Bagaimana Status dan Hukum Seseorang yang Dilahirkan Dari Persilangan Genetika Antara Manusia dan Hewan?

by -6 views
bagaimana-status-dan-hukum-seseorang-yang-dilahirkan-dari-persilangan-genetika-antara-manusia-dan-hewan?

Bagaimana Status dan Hukum Seseorang yang Dilahirkan Dari Persilangan Genetika Antara Manusia dan Hewan?

Harakah.idPersilangan genetika mungkin akrab dan biasa dilakukan dalam konteks mahluk yang serupa; pohon dengan pohon atau hewan dengan hewan yang lain. Lalu misal, suatu saat ada eksperimen persilangan genetika antara manusia dan hewan, bagaimana Islam memandang hal itu?

Hari ini berbagai macam temuan di bidang bio-teknologi sudah muncul. Salah satu eksperimen yang mungkin suatu saat akan dicoba adalah, persilangan genetika antara manusia dan hewan. Eksperimen semacam ini tentu saja adalah kenyataan baru, dan Islam tentu harus meresponsnya.

Dalam madzhab Syafi’i, pernikahan secara lazimnya dilaksanakan oleh pria dan wanita yang sudah dewasa, mampu secara dzohir dan bathin dalam segi ibadah dan biayanya. Dari pernikahan mereka, nantinya akan menghasilkan anak yang menjadi dambaan setiap keluarga. Setiap anak yang terlahir dari manusia secara nash nya adalah dalam keadaan fitrah. Artinya setiap anak manusia terlahir dalam keadaan tidak berdosa dan masih suci.

Lantas yang jadi permasalahan adalah ketika munculnya kasus apa status anak yang dihasilkan dari persilangan genetika manusia dan hewan yang secara dzat dan sifatnya suci ataupun najis? Apakah ia tetap diwajibkan beribadah? Bagaimana pandangan ulama terhadap masalah ini?.

Syeikh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz Al-Malibari dalam Fath al-Mu’in bi Syarh al-Quratul ‘Ain. membahas permasalahan persilangan genetika semacam ini sebagaimana berikut:

وَقَالَ اَيْضًا لَوْ نَزَا كَلْبٌ اَوْ خِنْزِرٌ  عَلَى آدَمِّيَّةٍ فَوَلَدَتْ آدَمِيًّا, كَانَ الوَلَدُ نَجِسًا, وَمَعَ ذَالِكَ هُوَ مُكَلَّفٌ بِاالصَّلاَةِ وَغَيرِهَا. وَظَاهِرٌ اَنَّهُ يُعفَى عَمَّا يَضْطَرُّ إِلَى مُلاَ مَسَّتِهِ وَ اَنَّهُ تَجُوْزُ إِمَامَتُهُ إِذْ لاَ إِعَادَةَ عَلَيْهِ, وَدُخُوْلُهُ المَسْجِدَ حَيثُ لاَ رُطُوْبَةَ لِلْجَمَاعَةِ وَنَحْوِهَا. (ص/12ج/1: دارالجواهر) 

Artinya: Jika seekor anjing ataupun babi mengawini manusia kemudian lahir darinya seorang manusia pula, maka anaknya dihukumi najis, dan besertaan dengan hukum itu, ia adalah termasuk orang yang terkena tuntutan melakukan sholat dan lainnya. 

Sudah jelas pula bahwasannya setiap hal yang terpaksa tersentuh olehnya diampuni dan baginya diperbolehkan untuk menjadi imam, sebab shalat yang ia kerjakan tidak wajib diulang. Boleh pula baginya untuk masuk masjid guna melakukan jama’ah dan selainnya sekira tubuhnya tidak basah.

Dari keterangan di atas sudah jelas bahwasanya anak yang dihasilkan dari persilangan genetika manusia dan hewan yang secara dzat dan sifatnya najis juga dihukumi najis. Di sisi lain, ia adalah termasuk orang yang terkena tuntutan melakukan salat dan ibadah lainnya.

Tidak berhenti di sini, dalam permasalahan hukum anak tersebut melaksanakan ibadah, Syeikh Abu Bakar ‘Utsman bin Syattha Ad-Dimyathi memberikan catatan pinggir (hasyiah) dalam karyanya yang berjudul I’anah At-tholibin, beliau memberikan keterangan seperti ini:

قال سم في حوشي التحفة ينبغي نجاسةُ وان لا يكلفَ وان تكلمَ وميزَ وبلغَ مدةُ بلوغِ الآدميِّ إذ هو بِصورةِ الكلبِ والأصلُ عدم آدميةٍ اه. وما تقرَّر كلُه إذَا نزَا كلبٌ أو خنزيرٌ على آدميةٍ والعكسِ فإن نزَا مأكولٌ على مَأكولةٌ فولدتْ والَدٌ على صورةِ الآدميِّ فإنَّه طاهرٌ مَأكولٌ فلو حَفَظَ القرآنَ وعملَ خطيبًا وصلَّى بنا عيدُ اللأضْحى جازَ أن يضحَى به بعدَ ذَلكَ وبه يلغز فيقال لنا خطيب صلى بنا العيد الأكبر وضحينا به.(ص/95ج/1: دارالمختار)

Artinya: Imam Syibromulisi berkata di dalam kitab hasiyah tuhfah: seharusnya adanya anak itu adalah najis jika ia tidak terkena tuntutan, tidak bisa berbicara, tidak tamyiz dan tidak baligh usianya seperti balighnya anak manusia karena ia digambarkan seperti anjing. Hukum asalnya anak tersebut bukan anak manusia. 

Dan pendapat yang telah ditetapkan kesemuanya apabila manusia mengawini anjing / babi atau sebaliknya, kemudian jika manusia tersebut mengawini hewan yang halal dimakan dagingnya kemudian terlahir atasnya anak manusia, maka anak tersebut dihukumi suci dan halal untuk dimakan dagingnya. 

Maka seandainya anak tersebut menghafal Al-qur’an, menjadi khotib, dan mengerjakan sholat idul adha, maka diperbolehkan baginya untuk disembelih setelah sholat tersebut. Pendapat lain kepada kita khotib mengerjakan sholat ‘idul adha dan menyembelih terhadapnya.  

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa anak yang terlahir dari hewan najis ulama berbeda pendapat. Menurut Imam Syibromalisi anak tersebut tetap dihukumi najis dan terkena kewajiban taklif. Ia tetap diperbolehkan untuk ibadah sekalipun ia melaksanakan sholat, dan menghafal Al-Qur’an bahkan shalat  berjamaah di masjid selama tubuhnya tidak basah.

Terakhir Syeikh Abu Bakar ‘Utsman bin Syattha Ad-Dimyathi tidak memutlakkan sebagaimana pendapat Imam Syibromalisi. Syekh Syattha masih memberikan dua perincian. Apabila anak itu berbentuk anjing maka najis. Apabila berbentuk manusia, maka ia dihukumi suci.

Leave your vote

773 Points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *