Adakah Planet Lain Di Luar Tata Surya Kita?

by -1 views

Adakah planet lain di luar tata surya kita? – Eli W., usia 8 tahun di Louisiana, Amerika Serikat (AS)

Hai Eli, manusia sudah mempertanyakan hal ini selama ribuan tahun.

Sejak era Yunani kuno, ahli matematika Metrodorus (400-350 SM) mencoba menjawabnya: Meyakini alam semesta dengan Bumi sebagai “satu-satunya dunia,” sama saja dengan mempercayai adanya “suatu ladang besar yang hanya memiliki setangkai tanaman.”

Menurutnya, hal ini tidak mungkin.

Sekitar 2.000 tahun kemudian, pada abad ke-16, filsuf Italia Giordano Bruno menyatakan hal serupa.

“Matahari dan bumi yang tak terhitung jumlahnya” pasti ada di tempat lain, katanya, dan semua “berputar mengeilingi mataharinya, dengan cara yang persis sama dengan planet-planet di sistem tata surya kita.”

Para ilmuwan sekarang mengetahui bahwa Metrodorus dan Bruno pada dasarnya benar. Saat ini, astronom seperti saya sedang mempelajari pertanyaan ini dengan cara-cara baru.

Sebuah planet di luar tata surya kita mengorbit suatu katai merah (red dwarf) – bintang yang lebih redup dari Matahari kita dan berukuran sekitar setengahnya. Mark Garlick/Science Photo Library via Getty Images “Eksoplanet” di luar tata surya kita Ada bukti yang menunjukkan keberadaan “eksoplanet.” Planet-planet ini mengorbit bintang lain – bukan matahari kita.

Bukti itu ditemukan oleh teleskop luar angkasa Kepler yang diluncurkan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada 2009.

Selama empat tahun, teleskop tersebut terus menerus mengawasi satu wilayah ruang angkasa di rasi Cygnus. Jika dilihat dari Bumi, maka wilayah tersebut hanya kurang dari 1% area langit yang kita pandang.

Ilustrasi teleskop luar angkasa Kepler NASA. NASA Images Bagaimana teleskop bekerja? Teleskop Kepler memiliki 42 kamera, mirip dengan jenis kamera smartphone yang kamu gunakan untuk mengambil gambar. Di suatu kawasan di ruang angkasa, teleskop ini mampu mengenali lebih dari 150 ribu bintang.

Setiap setengah jam, teleskop Kepler mengamati jumlah cahaya yang memancar dari setiap bintang. Nah, di Bumi, tim ilmuwan Kepler memeriksa datanya.

Untuk sebagian besar bintang, jumlah pancaran cahayanya hampir sama dari waktu ke waktu.

Tapi, selama beberapa jam, ada sekitar 3.000 bintang yang memiliki pancaran cahaya yang menurun sedikit demi sedikit. Penurunan kecerahan ini terjadi secara berkala, seperti jam yang berdetak.

Para astronom menyimpulkan, penurunan pancaran cahaya terjadi karena ada sebuah planet yang mengorbit bintangnya. Selama perputaran itu, sang planet secara berkala menghalangi sebagian cahaya yang ditangkap kamera Kepler.

Peristiwa ketika sebuah planet melintas di antara bintang dan teleskop ini dikenal sebagai transit.

Dan itu berarti, dalam satu titik ruang angkasa itu, teleskop Kepler menemukan 3.000 planet.

Video NASA: Animasi sebuah eksoplanet yang melewati bintangnya. Ini baru permulaan Meski angka 3.000 planet terdengar sangat banyak, pasti ada banyak planet lain di dalam area itu yang tidak terdeteksi. Sebab, orbit planet-planet itu tak pernah menghalangi cahaya yang terlihat oleh Kepler.

Lagi pula, orbit planet tidak semuanya sama; bentuk lintasanya acak dan sangat beragam.

Tetapi, dengan jumlah transit yang diamati oleh Kepler dan pengetahuan para astronom tentang geometri, kita dapat memperkirakan jumlah total eksoplanet di luar sana.

Sejauh ini, para ilmuwan berpandangan bahwa rata-rata setiap bintang memiliki setidaknya satu planet.

Penemuan ini telah mengubah ilmu astronomi dan pandangan kita tentang alam semesta.

Video NASA: Dunia Aneh dan Menakjubkan. 100 milyar bintang, 100 milyar planet Sebagai contoh, galaksi Bima Sakti memiliki setidaknya 100 miliar bintang. Hal itu berarti ada setidaknya 100 miliar planet di dalam galaksi ini.

Nah, alam semesta diperkirakan memuat sekitar 2 triliun galaksi – atau 2.000.000.000.000! Kemudian, setiap galaksi juga berisi puluhan atau bahkan ratusan miliar bintang.

Jadi jumlah planet di alam semesta sangat banyak. Jumlahnya kira-kira setara dengan butiran pasir di setiap pantai di Bumi kita.

Beberapa dari planet tersebut adalah gas raksasa, seperti Jupiter yang ada di tata surya kita. Lainnya sangat panas, seperti Venus. Planet lainnya mungkin berisi air atau berbentuk planet es. Dan beberapa seperti Bumi.

Tim Kepler bahkan telah memperhitungkan jumlah planet yang mirip dengan Bumi di “Zona Layak Huni” – kawasan di sekitar bintang-bintang yang memungkinkan suatu planet memiliki suhu yang cukup, serta air yang melimpah.

Hasilnya, ada sekitar 50% bintang mirip Matahari di galaksi Bima Sakti yang memiliki planet mirip Bumi di Zona Layak Huni mereka masing-masing.

Artinya, ada miliaran planet yang berpotensi layak huni – dan ini baru di galaksi kita saja.

Video NASA/JPL-Caltech: Apa itu “Zona Layak Huni”? Mungkinkah ada kehidupan di tempat lain? Meski belum ada cukup bukti, banyak ilmuwan – termasuk saya – yang berpikir bahwa tidak mungkin Bumi adalah satu-satunya planet yang memiliki kehidupan. Jika benar, maka hal itu akan sama mengejutkannya dengan perumpamaan “ladang besar yang berisi setangkai tanaman”.

Kapan kita akan bisa mendeteksi kehidupan di tempat lain? Apakah kehidupan tersebut juga memiliki kecerdasan? Akankah manusia menerima pesan dari peradaban lain?

Saat ini, ratusan ilmuwan di seluruh dunia berlomba-lomba menjawab pertanyaan tersebut.

Apakah kamu punya pertanyaan yang ingin ditanyakan ke ahli? Minta bantuan ke orang tua atau orang yang lebih dewasa untuk mengirim pertanyaanmu pada kami.

Ketika mengirimkan pertanyaan, pastikan kamu sudah memasukkan nama pendek, umur, dan kota tempat tinggal. Kamu bisa:

mengirimkan email ke redaksi@theconversation.com tweet ke kami @conversationIDN dengan tagar #curiouskids DM melalui Instagram @conversationIDN Rachel Noorajavi menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

Leave your vote

333 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *