Bahaya! Media Sosial Ajang Propaganda Terorisme

by -6 views
bahaya!-media-sosial-ajang-propaganda-terorisme

BincangSyariah.Com- Berikut ini terkait bahaya! media sosial ajang propaganda terorisme. Pasalnya, berdasarkan data, Indonesia merupakan negara dengan populasi pengguna internet terbesar di dunia. Menurut laporan We Are Social, di Indonesia terdapat 204,7 juta pengguna internet per Januari 2022.

Jumlah tersebut naik 1,03% dibandingkan tahun 2021. Dalam catatan per Januari 2021, jumlah pengguna internet di Indonesia tercatat sebanyak 202,6 juta. (Baca juga: Khilafatul Muslimin, dalam Bayangan Aksi Terorisme).

Melihat data yang ada, tren pengguna internet di Indonesia terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Jika dibandingkan dengan tahun 2018, berdasarkan saat ini jumlah pengguna internet nasional sudah melonjak sebesar 54,25%.

 Sementara itu, dari data Katadata.co.id tingkat penetrasi internet di Indonesia mencapai 73,7% dari total penduduk pada awal 2022. Tercatat, total penduduk Indonesia berjumlah 277,7 juta orang pada Januari 2022.

Data Pengguna Media Sosial di Indonesia

Pada sisi lain, laporan We Are Social, pada tahun 2022 jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia sebanyak 191 juta orang. Dari data itu tergambar, telah terjadi peningkatan sekitar 12,35% dibandingkan pada tahun 2021– yang sebelumnya sebanyak 170 juta orang.

Melihat trennya, jumlah pengguna media sosial di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Walau demikian, pertumbuhannya mengalami fluktuasi sejak 2014-2022. Kenaikan jumlah pengguna media sosial tertinggi mencapai 34,2% pada 2017. Hanya saja, kenaikan tersebut melambat hingga sebesar 6,3% pada tahun lalu.

Dari data tersaji, WhatsApp menjadi media sosial yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia. Persentasenya tercatat mencapai 88,7%. Kemudian, disusul oleh Instagram dan Facebook sekitar 84,8% dan 81,3%. Adapun proporsi pengguna TikTok dan Telegram sebesar 63,1% dan 62,8%.

Media Sosial Ajang Propaganda Terorisme

Ramainya pengguna media sosial, bukan tak ada persoalan.  Media sosial ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi ia menyemaikan benih-benih kebaikan dan kasih sayang. Pada sisi lain, media social juga dimanfaatkan pelbagai oknum sebagai bahan yang beringas. Kejam. menyebarkan permusuhan, intoleransi, dan bisa menyulut konflik yang berkepanjangan. Inilah bahaya nyata media social.

Salah satu dampak nyata media social adalah propaganda terorisme. Binatang tanpa tuan itu dimanfaatkan mereka yang beraliran radikal untuk menjalankan aksinya. Gerakan ini begitu masif terjadi. Benua Asia, Eropa dan Amerika pun tak lepas dari ancaman terorisme.

Bagi teroris, media sosial tampaknya sangat penting. Pasalnya jangkauan luas yang mampu dijangkau media sosial media. Tentu menguntungkan tanpa harus mengeluarkan biaya mahal. Cukup dengan koneksi internet.

Lebih lagi kecenderungan masyarakat modern nan haus akan informasi.  Media sosial menjelma sebagai wahana publisitas nan dilimpahi informasi yang mengalir dengan kecepatan tinggi. Informasi yang disodorkan pun telah di framing sedemikian rupa. Konten bumbu-bumbu propaganda telah dicelupkan di dalamnya.

Melalui media sosial pula kelompok teroris mencari suaka pengguna media social untuk membenarkan tindakan keji tersebut. Langkah jitu adalah menggiring opini publik, tak sekadar membela, tetapi terlibat langsung.

Opini publik ini yang oleh Luciana dalam  Framing World Opinion in The Elite Press disebut senjata ajaib yang  mampu mematuk kepala masyarakat untuk terpengaruh. Tak heran banyak aksi bunuh diri, dan masuk Islamic State Iraq and Suria melalui media sosial.

Peneliti terorisme, Unaesah Rahma, menyebut para pelaku terorisme memanfaatkan media sosial sebagai ajang menyebarkan propaganda aksinya. Para pelaku ini menggunakan narasi ekstremis untuk meyakinkan targetnya di media sosial untuk ikut terlibat dalam aksi teror. Kendatipun tidak ikut terlibat, mereka setidaknya berusaha mendulang opini public untuk mendukung aksi tersebut.

Menurut Unaesah Rahmah, kelompok Islam di media sosial terbagi pada 5 pembagian; moderat, liberal, islamis, konservatif dan radikal/ekstrimis. Tiap-tiap kelompok Islam ini memiliki pelbagai karakteristik. Untuk jaringan konservatif, yang didominasi kaum salafi banyak menggunakan media sosial twitter.

Sedangkan kelompok radikal dan ektrimis memanfaatkan Facebook dan Twitter dalam menyebarkan wacana kekerasan. Dua media sosial itu dimanfaatkan untuk merekrut jaringan baru, dan juga media komunikasi antar jaringan. Yang tak kalah penting, itu juga dimanfaatkan sebagai media untuk menyampaikan narasi.

Yang lebih unik, kata  Research Analyst at International Centre for Political Violence and Terrorism Research, Singapura ini, kendati tiap kelompok Islam di media sosial memiliki tipikal masing-masing yang terbilang berbeda-beda, namun ketiga kelompok ini (Islamis, konservatif, dan ekstrimis) ada kalanya berkumpul dalam kasus tertentu.

Ia mencontohkan dalam kasus vaksin, Covid-19, perang Ukraina vs Rusia, Sheikh Jarrah, Sentimen Anti China, Arabisme dan pada isu lain. Yang dalam isu ini, narasi yang digunakan tiga kelompok isu ini terkadang akan sama.

Jika demikian, ini menjadi alarm bahaya. Pasalnya, tiga kelompok ini bisa bersatu, dan rawan dimanfaatkan atau direkrut oleh kelompok ekstrimis.

“Misalnya, kelompok konservatif dan islimis, bisa gampang dirukrut oleh kaum radikalis atau teroris, sebab narasi mereka bersatu. Kendatipun ideologi berbeda. Dan ini sangat bahaya” kata Unaesah Rahmah, dalam webinar yang dilaksanakan El Bukhari Institute, Jum’at (1/6/2022).

 Literasi Media Sosial

Fakta ini tentu mengkhawatirkan kita sebagai anak bangsa. Untuk itu, literasi media sosial penting digalakkan. Menilik gurauan Idi Subandi yang mengatakan bahwa sekarang media menjelma sebagai agama, bahkan Tuhan baru manusia.

Dalam masyarakat Indonesia media sosial bertumpah ruah tawaran. Satu sisi diklaim sebagai kebaikan. Pada sisi lain diklaim sebagai keburukan menurut versi dirinya sendiri. Tak jarang masyarakat mencari informasi  dan isu terbaru lewat media sosial.

Sepatutnya pengguna internet dan media sosial menyadari pentingnya filterisasi media social. Literasi media sosial merupakan sebuah keniscayaan, sebelum pengguna media sosial tersebut menjadi provokator bagi keburukan.

Penyaringan ini bertujuan untuk menyadarkan para netizen tentang cerdas menggunakan media sosial. Hakikat terciptanya media sosial merupakan penyebar interaksi dalam balutan kebaikan, kebajikan, dan toleransi dalam perbedaan. Bukan sebaliknya.

Dengan melek literasi, netizen atau masyarakat dunia akan terhindar dari bahaya terorisme. Yang akan memecah belah persatuan dan kesatuan kebangsaan kita. 

Demikian penjelasan terkait bahaya! media sosial ajang propaganda terorisme. Ini tentu bahaya bagi kerukunan dan keharmonisan bangsa. Sudah selayaknya kita bijak dalam bermedia sosia. (Baca juga: Adab Menggunakan Media Sosial).

More

Leave a Reply

Your email address will not be published.