Aktivisme Islam di Kampus Umum – Arrahim.ID

by -3 views
aktivisme-islam-di-kampus-umum-–-arrahim.id

1 min read

Views 5

Tahun lalu saya melakukan riset intensif terhadap aktivisme Islam di dua kampus umum. Sekarang dalam proses pengiriman ke jurnal. Melihat reaksi terhadap seorang profesor kimia di UGM yang merembet pada tuduhan radikalisme di kampus umum, khususnya fakultas eksak, saya ingin sedikit berkomentar.

Pada dasarnya reaksi yang ada berlebihan. Jika memang profesor itu melakukan ujaran kebencian, tinggal diajukan saja ke meja hukum atau sidang etik yang ada. Tidak perlu merembet pada tuduhan adanya ancaman radikalisme yang seolah mengerikan di fakultas eksak, kampus umum.

Saya menggunakan istilah aktivisme Islam untuk menggambarkan dan menilai gerakan-gerakan keagamaan yang tumbuh subur di kalangan kampus umum terutama sejak tahun 1980-an. Ini adalah suatu gejala sosiologis yang terjadi di mana-mana, tidak hanya di Indonesia. Seja era itu, agama memang berusaha memperlihatkan vitalitasnya yang lebih terbuka di ruang publik.

Latar belakangnya sangat kompleks. Untuk kasus Indonesia, politik pemerintah saat itu yang sekuler dan represif justru melahirkan semangat perlawanan kaum muda terpelajar. Mereka menggunakan agama, dalam hal ini Islam, sebagai sarana, sebab hanya itulah yang tersedia. Saat itu, ideologi yang bisa dicerna oleh alam kesadaran kaum muda terpelajar di kampus umum adalah Islam. Meski demikian, dan ini twisted-nya, di era 1990-an, Islam malah diambil alih oleh penguasa Orde Baru untuk mempertahankan kekuasaannya.

Singkat kata, mulai tahun 1990-an hingga 2015-an, Islam dapat dikatakan mendominasi aktivisme gerakan mahasiswa di kampus umum. Islam yang saya maksud adalah Islam politik yang berakar pada tradisi kelompok-kelompok Muslim modernis. Berbagai rezim pemerintahan yang silih berganti selama periode itu cenderung bernegosiasi dengan gerakan ini.

Akan tetapi, dalam lima tahun terakhir terjadi serangan balik yang hampir mematikan arus aktivisme Islam di kampus umum tersebut. Selama hampir dua dekade mereka ternyata gagal membangun basis material yang kuat. Patron politik mereka, seperti PKS, semakin ke sini semakin terlihat mengalami disorientasi yang parah–bahkan pecah. Di sisi lain, HTI ternyata bisa dibubarkan secara mudah.

Tentu saja pengaruh para aktivisme Islam di kampus umum masih ada dan besar, tetapi signifikansi politiknya melemah. Oleh karena itu, sekarang mereka lebih bergiat di bidang dakwah–kembali ke khittah mereka di periode lebih awal, yaitu tahun 1970-an, zamannya Bang Imad (Salman ITB). Sebagian elitnya mulai menyadari bahwa kekuatan politik nasionalis sekuler masih sangat kuat dan menguasai banyak lini di negeri ini.

Oleh karena itu, bagi saya, orang seperti Prof. TW adalah orang-orang yang kalah, tetapi tidak tahu lagi cara melawan kecuali dengan menuliskan kata-kata kasar yang memalukan.

Oleh karena itu pula, terakhir, tidak perlu juga kita menuduh seolah-olah ada radikalisme yang sedemikian mengancam di kampus-kampus umum, khususnya di fakultas eksak. Tuduhan seperti ini kontraproduktif dan malah bisa mewariskan kebencian yang akan meledak di kemudian hari–jika waktunya tiba. (MMSM)

More

Leave a Reply

Your email address will not be published.