in ,

Bagaimana COVID-19 akan menghasilkan lebih banyak pengangguran muda di Indonesia

Melemahnya ekonomi Indonesia akibat COVID-19 berpotensi mempengaruhi lulusan baru yang memasuki pasar kerja untuk pertama kalinya.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang turun menjadi 2,97% di awal kuartal pertama 2020, banyak perusahaan memperlambat rekrutmen pegawai baru bahkan sejak Maret.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) baru saja mengumumkan bahwa angka pengangguran di Indonesia dapat mencapai yang tertinggi dalam lebih dari 10 tahun, meningkat hingga 9,2% – atau hampir 13 juta orang – di akhir 2020.

Sebelum pandemi, Organisasi Buruh Internasional (ILO) pada tahun 2019 menempatkan angka pengangguran muda (15-24 tahun) Indonesia sebagai salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara (17.04%), kedua setelah Brunei Darussalam (30,4%).

Persentase tinggi ini cukup stagnan selama dua dekade terakhir, dan belum pernah turun di bawah 15% sejak krisis ekonomi 1998.

The Conversation Indonesia berbicara dengan Tifani Husna Siregar, kandidat doktor bidang ekonomi di Waseda University, Jepang, yang mengatakan bahwa tren ketenagakerjaan untuk anak muda di Indonesia sudah mengkhawatirkan bahkan sebelum pandemi, dan berkemungkinan menjadi lebih buruk.




Baca juga:
Bagaimana kebijakan mengisolasi diri akibat pandemi COVID-19 ‘menghukum’ penduduk miskin di Indonesia


Menurutnya, pandemi ini dapat memperburuk kondisi ketenagakerjaan untuk pencari kerja muda di Indonesia melalui tiga hal: memperketat syarat masuk pasar tenaga kerja, menurunkan level pendapatan hingga bertahun-tahun ke depan, dan memperburuk kondisi kerja untuk kandidat yang minim pengalaman.

Pasar kerja yang lebih ketat

Level pendidikan angkatan kerja yang rendah, program pelatihan vokasi yang belum baik, hingga defisit keahlian akibat kemajuan teknologi adalah beberapa hal yang sering dianggap sebagai penyebab tingginya angka pengangguran muda sebelum masa pandemi.

Peneliti lembaga penelitian SMERU, Muhammad Adi Rahman, mengatakan bahwa COVID-19 akan membuat pasar kerja lebih sulit untuk ditembus hingga beberapa tahun ke depan.

“Persaingannya akan lebih ketat karena lulusan baru ini harus bersaing tidak hanya dengan lulusan baru lainnya tetapi juga dengan pencari kerja yang ter-PHK akibat krisis,” katanya.

Antrian panjang pencari kerja di luar Dinas Ketenagakerjaan Serang, Banten. Angka pengangguran di Indonesia dapat mencapai yang tertinggi dalam lebih dari 10 tahun, meningkat hingga 9,2% (atau hampir 13 juta orang) di akhir 2020.
(ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

Selain itu, Tifani juga mengatakan bahwa pasar kerja Indonesia yang relatif ‘kaku’ juga membuat rekrutmen pegawai dalam masa resesi ini menjadi jauh lebih selektif.

“Kalau di Indonesia kan lumayan banyak regulasinya untuk melindungi pegawai, ada biaya pemecatan yang begitu tinggi, upah minimum yang tergolong tinggi dibanding upah rata-rata,” katanya.

Kondisinya bisa menjadi lebih buruk bahkan setelah resesinya mereda, ungkap Tifani, karena perusahaan menjadi lebih berhati-hati merekrut pegawai baru.

Sebuah studi tahun 2016 dari Institute of Labour Economics (IZA) di Jerman, misalnya, menemukan bahwa pencari kerja muda yang berupaya memasuki pasar kerja yang kaku dalam suatu resesi berkemungkinan besar untuk terjebak dalam pengangguran

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

how-the-covid-19-pandemic-will-leave-more-young-people-unemployed-in-indonesia

How the COVID-19 pandemic will leave more young people unemployed in Indonesia

jebakan-sara-dalam-praktik-rasisme-terhadap-warga-papua

Jebakan SARA dalam praktik rasisme terhadap warga Papua