9 Kiat Untuk Jurnalis Investigasi Perempuan – GIJN Indonesia

by -4 views
9-kiat-untuk-jurnalis-investigasi-perempuan-–-gijn-indonesia
Paparan para jurnalis investigasi perempuan dalam salah satu sesi panel di GIJC21 dirangkum dalam sebuah ideograf (gambar: Kata Máthé / Remarker)
Paparan para jurnalis investigasi perempuan dalam salah satu sesi panel di GIJC21 dirangkum dalam sebuah ideograf (gambar: Kata Máthé / Remarker)

Jurnalis investigasi perempuan kerap kali kesulitan dalam pekerjaannya. Hal tersebut muncul dalam sesi panel bertajuk “Women and Investigative Journalism: Tips on Leadership” di Global Investigative Journalism Conference ke-12 (#GIJC21).

Panel tersebut diisi oleh para editor berpengalaman dari berbagai lembaga. Mulai dari Bureau of Investigative Journalism (TBIJ) yang berbasis di Inggris, Wole Soyinka Centre for Investigative Journalism di Nigeria, The Reporter di Taiwan, Pulitzer Center di Amerika Serikat, hingga Arab Reporters for Investigative Journalism (ARIJ) yang berbasis di Yordania.

Berdasarkan pengalamannya selama beberapa dekade, para panelis menjabarkan kisah mereka meniti karir di tengah berbagai tantangan yang dihadapi perempuan di ruang redaksi. Mereka juga membagikan langkah-langkah advokasi jurnalis investigasi perempuan.

Berikut ini adalah sembilan kiat yang mereka bagikan untuk jurnalis investigasi perempuan. Anda juga bisa menonton rekaman video lengkapnya di sini.

  1. Jurnalis bukan “Lone Wolf

Rachel Oldroyd, redaktur pelaksana dan CEO TBIJ, mengatakan bahwa jurnalis investigasi kerap diibaratkan sebagai “serigala tunggal” yang menggali cerita sendirian. Pemahaman itu sudah ketinggalan zaman. Dia berpendapat bahwa ide ini mesti ditinggalkan dan fakta bahwa banyak perempuan bisa memegang peran penting dalam tim liputan mesti diterima secara terbuka. Hal ini dapat membawa keuntungan tersendiri, terutama dalam hal jurnalisme investigasi kolaboratif. “Kami cenderung lebih baik dalam berbagi, berkolaborasi, berjejaring, berempati, dan semua keterampilan ini sangat penting dalam jurnalisme investigasi,” katanya.

  1. Tidak semua karir berjalan linear

Marina Walker Guevara, Editor Eksekutif di Pulitzer Center, bekerja sebagai reporter senior di Argentina sebelum memutuskan pindah ke Amerika Serikat. Ketika itu, ia melepas jabatan tingginya untuk magang di International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). Langkah tersebut dianggap sebagai kemunduran oleh keluarga Marina. Namun, pertaruhan tersebut terbayar saat ia menjadi wakil direktur ICIJ. Marina menyarankan perempuan untuk menerima gagasan bahwa karir mereka tidak selalu dapat diprediksi. Riwayat kerja tidak selalu mengikuti garis lurus atau terus bergerak ke arah yang sama.

  1. Cari editor perempuan

Oldroyd mengingatkan jurnalis investigasi perempuan berjuang agar perspektif mereka didengar di ruang redaksi. Hal itu bisa dilakukan editor perempuan dengan menunjukkan pentingnya menceritakan kisah-kisah yang berpusat pada perempuan. Dahulu, hal ini tak banyak diangkat. Namun, banyak liputan internasional yang dirilis baru-baru ini, berpusat di sekitar perempuan. Beberapa di antaranya bahkan memenangkan penghargaan dan banyak dibaca oleh khalayak. Oldroyd mengatakan bahwa liputan pemenang penghargaan dapat menjadi model dan digunakan sebagai contoh oleh jurnalis untuk mengajukan liputan serupa.

  1. Gunakan Data

Motunrayo Alaka, direktur eksekutif dan CEO di Wole Soyinka Centre, mendorong wanita untuk menggunakan data untuk mencapai tujuan mereka. Ia telah melakukan penelitian mandiri tentang “maskulinitas ruang redaksi” dan menemukan bahwa di Nigeria ada dua wanita untuk setiap 10 pria di tingkat manajemen dan dua wanita untuk setiap tujuh pria di tingkat dewan. Temuan tersebut tidak hanya memungkinkannya untuk menantang manajemen, tetapi juga mengadvokasi agar medianya mempekerjakan lebih banyak perempuan untuk alasan etis dan ekonomi.

  1. Cari bantuan dan dukungan

Oldroyd menyarankan perempuan untuk meminta lebih banyak dukungan dan pengamanan di ruang redaksi jika dibutuhkan. Hal itu, terutama bisa dilakukan ketika menggarap liputan sensitif seperti investigasi “#MeToo” tentang kuasa pria dan kasus pelecehan. “Cerita yang berpusat pada perempuan seringkali sangat sulit dikerjakan dan membutuhkan dukungan tambahan. Pasalnya, Anda berbicara dengan sumber yang sangat rentan seperti korban pemerkosaan atau bagian dari gerakan #MeToo,” katanya. Liputan seperti ini, ia menambahkan, juga dapat menyebabkan trauma tidak langsung (vicarious trauma).

  1. Gaya manajemen yang autentik

Sherry Lee, pemimpin redaksi media asal Taiwan The Reporter, memperingatkan bahwa kata sifat merendahkan seperti “bossy” atau “emosional” biasa digunakan untuk menggambarkan pemimpin perempuan. Hal tersebut tak terjadi ketika posisi yang sama diisi oleh lelaki. Seorang rekan pernah mengatakan kepadanya: “Sherry, kamu bermain peran polisi jahat dengan sangat baik.” Pada awalnya, ia tidak tahu bagaimana harus merespons hal tersebut. Namun, ketika rekan lain menggunakan kata-kata yang sama, dia sadar kalau hal tersebut mesti diatasi. Sherry memberi tahu mereka bahwa sebagai ia mesti bertanggung jawab sebagai seorang pemimpin dan itulah yang dia lakukan. “Saya juga meminta mereka untuk tidak lagi menyebut saya seperti itu,” katanya. Lebih jauh, ia percaya bahwa setiap perempuan punya gaya manajemennya masing-masing. Hal tersebut mesti diterima tanpa prasangka di ruang redaksi.

  1. Terus beradaptasi

Walker Guevara dan direktur jenderal ARIJ Rawan Damen sepakat soal pentingnya fleksibilitas di tingkat personal agar mampu terus beradaptasi. Jurnalis tidak hanya harus selalu bisa berencana, tetapi juga mengubah arah ketika situasi menuntutnya. “Anda perlu banyak beradaptasi dan berencana,” kata Damen. Kedua hal tersebut, menurutnya, ibarat “dua sisi mata uang yang sama.”

  1. Waspadai burn out

“Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kelelahan pengaruh kelelahan terhadap perempuan lebih besar daripada pria,” kata Walker Guevara. Mungkin, hal ini menunjukkan perbedaan dalam cara lelaki dan perempuan dalam menetapkan prioritas. Dahulu, Marina memegang teguh pendapat bahwa “kegagalan bukanlah pilihan” dan mencetaknya di T-shirt. Tekanan semacam itulah yang pada akhirnya dapat menyebabkan kelelahan. Sekarang, dia telah menyadari pentingnya belajar mengatakan “tidak”, menetapkan batasan, dan mengomunikasikan batasan tersebut.

  1. Mengasuh generasi pemimpin berikutnya

Alaka mengatakan bahwa penting untuk tidak hanya mengadvokasi diri sendiri tetapi juga mendorong dan membimbing perempuan lain. Selain membuka lowongan untuk perempuan di posisi tertentu, dia juga mencari kandidat potensial jurnalis investigasi perempuan dengan menyimak berbagai liputan. “Semua perempuan menang ketika satu perempuan menang. Oleh sebab itu, Anda bisa memberi jalan bagi (perempuan) yang lain,” katanya. (Penyadur: Kholikul Alim)

Simak kiat dan presentasi lainnya dari berbagai sesi di GIJC21. Untuk isu ini, Anda juga bisa membaca artikel Women Investigative Journalists on Work and Life dari GIJC19 dan Resources for Women Journalists milik GIJN.

Artikel lainnya:


Amel Ghani adalah jurnalis yang berbasis di Pakistan. Dia meliput berbagai isu seperti kebangkitan partai politik berbasis agama, lingkungan, hak buruh, hingga hak teknologi dan digital. Dia adalah penerima beasiswa Fulbright dan memegang gelar Master dalam jurnalisme investigasi dari University of Columbia, Amerika Serikat.

Tulisan ini disadur dari 9 Leadership Tips for Women in Investigative Journalism yang dipublikasikan Global Investigative Journalism Network (GIJN). Untuk menerbitkan ulang tulisan ini, Anda bisa menghubungi alim.kholikul@gijn.org.

Leave a Reply

Your email address will not be published.