30.9 C
Jakarta
Tuesday, May 17, 2022

10 Kiat Menginvestigasi Pelayanan Kesehatan – GIJN Indonesia

Citizen Report10 Kiat Menginvestigasi Pelayanan Kesehatan - GIJN Indonesia
Ilustrasi pelayanan kesehatan (Gambar: Marcelle Louw)
Ilustrasi pelayanan kesehatan (Gambar: Marcelle Louw)

Pandemi COVID-19 telah menciptakan krisis pelayanan kesehatan. Para reporter berlomba-lomba meliput virus corona dan dampaknya terhadap kesehatan, kesejahteraan, dan ekonomi global. Mereka berusaha mengimbangi dan membantu kebutuhan khalayak untuk tetap mendapatkan informasi mengenai Covid-19 yang meningkat selama dua tahun belakangan.

panduan investigasi pelayanan kesehatan.
GIJN telah menerbitkan panduan investigasi pelayanan kesehatan.

Di tengah kondisi tersebut GIJN membuat panduan investigasi pelayanan kesehatan yang disusun Catherine Riva dan Serena Tinari. Keduanya adalah pendiri Re-Check.ch, organisasi nirlaba yang fokus menyelidiki dan memetakan urusan kesehatan. 

Panduan ini penting lantaran semakin banyak jurnalis yang melaporkan dampak pandemi global terhadap sistem kesehatan nasional. Jika Anda seorang jurnalis yang meliput pelayanan kesehatan, maka panduan ini bakal banyak membantu. Untuk mengunduh versi lengkap panduan berformat PDF, Anda bisa mengeklik tautan ini.

Penulis panduan ini menyebut : “Menyelidiki pelayanan kesehatan itu kompleks dan menantang. Ketika meliput sektor ini, Anda mesti membaca dokumen tebal dan mengenal jargon medis dengan baik. Angka dan statistik juga merupakan bagian penting. Sektor ini tak pernah kehabisan cerita untuk digarap melalui jurnalisme investigasi.”

Selain membaca panduan ini secara lengkap, Anda juga bisa menyimak rekaman Webinar kami yang bertajuk “How to Investigate Health and Medicine” dan “How to Investigate COVID Vaccines”. Sebagai pengantar panduan, berikut 10 kiat yang kami ambil dari panduan tersebut:

1. Waspada Terhadap Penyederhanaan Berlebihan

Tidak ada yang sederhana dalam pandemi global. Skeptis lah dengan informasi yang datang dari pihak industri atau pemerintah. Luangkan waktu untuk menilai bukti secara independen dan memeriksa silang informasi. Selalu ingat bahwa konflik kepentingan dan agenda kompleks banyak terjadi dalam pelayanan kesehatan. Satu hal lain yang juga penting diwaspadai adalah usaha membandingkan kondisi di beberapa negara. Hal ini bisa jadi sulit dilakukan lantaran perbedaan faktor pemengaruh di setiap negara yang bisa memainkan peran penting.

2. Hati-hati Dengan Pemodelan

Pemodelan COVID-19 banyak dilakukan di awal pandemi meskipun data yang tersedia masih terbatas. Lebih jauh, epidemi bersifat non-linier dan agak kacau. Hal itu membuat model yang dibuat sulit memprediksi apa yang akan terjadi.

3. Berpegang pada Bukti Ilmiah Terbaik yang Tersedia

Krisis global COVID-19 menghasilkan banyak penelitian yang diterbitkan dengan kecepatan sangat tinggi. Namun, sebagian besar studi tersebut tidak melalui proses tinjauan yang semestinya. Akibatnya, banyak dalam penelitian medis saat ini dan mungkin sulit bagi seorang jurnalis untuk memahaminya. Ketika melihat studi medis, standar emasnya adalah uji coba kontrol yang dilakukan secara acak. Mungkin, hal tersebut tidak selalu tersedia. Oleh sebab itu,  sadarilah keterbatasan studi yang diterbitkan.

Pandemi telah menyebabkan krisis pelayanan kesehatan (Gambar: Marcelle Louw)
Pandemi telah menyebabkan krisis pelayanan kesehatan (Gambar: Marcelle Louw)

4. Sediakan Konteks

Ingatlah bahwa angka hanya masuk akal apabila diberi konteks. Sebagai contoh, ketika menyebut bahwa statistik COVID-19 menunjukkan hal tidak biasa atau luar biasa, pastikan Anda mengetahui bentuk normalnya dalam konteks infeksi virus. Jangan lupa pertimbangkan potensi konsekuensinya bagi kesehatan pasien atau cara gejala biasanya ditangani di rumah sakit. Menyediakan konteks adalah satu-satunya cara untuk menilai apakah suatu fenomena benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya atau umum terjadi di dunia pelayanan kesehatan.

5. Gunakan Informasi Secara Bijak

Ada berbagai macam sumber yang dapat digunakan saat meliput pelayanan kesehatan: penyedia medis, regulator, penelitian percobaan, kelompok pasien, orang dalam industri farmasi, dan banyak lagi. Bicaralah dengan ahli dari berbagai latar belakang. Sebagai contoh, diskusikan COVID-19 dengan ahli epidemiologi penyakit menular dan ahli epidemiologi keamanan vaksin. Pasalnya, mereka memiliki keahlian khusus dalam penyebaran dan pengelolaan epidemi.

Hal yang perlu diingat: Kita cenderung percaya pada “para ahli”. Semakin panjang resume mereka, semakin banyak kredibilitas pernyataannya dikutip. Ingat lah bahwa banyak ahli ternama yang secara naluriah paling sering kita percayai, pada saat yang sama adalah konsultan untuk industri, pemerintah, dan organisasi internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia. Oleh sebab itu, selalu pertimbangkan adanya konflik kepentingan.

6. Jangan Terlena Pada Hal Sensasional

Kesalahan paling umum yang dilakukan wartawan adalah menarik kesimpulan yang salah dari bukti ilmiah yang lemah. Jangan lupa bahwa pesan-pesan media dan pemerintah berpengaruh secara emosional selama pandemi ini. Wartawan investigasi harus berusaha untuk tetap tenang dalam kondisi tersebut.

Waspadalah terhadap laporan media tentang klaim soal kesehatan. Hal itu bisa jadi cacat, seringkali tidak berdasarkan bukti, dan banyak bergantung pada siaran pers pemerintah dan industri. Pastikan untuk menilai klaim secara independen.

7. Pahami Proses Uji Klinis

Wartawan harus memahami berbagai aspek mengenai uji klinis. Waspadalah terhadap klaim data ilmiah yang dimuat dalam siaran pers dan bukan bersumber dari artikel jurnal akademik. Bantu audiens Anda memahami keterbatasan pengetahuan soal vaksin. Saat mencari basis data uji klinis, teliti desain penelitian, jumlah peserta uji coba, alasan untuk inklusi dan eksklusi, dan apakah hasilnya dipublikasikan. Ingat komentar yang Gary Schwitzer dalam panduan Covering Medical Research: “Tidak semua penelitian sama dan jangan melaporkannya seolah-olah tidak ada perbedaan di antara setiap penelitian.”

Penting memahami proses uji klinis saat menginvestigasi isu pelayanan kesehatan (Gambar: Pandemi telah menyebabkan krisis pelayanan kesehatan (Gambar: Marcelle Louw)
Penting memahami proses uji klinis saat menginvestigasi isu pelayanan kesehatan (Gambar: Pandemi telah menyebabkan krisis pelayanan kesehatan (Gambar: Marcelle Louw)

8. Pertanyakan Narasi “Orang Jahat”

Di bidang pelayanan kesehatan, Anda mungkin salah memetakan “pihak yang jahat”. Ketika sudah berpengalaman meliput isu ini, Anda akan menyadari bahwa pandangan yang mendikotomikan pihak baik dan jahat terlalu sederhana. Ketika investigasi benar-benar dilakukan, akan jelas bahwa banyak aktor yang posisinya ambigu. Mereka yang tampak berada di pihak pasien, mungkin memiliki agendanya sendiri, yang seringkali rumit.

9. Perhatikan Pemain Besar

Pengaruh industri farmasi telah menyebar dan pemasaran produk medis telah meroket. Pertanyaan soal seberapa besar obat bisa membantu dan obat apa yang mungkin memiliki dampak negatif, perlu diajukan. Pertanyakan semua hal, termasuk bukti yang dipublikasikan di jurnal medis.

Model bisnis yang digunakan oleh jurnal biomedis membuatnya bisa dipengaruhi oleh iklan. Beberapa jurnal melakukan “cetak ulang” studi yang telah diterbitkan dan disokong industri untuk tujuan pemasaran.

10. Identifikasi Keganjilan

Perhatikan baik-baik detail proses persetujuan obat atau vaksin tertentu. Periksa apakah standar telah dipenuhi dan sponsor di belakang proses persetujuan. Regulator mungkin mengizinkan perusahaan untuk menunjukkan kemanjuran obat berdasarkan parameter pengganti tertentu yang tidak didasarkan pada keefektifannya.

Periksa efek samping dan pertanyakan proses persetujuan. Terdapat satu kasus yang dirinci dalam panduan ini yang membongkar abainya regulator saat menyetujui pengunaan kemasan buah sebagai transvaginal mesh. Alat tersebut dipakai untuk pengobatan masalah ginekologi dan uroginekologi perempuan.

Panduan Lainnya:


Laura Dixon adalah associate editor GIJN dan jurnalis lepas dari Inggris. Ia meliput dari berbagai negara seperti Kolombia, Amerika Serikat, dan Meksiko. Karyanya dipublikasikan di The Times, The Washington Post, The Atlantic, dan sebagainya. Dia menerima beasiswa peliputan dari International Women’s Media Foundation and the Pulitzer Center.

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan oleh Global Investigative Journalism Network (GIJN) dan ditajuki Top 10 Tips for Investigating Health Care, from the Experts. Penyebarluasannya berada di bawah lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International.

Untuk menerbitkan ulang tulisan ini, Anda bisa menghubungi alim.kholikul@gijn.org.

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles