in ,

Agar Kebebasan Perempuan Tak Lagi Tersudutkan

Kini zaman persamaan. Pembedaan antara lelaki-perempuan hanyalah masa lalu. Benarkah? Setidaknya, tanpa mengumbar data pun, ada lima ranah yang secara kasatmata masih basah oleh diskriminasi:

pertama, dalam masyarakat kita, perempuan disubordinasi dalam pengambilan keputusan. Bahkan, kadang untuk urusan bersama. Akibatnya, mereka tidak dapat mengontrol apabila keputusan itu tidak menguntungkan atau malah merugikan mereka.

Kedua, perempuan tidak memiliki kesempatan seperti laki-laki dalam penguasaan sumber-sumber ekonomi dan politik, sehingga secara ekonomi terpinggirkan dan secara politik termarjinalkan. Tidak saja soal gaji, persoalan kesejahteraan yang lain seperti tunjangan, sering diperlakukan secara berbeda. Untuk mendapatkan jatah 30% saja di parlemen butuh perjuangan.

Ketiga, perempuan sering mendapat label negatif, misalnya penggoda, kanca wingking (berperan di sektor domestik), swarga nunut neraka katut, emosional dan kurang rasional, dan seterusnya.

Keempat, perempuan juga sering menjadi korban kekerasan baik di wilayah privat atau di wilayah publik seperti kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan seksual. Perlunya UU antikekerasan rumah tangga belakangan ini sungguh membuktikan betapa banyaknya fenomena ini.

Kelima, dalam keluarga, perempuan sering mempunyai beban pekerjaan yang jauh lebih berat dari laki-laki akan tetapi hasil kerja mereka sering kali tidak dihargai seperti pekerjaan laki-laki

Lalu mengapa pembedaan dan ketidakadilan ini terus saja didaur-ulang? Bahkan, sudah menjadi kebiasaan yang mengakar dan menjadi patokan. Ada banyak kacamata analisis untuk melihatnya. Tapi, yang saya tergelitik ketika kenyataan dan kebiasaan ini dilegalkan atas nama agama. Kepatuhan perempuan dianggap kesucian. Penomorduaan perempuan sudah titah Tuhan. Benarkah Tuhan memandang mereka sebagai makhluk nomor dua setelah laki-laki sehingga ketidakberdayaan perempuan perlu dimaklumi dan sudah kodrati dari Tuhan?

Antara Teks Otentik dan Penafsiran Relatif

Dengan merujuk pada surat al-Ahzab [33]:33 tak sedikit orang memandang bahwa tempat yang cocok bagi perempuan adalah di rumah, an-Nisa’ [4]: 34 laki-laki memiliki kekuasaan atas perempuan, al-Baqarah [2]:228 mengedepankan kelebihan laki-laki atas perempuan.

Dari segi hadis, mereka merujuk pada periwayatan Abu Bakrah: Telah kuperoleh keberuntungan dari Allah melalui sebuah kalimat yang saya dengar dari Rasulullah saw. pada hari-hari perang Jamal sesudah aku bergabung dengan Pasukan Jamal (Siti Aisyah) dan berperang bersama mereka. Katanya, tatkala berita sampai kepada Rasulullah saw. bahwa masyarakat Parsi menobatkan putri Kisra sebagai raj. Rasulullah pun bersabda, “Tidak akan berjaya masyarakat yang menyerahkan urusan (kepemimpinan)nya kepada wanita. (HR Bukhari, Ahmad, Nasa’i dan Turmudzi).

Bisakah ayat-ayat dan hadis di atas dijadikan keputusan mutlak untuk menjadikan perempuan terisolasi? Jika ayat-ayat tersebut dijadikan landasan, mungkinkah Tuhan memiliki sifat diskriminatif dengan membedakan hak manusia (laki-laki) atas manusia lain (perempuan)? Atau ini hanyalah penafsiran para mufasir dalam mereprentasikan teks Al-Quran?

Dalam agama apa pun, Tuhan diakui memiliki otoritas. Tapi, Tuhan tidak melaksanakan otoritasNya secara langsung, tapi diwakili oleh teks agama (wahyu). Sebagai teks, wahyu itu pun tak langsung bicara tanpa pembaca atau penafsirnya. Penafsirlah juru bicara otoritas Tuhan itu. Dengan kata lain, Tuhan berwenang (otoritatif) dan kewenangan-Nya diwakili oleh manusia—ulama, fakih, dan mufasir—yang tidak selalu bersih dari kesewenang-wenangan (otoriter).

Dan kenyataannya, sejarah tafsir adalah sejarah laki-laki. Buku tafsir yang ditulis perempuan sangat langka. Mengingat tidak pernah ada tafsir yang bebas dari subyektifitas penulis dan konstruksi budaya yang mengitarinya, maka kita patut curiga: Tuhan atau juru bicaranya yang bias jender dan sewenang-wenang?

Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki

Bukankah banyak ayat lain yang menegaskan adanya hak yang sama antara laki-laki dan perempuan? Lihat surah al-Hujurat [49]: 13 bahwa hamba yang paling ideal antara laki-laki dan perempuan adalah muttaqîn (orang bertakwa), an-Nahl [16]: 97 bahwa laki-laki perempuan mendapatkan kapasitas penghargaan yang sama sesuai pengabdiannya, al-An’am [6]: 165, al-Baqarah [2]:30 bahwa laki-laki dan perempuan merupakan khalifah di bumi, al-A’raf [7]: 172 bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai perjanjian primodial dengan Tuhan.

Pada masa Nabi Muhammad, perempuan mempunyai peranan aktif dalam berbagai kegiatan penting. Keikutsertaan mereka dalam delegasi Pembaitan Kaum Anshar pada Nabi, dengan berjanji akan melindungi dan membela Islam. Nabi juga sangat menghargai dan memperhatikan hak-hak mereka. Karena hak seksual, hak bercerai, hak mahar, dan hak waris saat itu sama sekali tidak diakui.

Jadi, dengan jelas bisa pastikan bahwa ketika seseorang mencari rujukan pada teks-teks keagamaan, bisa jadi penafsirannya adalah tafsiran mufassir yang relatif dan bukan maksud dari Al-Quran yang autentik. Oleh karena itu, menjadi hal yang sangat penting untuk terus menerus mengkaji ajaran agama agar senantiasa relevan dengan perkembangan zaman. Sebagaimana yang dilakukan oleh Roger Garaudy, filsof Islam dari Prancis dalam bukunya Integrismes menolak kekeliruan mematikan tentang Syari’ah sebagai hukum moral Ilahi yang abadi dan fiqih sebagai legislasi manusia yang dirancang untuk menjawab problema-problema setiap zaman yang dihadapi oleh makhluk Ilahi yang selalu memperbaharui diri. (Roger Garaudy:1993).

Hal itu menandakan bahwa, dalam menafsirkan sebuah teks keagamaan tidak ada dan tidak diizinkan untuk mengklaim memiliki kebenaran mutlak dalam penafsiran. Sehingga pemikiran seperti itu tidak terjebak pada sebuah pengakuan sebagai juru bicara yang Tuhan. Jangan sampai kita merasa yang paling benar dan menafikkan pandanngan yang lain. Padahal hal tersebut didapat menurut kapasitas dan kapabilitas dalam menjangkau makna sebuah teks keagamaan. Wallahu A’lam.

Ira D. Aini

Editor in chief of Iqra.id and activist of Pusat Studi Pesantren

What do you think?

789 points
Upvote Downvote

Written by buzz your story

sejarah-hari-ini-(7-juli-1977)-–-museum-bahari,-tempat-memamerkan-kemaritiman-indonesia

Sejarah Hari Ini (7 Juli 1977) – Museum Bahari, Tempat Memamerkan Kemaritiman Indonesia

al-syifa,-guru-perempuan-pertama-tulis-menulis-umat-islam

Al-Syifa, Guru Perempuan Pertama Tulis-Menulis Umat Islam