10 Fakta Tentang Kista Ovarium yang Wajib Kamu Tahu

by -0 views
10-fakta-tentang-kista-ovarium-yang-wajib-kamu-tahu

Banyak orang yang masih salah memahami tentang kista ovarium. Tak sedikit yang mengaitkan kista ovarium dengan kanker ovarium adalah penyakit yang sama, padahal tidak semua kista ovarium berpotensi menjadi ganas.

Ya, kebanyakan kista yang terdapat di ovarium tidak tergolong berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya meski tanpa penanganan medis. Namun, ada beberapa kista yang memicu rasa sakit dan gejala lainnya.

Nah, agar kamu tidak serta merta menyerap informasi yang beredar di media sosial maupun platform perpesanan, sebaiknya ketahui fakta tentang kista ovarium berikut ini!

a

Kista ovarium merupakan kantung cairan yang terdapat di dalam atau permukaan indung telur (ovarium). Ovarium adalah salah satu organ bagian dari sistem reproduksi perempuan, yang terletak di perut bagian bawah, tepatnya di kedua sisi rahim.

Normalnya, perempuan memiliki dua ovarium yang seukuran dengan kacang almond. Ovarium menghasilkan sel telur, serta hormon estrogen dan progesteron.

Kista yang terdapat di ovarium dapat terjadi karena beberapa faktor. Ukurannya berbeda-beda tergantung dari tingkat keparahan, bisa sekecil kacang polong, sebesar buah jeruk, atau lebih besar lagi. Namun, kebanyakan kista ovarium berukuran kecil dan tidak berbahaya.

Baca juga: 9 Manfaat Buah Cranberry, dari Bantu Atasi Infeksi sampai Cegah Kanker

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kista ovarium, sebaiknya simak fakta tentang kista ovarium berikut ini:

1. Kista ovarium cenderung tidak bergejala

a

Kista oviarium sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga sulit terdeteksi. Gejala kista ovarium akan muncul ketika kista telah berukuran besar atau pecah sehingga mengganggu fungsi ovarium.

Beberapa gejala yang akan dirasakan di antaranya:

–          Nyeri saat buang air kecil

–          Pusing

–          Sakit perut

–          Perut kembung

–          Mudah kenyang padahal makan sedikit

–          Nyeri panggul yang menyebar hingga ke punggung bawah dan paha

2. Tidak semua kista ovarium dapat berkembang menjai sel kanker

a

Perlu kamu ketahui bahwa tidak semua jenis kista dapat menjadi tumor kanker. Namun, risiko untuk memiliki kanker ovarium akan meningkat seiring dengan pertambahan usia. Hal ini karena kista ovarium dapat diatasi dengan mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada.

3. Kista ovarium disebabkan oleh masalah hormonal dan kehamilan

a

Kista ovarium dapat muncul akibat perubahan hormonal saat siklus haid. Selain itu, perempuan dengan endometriosis juga berisiko mengembangkan sejenis kista ovarium yang disebut endometrioma.

Kehamilan juga bisa menjadi titik awal tumbuhnya kista. Adanya sepasang kista yang muncul secara alami saat awal kehamilan menjadi pendukung janin hingga plasenta terbentuk. Kista akan bertahan hingga akhir kehamilan.

Infeksi panggul yang parah juga bisa menyebabkan kista ovarium. Infeksi menyebar ke ovarium dan tuba falopi, kemudian menyebabkan kista terbentuk.

Baca juga: 3 Tes untuk Mendeteksi Kanker Serviks yang Wajib Ibu Lakukan Pascamelahirkan

4. Terdapat dua jenis utama kista ovarium

a

Ada dua jenis utama kista ovarium, yakni:

1. Kista ovarium fungsional

Ini merupakan jenis kista yang paling umum dan tergolong tidak berbahaya. Kista ovarium fungsional akan menghilang dengan sendirinya, menyesuaikan dengan siklus menstruasi.

Terdapat dua jenis kista ovarium fungsional, yakni kista folikel yang merupakan jenis paling umum dan kista ovarium luteal yang apabila pecah bisa menyebabkan nyeri tiba-tiba dan perdarahan internal.

2. Kista ovarium patologis

Kista patologis terdiri dari dua jenis, yaitu kista demoid yang biasanya bersifat jinak dan tidak perlu diangkat melalui pembedahan serta kistadenoma yang biasanya melekat pada ovarium dan tumbuh cukup besar sehingga harus diangkat melalui pembedahan.

5. Meski sulit terdeteksi, kista ovarium tetap bisa dikenali dengan USG

Kista ovarium memang sulit terdeteksi karena minim gejala. Namun, kista masih bisa dideteksi melalui pemeriksaan dokter. Untuk memeriksa adanya kista, biasanya dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan fisik dan pemeriksaan berupa:

–          USG

Dengan USG, dokter akan melihat ukuran, bentuk, lokasi, dan meninjau apakah kista tersebut berisi jaringan padat atau cairan.

–          Biopsi

Biopsi dilakukan dengan cara mengambil sampel jaringan ovarium untuk kemudian diperiksa di laboratorium. Tujuan biopsi adalah untuk menentukan apakah kita membahayakan atau tidak.

–          Tes darah

Jika hasil laboratorium menunjukkan bahwa kista tersebut berpotensi ganas, dokter akan meminta pasien untuk tes darah. Dalam prosesnya, dokter akan melakukan pemeriksaan protein CA-125 guna mengetahui riwayat penyakit tertentu, seperti kanker ovarium, radang panggul, dan fibroid rahim pada pasien.

–          Laparoskopi

Tindakan ini dilakukan dengan cara memasukkan alat laparoskop, selang yang ujungnya dilengkapi dengan kamera dan lampu ke dalam tubuh. Dengan laparoskopi, dokter dapat melihat langsung rongga panggul dan organ-organ reproduksi untuk mendeteksi adanya kelainan.

6. Usia menjadi salah satu faktor risiko pemicu munculnya kista di ovarium

a

Kista ovarium memang dapat terjadi pada semua orang tanpa mengenal usia dan kelompok ras. Namun, kista ovarium nyatanya lebih banyak ditemukan pada pasien berusia 30 – 54 tahun dan perempuan yang memasuki masa menopause.

Baca juga: Gejala Menopause Dini dan Cara Mengatasinya Pada Wanita

7. Kista ovarium dapat diatasi dengan pengobatan sederhana

a

Kebanyakan kista ovarium tidak bersifat kanker sehingga tidak dibutuhkan terapi maupun penanganan medis. Biasanya, kista ovarium akan hilang dalam hitungan minggu, terlebih kista ovarium sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga tidak mengganggu aktivitas penderitanya.

Namun, jika kista ovarium terus muncul, biasanya dokter hanya akan memberikan obat kontrasepsi oral yang berfungsi untuk menurunkan risiko kambuhnya kista. Perlu diingat bahwa pemberian obat kontrasepsi tidak bisa mengecilkan ukuran kista.

8. Kista ovarium dapat menyebabkan torsi

a

Kista ovarium memang sering kali tidak menimbulkan masalah, tapi risiko komplikasi tetap ada. Kista ovarium berpotensi menyebabkan torsi. Batang ovarium bisa bengkok jika kista tumbuh di atasnya dan hal ini dapat menghalangi suplai darah ke kista sehingga mengakibatkan rasa sakit yang paarah di bagian perut bawah.

9. Kista ovarium pada ibu hamil tidak membahayakan janin

a

Pada kebanyakan kasus, kista ovarium tidak memengaruhi ibu hamil serta janin di dalam kandungan. Dokter pun akan terus memantau perkembangan kista dan janin guna memastikan kista ovarium tidak membahayakan.

Namun, jika ukuran tak kunjung menyusut dan justru semakin membesar sampai menghalangi leher rahim sebagai jalur lahir bayi, biasanya dokter akan melakukan pembedahan guna mengangkat kista tersebut.

10. Gaya hidup menjadi langkah utama dalam mencegah kista ovarium

a

Sebenarnya hingga saat ini, belum ad acara khusus yang sangat efektif dalam mencegah kista ovarium. Namun, kista dapat diminamlisir dengan mengusung gaya hidup sehat, mulai dari mengonsumsi makanan bergizi, mengelola stres, cukup tidur, dan menghindari alkohol serta rokok.

Itu dia sejumlah fakta tentang kista ovarium. Tak perlu khawatir jika kamu didiagnosa memiliki kista ovarium sebab dokter akan terus memantau perkembangan kista agar tidak semakin parah dan berkembang menjadi kanker ovarium. Dengan begitu, kista ovarium dapat ditangani dengan baik dan risiko komplikasinya pun lebih rendah.

Leave your vote

780 Points
Upvote Downvote

#SuaraNetizenIndonesia Rss Feed

Gravatar Image
Akun Otomatis dari #RSS feed News Aggregator Situs dan Blog Populer di Indonesia. Kami bukan penulis, kami adalah baris-baris kode yang menghimpun tulisan bermutu yang berserakan di jagat maya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *