Apakah Wanita Berhak Meminta Mahar?

by -9 views
apakah-wanita-berhak-meminta-mahar?
Apakah Wanita Berhak Meminta Mahar?
Apakah Wanita Berhak Meminta Mahar?

BincangSyariah.Com– Apakah wanita berhak meminta mahar? Mahar adalah harta yang menjadi hak istri atas suaminya sebab adanya akad atau hubungan badan. Mahar adalah kewajiban yang menjadi tanggungan beban seorang suami. Kewajiban tersebut berdasarkan Al-Qur’an dan hadits.

Pengertian Mahar

Sebelum kita membahas apakah wanita berhak meminta mahar, terlebih dahulu kita bahas terlebih dulu “mahar” dalam Al-Qur’an. Simak firman Allah berikut:

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan ” (Q.S. An-Nisa/4:04).

Nabi Muhammad bersabda pada seorang yang hendak menikah;

الْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيد

Carilah (mahar) walau berupa cincin dari besi

Adapun hikmah kewajiban mahar ialah untuk menampakan kedudukan akad pernikahan. Selanjutnya, sebagai upaya memuliakan wanita dan sebagai tanda terbangunnya kehidupan istri bersama suami serta adanya niatan hidup bersama dengan baik.

Kewajiban Mahar Suami Pada Istri

Dan Kewajiban mahar merupakan beban atau tanggung jawab seorang suami dengan alasan berikut;

وإنما يكلف الرجل بالإنفاق، سواء المهر أم نفقة المعيشة وغيرها؛ لأن الرجل أقدر على الكسب والسعي للرزق

Laki-laki mempunya kewajiban atau tuntutan untuk memberikan nafkah, baik berupa mahar atau nafkah kehidupan dan lain sebagainya, sebab dia lebih mampu untuk bekerja dan mencari rezeki

Kewajiban mahar atas suami, merupakan hak seorang istri untuk memiliki mahar tersebut. Kepemilikan tersebut akan tercapai atau hukumnya sah, dengan adanya qobdlu atau saat istri telah menerima mahar yang jadi haknya.

Ukuran Mahar dalam Fikih

Syariah memberikan batasan kadar minimal mahar, yang perkiraanyya cukup untuk memetik seorang wanita calon istrinya. Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Fiqhu al-Islami menyampaikan batasan tersebut. 

وضابطه: كل ما صح كونه مبيعا أي له قيمة صح كونه صداقا، وما لا فلا

Batasan sebuah mahar ialah setiap sesuatu yang dapat menjadikannya sebagai dagangan, yang artinya memiliki nilai, maka sah sebagai maskawin, dan sesuatu yang tidak bernilai maka tidak sah sebagai mahar/mas kawin

Dan sesuatu yang menjadi maskawin tersebut haruslah sesuai dengan keridhaan calon istri. Sebuah riwayat yang bersumber dari  Amir bin Rabi’ah bahwa ada seorang wanita dari Fazarah hendak menikah dengan sepasang sandal, lalu nabi berkata:

رضيت من مالك ونفسك بنعلين؟ قالت: نعم، فأجازه

Apakah kamu ridha  dari harta dan dirimu dengan ganti sepasang sandal? “ Wanita itu menjawab “ baiklahmaka beliau memperbolehkannya.

Hak Wanita Meminta Mahar 

Mahar yang menjadikannya sebagai salah satu rukun dalam pernikahan, maka cara membayarnya dapat dengan cara Hulul (kontan) atau Mu’ajjal (tempo) oleh suami. Karena mahar adalah hak seorang istri dengan adanya akad, maka mahar yang pembayarannya melalui cara kontan, istri berhak memintanya bila suami belum memberikannya. 

Syaikhul Islam Zakariya al-Anshori dalam karyanya Asna al-Mathalib juz.02 vol.203 menyampaikan;

 (الحكم الثاني التسليم) للمهر (فلكبيرة) عاقلة (سلمت نفسها) للزوج (مطالبة الزوج) نفسه أو وليه (بالمهر وإن كان) الزوج (صغيرا) كما في النفقة(ولها) أي للكبيرة (حبس نفسها حتى يسلم) الزوج (المهر) المعين أو الحال كالبائع  سواء أخر تسليمه لعذر أم – (لا المؤجل – لأنها رضيت بالتأجيل

Hukum kedua ialah menyerahkan mahar, maka bagi wanita berakal yang menyerahkan dirinya kepada suami, baginya, boleh hukumnya  meminta menuntut mahar kepada suami atau walinya walau suami seorang anak kecil. 

Dan baginya ada anjuran menahan dirinya hingga suami menyerahkan mahar kontan tersebut seperti halnya seorang penjualan, baik suami mengakhirkan penyerahan mahar sebab udzur maupun tidak. Lain halnya dengan mahar tempo, karena dia telah ridha dengan tempo tersebut “.

Selanjutnya, dalam kitab Mausu’ah al-Fiqhiyah, bahwa dalam mahar kontan, dengan adanya permintaan tuntutan dari istri maka hal ini mewajibkan seorang suami untuk menyerahkan mahar tersebut. 

تسليم الصداق للزوجة إذا طالبت الزوجة بالمهر يجب على الزوج تسليمه –  عند المطالبة وهذا عند الحنفية والحنابلة وبعض الشافعية

Menyerahkan mahar adalah kewajiban suami disaat istri memintanya, hal ini adalah pendapat dari madzhab Hanafiyah dan Hanabilah serta sebagian madzhab Syafi’iyyah

Pada sisi lain, simak pula penjelasan berikut; 

كَمَا اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لَهَا أَنْ تَمْنَعَ زَوْجَهَا إِذَا كَانَ الْمَهْرُ كُلُّهُ مُؤَجَّلاً أَوْ كَانَ بَعْضُهُ مُؤَجَّلاً – لأِنَّهَا لاَ تَمْلِكُ طَلَبَهُ

Sebagaimana sepakat para ulama bahwa seorang istri tidak diperkenankan menahan suami (bersenggama dengannya) ketika keseluruhan mahar adalah tempo atau sebagiannya, sebabnya baginya tidak memiliki hak meminta mahar tempo tersebut

Apakah Istri Berhak Meminta Mahar  

Dengan demikian, sebagai kesimpulan bahwa seorang wanita berhak meminta bentuk mahar yang sesuai dengan keinginan.

Dan bagi wanita yang telah menjalin ikatan sah (istri), dia berhak dan boleh hukumnya meminta mahar kepada suami kecuali bila mahar tersebut adalah tempo dan belum datang waktunya.

Demikian penjelasan terkait apakah wanita berhak meminta mahar. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam. (Baca juga: Memperbarui Akad Nikah, Apakah Harus Memberikan Mahar Nikah Pada Istri?).

Leave a Reply

Your email address will not be published.