Bagaimana Hukum Mengiringi Jenazah Pakai Motor?

by -5 views
bagaimana-hukum-mengiringi-jenazah-pakai-motor?

BincangSyariah.Com –Sudah maklum bahwa mengiringi atau mengantarkan jenazah dianjurkan oleh syariat. Sedangkan cara untuk mengiringi jenazah banyak macamnya, diantaranya adalah berjalan kaki, dan terkadang menggunakan kendaraan, baik motor, mobil dan lain semacamnya. Di era sekarang, notabene masyarakat menggunakan motor untuk melakukan segala aktivitasnya. Lantas, bagaimana hukum mengiringi jenazah pakai motor?

Hukum Mengiringi Jenazah Pakai Motor

Adapun hukum mengiringi jenazah menggunakan atau pakai motor maka hukumnya diperinci. Jika menggunakan saat mengantarkan jenazah dari rumah menuju kuburannya, maka hukumnya makruh. Akan tetapi, kalau ada halangan semisal sudah tua, atau sakit maka dibolehkan. Sedangkan jika pulang dari kuburannya hukumnya boleh. 

Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab (5/279) mengatakan.

أما الا حكام فَقَالَ أَصْحَابُنَا رَحِمَهُمُ اللَّهُ يُكْرَهُ الرُّكُوبُ فِي الذَّهَابِ مَعَ الْجِنَازَةِ إلَّا أَنْ يَكُونَ لَهُ عُذْرٌ كَمَرَضٍ أَوْ ضَعْفٍ وَنَحْوِهِمَا فَلَا بَأْسَ بِالرُّكُوبِ وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِالرُّكُوبِ فِي الرُّجُوعِ

“adapun hukum-hukumnya, Ashabus Syafi’i (kita) mengatakan makruh hukumnya mengantarkan jenazah sambil berkendara kecuali ada uzur semisal sakit atau lemah dan semacamnya. Maka tidak mengapa kalau ada uzur. Dan mereka sepakat bahwasanya berkendara saat pulang dari kuburan dibolehkan”

Dalam Hasyiah al-Bujairami (1/469), Sulaiman al-Bujairami juga menegaskan hukum kemakruhan orang yang menggunakan motor saat mengantarkan jenazah.

 (قَوْلُهُ: أَفْضَلُ مِنْ الرُّكُوبِ) بَلْ يُكْرَهُ بِغَيْرِ عُذْرٍ كَضَعْفٍ

“berjalan lebih utama dari pada berkendara, bahkan dimakruhkan (berkendara saat mengantarkan jenazah) tanpa adanya halangan”

Sementara Imam al-Mahalli menandaskan bahwakebolehan berkendara saat pulang dari kuburan;

وَلَا يُكْرَهُ الرُّكُوبُ فِي الرّ;جُوعِ مِنْهَا

“tidak dimakruhkan berkendara saat pulang dari mengantarkan jenazah” (al-Mahalli, kanzur Raghibin, 2/22).

Kemakruhan tersebut karena berdasarkan praktik Nabi dan para sahabatnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan lainnya. 

عَنْ «ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَمْشُونَ أَمَامَ الْجِنَازَةِ»

“dari Ibnu Umar bahwa ia melihat Nabi dan Abu Bakar dan Umar berjalan di depan jenazah”

Dan dalam riwayat Turmuzi dari Jabir bin Samrah.

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” تَبِعَ جِنَازَةَ ابْنِ الدَّحْدَاحِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَاشِيًا وَرَجَعَ عَلَى فَرَسٍ

“dari Jabir bin Samrah bahwa Nabi mengiringi jenazahnya Ibnu Dahdah searaya jalan kaki dan pulang menunggagi kuda”

Namun demikian, bukan berarti mengiringi jenazah dengan mengendarai motor dilarang secara mutlak. Hanya saja, antara jalan kaki dan menggunakan motor lebih baik berjalan kaki karena lebih sesuai dengan sunnah Nabi. 

Artinya, pahalanya lebih banyak orang yang berjalan kaki. Dan untuk pengendara motor hendaknya berada di belakang jenazah. Sebagaimana dikatakan oleh Sufyan al-Tsauri dan dikutip imam Nawawi (al-Majmu: 5/280)

وَقَالَ الثَّوْرِيُّ يَسِيرُ الرَّاكِبُ خَلْفَهَا وَالْمَاشِي حَيْثُ شاء 

“Sufyan al-Tsauri menuturkan, orang yang berkendara berjalan di belakang jenazah sedang orang yang jalan kaki di mana saja”.

Demikian hukum mengiringi jenazah pakai motor. Semoga penjelasan hukum mengantar jenazah menggunakan motor ini bermanfaat. (Baca: Bacaan dan Doa Ketika Memasukkan Jenazah ke Liang Kubur )

Leave a Reply

Your email address will not be published.