertempuran Surabaya berakhir yang kemudian diakhiri lewat jalur diplomasi. Tentu akan terus diingat bagi generasi bangsa selanjutnya. Peristiwa heroik yang megakibatkan ribuan korban berjatuhan tanpa pamrih, sudah barang tentu suatu peristiwa krusial dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. 

Secara logika memang sukar dipercaya bahwa para pejuang saat itu hanya sebagian bermodalkan senjata tradisional. Sedangkan dipihak Sekutu menggunakan senjata otomatis nan modern. Namun, dengan semangat jihad membela tanah air. Mereka tidak gentar begitu saja. Bahkan tak tergoyahkan sedikitpun demi menjaga dan mempertahankan bumi pertiwi. Demikianlah secuil kisah bambu runcing simbol perlawanan suwuk Ulama-Santri. Demikian bambu runcing simbol perlawanan.

Referensi:

Adaby Darban, Ahmad, Sejarah Bambu Runcing (Yogyakarta: Laporan Penelitian Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, 1997-1988).

Bizawie, Zainul Milal, Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad (Tanggerang: Pustaka Compas, 2014).

Mansyur Suryanegara, Ahmad, Api Sejarah 2 (Bandung: Salamadani Pustaka Semesta, 2010).

Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren, (Yogyakarta: Lkis, 2012).

Syarifudin Baharsyah, Erik, Peran Kiai Abbas Buntet (Cirebon) dalam Pertempuran Surabaya 1945 (Jakarta: Skripsi Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif  Hidayatullah, 2018).

Leave your vote

789 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *