26.1 C
Jakarta
Saturday, May 28, 2022

Antara Kutu Buku dan Tukang Ngopi | GEOTIMES

OpiniAntara Kutu Buku dan Tukang Ngopi | GEOTIMES

Aku lebih suka pemuda yang merokok  dan minum kopi sambil berdiskusi tentang bangsa ini, ketimbang pemuda kutu buku yang sibuk memikirkan dirinya sendiri

-Ir. Soekarno-

Sebelum memulai monolog pada sore hari ini, saya masih menyempatkan diri untuk menyeruput kopi panas ditemani biskuit sari gandum, Oke, kita mulai.Itu adalah kutipan perkataan Soekarno tentang bagaimana persepsinya terhadap kaum muda, terutama pada konteks saat itu. Kalimat itu subjektif, bisa diinterpretasikan sebebas mungkin oleh pembaca, tergantung  siapa yang menafsirkan, latar belakang pendidikannya,  dan kerangka teoritis apa yang dipakai untuk menafsirkannya.

“Waduh, saya makin pusing sekarang”. Karena memang kalimat dari presiden pertama RI itu sarat akan makna dan satire. Bahkan kalimat itu dijadikan pelatuk untuk saling menodong antara dua kelompok aliran ilmu pengetahuan modern sekarang ini yakni “kaum teoritis” dan “kaum praktis”.

Analoginya adalah kaum teoritis sebagai “kutu buku yang memikirkan diri sendiri” dan kaum praktis sebagai “tukang ngopi yang berdiskusi tentang bangsa ini”. Sama seperti saya yang hobinya ngopi di depan kos saat pagi, dan di angkringan saat menjelang subuh.

Sekilas, kaum teoritis merujuk pada orang-orang yang melihat ilmu pengetahuan dengan basis teoritis,bahwasannya teori bak sistem yang akan menjadi kompas yang menentukan kearah mana tindakan itu dilakukan.Sedangkan “kaum praktis”adalah kelompok yang cenderung mengutamakan tindakan dan praksis sebagai dalih untuk menghasilkan sebuah teori.

Lantas jika melihat konteks masyarakat modern saat ini, yang serba cepat, instan dan serba digital, tentu masyarakat akan memilih kaum praktis sebagai acuan untuk bertindak, karena tak banyak pikir,tak banyak bacot, dan tak banyak ngerumpi,hhh.Dan memang seharusnya seperti itu, karena hakikatnya tindakanlah yang mencetuskan perubahan, walaupun tak bisa dipungkiri tindakan kita juga didasari pada sebuah pikiran sistematis yang dikenal sebagai teori.

Kisah pertarungan ideologis kedua kelompok ilmu pengetahuan modern ini,, bak segelas kopi panas di atas tatakan yang siap untuk disajikan, Ketika kopinya diseruput, dan rasanya pas, maka yang dipuji tentu adalah kopinya,sedangkan jika kopinya kurang eneg,sudah pasti yang disalahkan adalah gulanya karena terlalu manislah.

Saya bingung,kenapa selalu kopi yang ada dipikiran, sampai-sampai walau tidak nyambung, selalu saya analogikan. Aneh.

Dualitas Pemikiran 

Semakin kesini, otak saya semakin mendekati korslet, tapi sabar dulu, kita perlu menengahi konflik ideologis pengetahuan dari kedua kelompok ini, walaupun otak saya juga sudah pusing, tapi tak apa,ini demi menyelesaikan pergumulan intelektual,  bukan untuk menentukan siapa yang paling valid , tetapi tugas saya dan juga pembaca adalah memediasi dualitas pemikiran ini. Bukan sok pintar ya, hhh…

Tanpa disadari manusia pada dasarnya tak pernah lepas dari aktivitas berpikir dan bertindak, hanya saja porsi yang disediakan untuk berpikir dan bertindak terkadang berbeda-beda, tergantung situasi dan konteks apa yang dilakukan.Terkadang ada situasi yang mengharuskan kita untuk berpikir lebih banyak, ketimbang bertindak, demikian pun sebaliknya.

Keduanya tak pernah dilepas pisahkan dalam situasi apapun, karena teori atau pikiran menuntun kita untuk bertindak dengan meminimalkan konsekuensi kerugian, sedangkan tindakan mengarahkan kita untuk  berjalan sesuai instruksi pikiran. Namun yang menjadi kritik dari kedua kelompok ini adalah, kaum teoritis cenderung minim tindakan, sedangkan kaum praktis bertindak tanpa dasar pikiran yang kuat, alhasil ketika kedua hal ini berjalan terpisa-pisah tentu akan sangat merugikan individu dalam menghadapi suatu problematika.

Sebetulnya pergumulan kedua kelompok ini, bukan suatu persoalan, hanya perbedaan sudut pandang yang kemudian di kompor  oleh beberapa pihak demi kepentingan tertentu. Dalam banyak kesempatan saya pribadi pun terkadang mengalami masalah justru karena pikiran dan tindakan saya tidak sinkron, tergesa-gesa untuk bertindak, tanpa memikirkan konsekuensi terburuk dari suatu keputusan membuat timbul persoalan baru, dan jika terlalu berpikir terutama dalam situasi yang mengharuskan kita untuk segera bertindak juga membuat keputusan kita menjadi serba salah

Konsolidasi Pikiran dan Tindakan

Yah, pada akhirnya harus diakui, tak ada yang dibenarkan maupun disalahkan dari kedua kelompok ilmu pengetahuan modern ini, semuanya bermuara pada perbedaan sudut pandang dalam menyikapi urgensitas persoalan atau keadaan yang mengharuskan untuk sesegera mungkin berpikir dan bertindak.

Selain itu, baik pikiran maupun tindakan memiliki porsi yang berbeda dalam konteks tertentu, tergantung sejauh mana keadaan tersebut bertalian dengan pikiran atau tindakan, jika suatu konteks situasi mengharuskan seseorang untuk cenderung berpikir maka porsi terbesar diserahkan pada pikiran. Misalnya pada saat ujian, tentu yang diutamakan adalah bagaimana siswa menjawab soal-soal melalui construct  teori dan pemahaman yang sudah diajarkan.

Sebaliknya ada situasi yang mengharuskan seseorang untuk lebih banyak bertindak ketimbang berpikir, misalnya ketika mencuci pakaian, tentu porsi terbesar adalah pada tindakan.

Jadi niat baik, yang saya  ditawarkan sebagai mahasiswa yang berakal sekaligus pengangguran yang doyan melamun, adalah kekayaan teoritis, intelektual maupun keterampilan tindakan harus ditanamkan pada diri setiap insan yang membaca gagasan ini, karena tindakan yang didasari atas pikiran yang luhur akan menghasilkan konsensus yang juga bernuansa positif.

Akhir kata ,tanpa memihak salah satu kelompok, saya dengan hati bersih dan pikiran yang jernih mengakui bahwa saya adalah seorang “kutu buku” dan juga “tukang ngopi”

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles